Begini Cara Militer Myanmar Membantai 6.700 Warga Rohingya

0
196
Sekelompok pengungsi Rohingya, yang meninggalkan Myanmar dengan perahu malam lalu, berjalan menuju kamp sementara di Cox's Bazar, Bangladesh, Kamis (9/11). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohammad Ponir Hossain/djo/17

Nusantara.news, Chittagong – Tercatat sekitar 69 persen tewas ditembak, 9 persen dibakar hidup-hidup dan 5 persen dipukuli hingga tewas. Begitulah kejamnya tentara Myanmar terhadap warga muslim Rohingya sebagaimana dilaporkan Lembaga kemanusiaan Medecins Sans Frontieres (MSF) di kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh, Rabu (13/12) kemarin.

Angka itu, ujar relawan MSF, didapat dari pengakuan para pengungsi yang tiba di pengungsian. Semula dalam survei awal ditemukan jumlah sekitar 9000. Namun setelah dikroscek dengan berbagai sumber, tercatat paling sedikit 6700 warga muslim Rohingya yang terkatung-katung tanpa warga negara tewas dalam kurun antara 25 Agustus hingga 24 September 2017.

“Apa yang kami temukan sangat mengejutkan, baik dari segi jumlah orang yang melaporkan anggota keluarganya yang meninggal akibat kekerasan, dan cara-cara mengerikan yang mengakibatkan anggota keluarga mereka terbunuh atau luka parah,” singkap Direktur Medis MSF Sidney Wong kepada BBC.

Maka tidak mengherankan apabila Ketua Hak Azasi Manusia PBB menyebut kasus pembantaian warga muslim Rohingya sebagai “contoh buku teks tentang pembersihan etnis.” Bagaimana tidak kejam, desa-desa dibakar, ratusan ribu penduduk dikejar-kejar, dan sebagian dibunuh dengan cara-cara yang sangat kejam.

Kala itu militer Myanmar berdalih mengejar kelompok ekstrimis ARSA yang sebelumnya menyerang sekitar 30 pos polisi dan keamanan di Rakhine Barat. Akibat pengejaran itu, ungkap juru bicara militer Myanmar, tercatat 400 orang tewas. Angka itu jauh lebih sedikit ketimbang temuan MSF dan tidak semua yang tewas adalah teroris, Banyak di antara mereka adalah perempuan dan sekitar 730 anak-anak.

Mahkamah Pidana Internasional

Dengan banyaknya laporan secara detail, baik oleh para jurnalis maupun wawancara langsung dengan pengungsi, sulit kiranya dibantah tentang adanya kejahatan kemanusiaan yang mengerikan yang diduga dilakukan oleh militer Myanmar.

Hanya saja, ada juga satu dua cerita dari pengungsi yang tidak benar. Karena setelah dikroscek dengan pengungsi yang satu desa ceritanya simpang siur. Data itu lemah dan tidak digunakan. Sebut saja misal pembantaian di satu desa bernama Tula Toli. Sejumlah Rohingya yang diwawancarai mengatakan takut akan kekerasan, tapi tidak mengalami kekerasan itu sendiri.

Namun pada umumnya, MSF menemukan sejumlah fakta yang menyimpulkan operasi yang dilakukan oleh militer cukup brutal. Oleh karenanya ada gagasan mengajukan dugaan adanya kejahatan kemanusiaan ini ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC/International Criminal Court) di Den Haag, Belanda.

Hanya saja ada satu persoalan mengganjal. Selama ini Myanmar belum pernah menanda-tangani Statuta Roma tentang ICC yang beranggotakan 124 negara. Maka pemerintah Myanmar tidak bisa dituntut bekerja-sama untuk perjanjian yang tidak mengikatnya.

Bisa saja diajukan ke PBB tapi syaratnya harus mendapatkan persetujuan dari ke-5 anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Di antara anggota tetap DK PBB ada China yang selama ini mendukung penuh pemerintah Myanmar.

Penghargaan Suu Kyi Dicabut

Karena dianggap tutup mata terhadap perilaku militer Myanmar yang mestinya bisa dia kendalikan selaku pemimpin de facto Myanmar, anggota Dewan Kota Dublin memutuskan menarik lagi penghargaan Freedom of Dublin City yang dulu mereka anugerahkan kepada pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi.

Langkah Dewan Kota Dublin itu diambil setelah sebelumnya, sekitar satu bulan lalu, musisi pop Bob Geldof yang sukses menggalang dana untuk korban kelaparan Afrika pada 1980-an mengembalikan penghargaan Freedom of Dublin City, dengan alasan penghargaan yang sama pernah diberikan kepada Aung San Suu Kyi

Sebelumnya, bulan lalu musisi pop Bob Geldof menyerahkan kembali penghargaan Freedom of Dublin yang pernah diterimanya. Hal itu dilakukannya sebagai protes terkait sesama penerima penghargaan itu, Aung San Suu Kyi ihwal kebijakannya terhadap suku Rohingya Muslim Myanmar.

Pencabutan itu dilakukan secara demokratis melalui pemungutan suara di antara anggota Dewan Kota Dublin. Hasilnya, 59 suara mendukung pencabutan penghargaan, 2 menentang dan 1 orang abstain. Dewan Kota Dublin juga memutuskan menghapus nama Bob Geldof dari daftar penerima penghargaan setelah musisi itu mengembalikan penghargaan yang pernah diterimanya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here