Begini Cara Kotor Cambridge Analytica Menangkan Trump

0
496
Ilustrasi

Nusantara.news, London – Perusahaan konsultan politik – Cambridge Analytica – ini diduga terlibat dalam pemenangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J Trump dengan cara-cara kotor. Kini polisi Inggris sedang mengusahakan surat perintah dari pengadilan agar bisa mengakses database dan server yang digunakan Cambridge Analytica.

Perusahaan konsultan politik yang berbasis di London itu dituduh menggunakan data pribadi dari 50 juta akun Facebook tanpa sepengetahuan pemiliknya. Pembajakan akun Facebook itu bertujuan mempengaruhi pemilih dalam Pemilu Presiden AS pada 2016.

Dijebak Penyamar

Perilaku kotor Cambridge Analytica terbongkar dalam tayangan hasil liputan investigasi Channel 4 News yang diam-diam merekam jajaran eksekutifnya. Dalam pernyataan seorang eksekutifnya – Cambridge Analytica menawarkan pembunuhan karakter, suap dan cara-cara mendiskriditkan lawan politik. Namun perusahaan membantah tayangan investigasi itu.

Sebagaimana ditayangkan Channel 4 News pada Senin (19/3) kemarin, kamera tersembunyi merekam Direktur Eksekutif Cambridge Analytica Alexander Nix menyarankan taktik yang dapat digunakan perusahaannya untuk mendiskriditkan lawan politik secara online.

Reporter yang mengaku sedang ditugaskan klien memenangkan kandidat dari Sri Langka itu selanjutnya bertanya, “apa maksud penggalian mendalam?” Tanpa menyadari kalau dirinya sedang direkam Nix mengatakan, “Oh, kami melakukan lebih dari itu.”

Selanjutnya Nix menyarankan satu cara untuk mentarget seseorang adalah “menawarkan kesepakatan yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan dan memastikan video itu direkam”. Untuk itu dia bisa “mengirim beberapa gadis ke rumah kandidat … “ bahkan menambahkan bahwa gadis Ukraina “sangat cantik, saya merasa itu bekerja sangat baik”.

Tak lupa pula Nix menandaskan, “ Saya hanya memberi contoh Anda tentang apa yang bisa dilakukan dan apa yang telah dilakukan.”

Channel 4 News menjelaskan – reporternya telah bertindak sebagai pemecah masalah bagi klien kaya yang berharap mendapatkan kandidat politik yang akan dimenangkannya di Sri Langka.

Namun Cambridge Analytica dalam bantahannya menyebutkan reportase itu “terlalu salah mengartikan” percakapan yang terekam pada kamera. “Sesuai alur percakapan, dan sebagian untuk meluangkan ‘klien’ kami karena malu, kami menghibur dengan serangkaian scenario hipotetis yang menggelikan,” bantah Nix dalam sebuah pernyataan.

Nix juga menegaskan, “Cambridge Analytica tidak memaafkan atau terlibat dalam jebakan, sogokan atau yang disebut honey-traps”. Kepada program “Berita Malam” BBC Nix mengatakan laporan itu sebagai “keliru fakta” dan merasa perusahaan yang dikelolanya itu sengaja dijebak.

Pelanggaran Serius

Komisi Informasi Inggris Elizabeth Denham sudah menyelidiki Cambridge Analytica setelah adanya pengaduan tentang penggunaan data pribadi dari 50 juta anggota Facebook untuk mempengaruhi pemilih pada Pemilihan Presiden AS.

Tentang penggunaan data pribadi itu dibantah Christopher Wylie yang bekerja di perusahaan itu. Menurutnya data yang diributkan itu sah. Wylie mengklaim telah mengumpulkan data jutaan orang melalui kuis kepribadian di Facebook yang aplikasinya dibuat oleh seorang akademisi.

Denham sebenarnya sudah menuntut akses ke database dan server Cambridge Analytica pada pukul 18.00 waktu setempat. Namun hingga batas waktu yang sudah ditentukan perusahaan belum memenuhi permintaan Komisi Informasi.

“Saya tidak memperoleh tanggapan mereka. Karena itu saya akan mendatangi pengadilan untuk mendapatkan surat perintah pemeriksaan,” ucap Denham, sekaligus memaparkan pihaknya perlu ke sana. “Kita perlu melihat database, kita perlu melihat server dan mencari tahu bagaimana data diproses atau dihapus oleh Cambridge Analytica.”

Namun Cambridge Analytica tetap bersikeras mengikuti prosedur yang benar dalam memperoleh dan menggunakan data – namun datanya diblokir sementara oleh Facebook pada minggu lalu. Facebook beralasan sedang menyelidiki dengan mempekerjakan tim forensik digitalnya sendiri untuk mengaudit Cambridge Analytica.

“Ini bagian dari tinjauan internal dan eksternal komprehensif yang kami lakukan untuk menentukan keakuratan klaim bahwa data Facebook yang dimaksud masih ada,” jelas pengelola Facebook dalam pers rilisnya.

Jika data masih ada, ini akan menjadi pelanggaran serius terhadap kebijakan Facebook dan pelanggaran kepercayaan yang tidak dapat diterima dan komitmen yang dibuat oleh kelompok-kelompok ini.”

Facebook juga menambahkan, Aleksandr Kogan selaku pencipta aplikasi kuis kepribadian di mana data peserta diambil – juga telah mengatakan bersedia diaudit. Namun, kata Wylie, yang membuat klaim tentang bagaimana data dikumpulkan dan digunakan, telah dihapus.

Rentan Penyalahgunaan

Kenyataan di atas cukup menggambarkan, bagaimana cerita sensasional yang berisi tuduhan kebobrokan, manipulasi psikologis, dan penyalahgunaan data yang telah memicu respon dunia internasional yang sangat marah.

Perusahaan riset Facebook dan analisis data Apple menyebutkan Cambridge Analytica telah menjadi pusat perselisihan tentang pengunduhan dan penggunaan data pribadi – dan apakah ini digunakan untuk mempengaruhi hasil pemilihan presiden AS 2016 dan referendum Brexit di Inggris? Namun – baik Facebook maupun Apple – telah membantah melakukan kesalahan.

Penyalahgunaan data itu bermula tahun 2014 saat ada kuis di Facebook yang mengundang pengguna mengetahui bentuk kepribadian mereka. Aplikasi kuis ini dikembangkan oleh Aleksandr Kogan – akademisi dari Cambridge University. Toh demikian tidak ada hubungan antara Cambridge University dan Cambridge Analytica.

Seperti biasa dengan aplikasi game saat itu – dirancang untuk mengunduh bukan saja data peserta kuis melainkan juga data teman-temannya. Sejak itu Facebook membatasi jumlah pengembang untuk memasuki wilayah privacy penggunanya. Termasuk akan memberi tahu pemilik akun asli apabila akun Facebook miliknya dibuka lewat perangkat yang tidak biasa dia gunakan.

Christopher Wylie yang bekerja untuk Cambridge Analytica lewat Kuis Kepribadian tahun 2014 telah berhasil menjerat 270 ribu peserta. Dari 270 ribu peserta – data sekitar 50 juta pengguna terutama di AS – telah diunduh tanpa sepengetahuan pemiliknya melalui jaringan berantai teman-teman mereka.

Data itu yang dijual Christopher ke Cambridge Analytic – yang kemudian data itu digunakan untuk orang-orang yang secara psikologis memberikan pengaruh psikologis di media sosial untuk memenangkan Trump. Cambridge Analytica membantah semua itu digunakan sebagai bagian dari layanan yang diberikannya kepada Tim Kampanye Donald Trump.

Teknik pengumpulan data memang menggunakan infrastruktur Facebook saat itu – dan banyak pengembang lain memanfaatkannya – namun data datanya tidak diizinkan untuk dibagikan kepada orang lain. Persoalannya, peserta kuis kepribadian tidak tahu datanya disalahgunakan untuk kemenangan Trump.

Facebook yang tahu peraturannya dilanggar sudah menghapus aplikasi dan minta kepada pengembang menghapus informasi yang ada. Cambridge Analytica mengkalim tidak pernah menggunakan data itu – dan menghapusnya – saat Facebook menghubunginya.

Namun baik Facebook maupun Komisi Informasi Inggris ingin memastikan di database dan server milik Cambridge Analytica – apakah datanya sudah dihapus seperti yang disebut Wyllie atau masih disimpan.

Senator AS pun sudah minta Mark Zuckerberg – pengembang sekaligus pemilik Facebook – memberikan kesaksian di depan Kongres tentang bagaimana Facebook akan melindungi pengguna. Parlemen Eropa juga akan menyelidiki apakah data itu disalahgunakan. Juri Bicara Perdana Menteri Theresa May juga mengatakan prihatin atas kemungkinan itu.

Dengan kata lain – lewat piranti digital data pengguna media sosial memang rentan untuk disalah-gunakan. Dengan alasan banyak identitas palsu yang juga rawan menyalahgunakan media sosial untuk menyerang lawan dari balik kegelapan. Karena itu memang perlu diatur tentang perlindungan bagi pengguna sosial agar data pribadinya tidak bisa diunduh tanpa sepengetahuannya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here