Begini Dahsyatnya Bom Hidrogen

0
336
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memberi pengarahan mengenai program senjata nuklir dalam foto tanpa tanggal yang dirilis Kantor Berita KCNA di Pyongyang, Minggu (3/9). ANTARA FOTO/KCNA via REUTERS

Nusantara.news – Korea Utara mengklaim telah berhasil melakukan uji coba bom hidrogen pada hari Minggu (3/9) lalu. Negara itu mengumumkan keberhasilannya tersebut melalui siaran televisi pemerintah dan menyatakan bom hidrogen dimaksudkan untuk disematkan pada rudal balistik antar benua (ICBM) yang konon, juga telah berhasil mereka uji cobakan.

“Pemimpin tertinggi Korea Utara menandatangani perintah untuk menguji bom hidrogen yang dipasang pada ICBM dan oleh karena itu Korea Utara telah menguji sebuah bom hidrogen pada siang hari pada tanggal 3 September (waktu Korea Utara) dan berhasil total,” kata seorang penyiar wanita di televisi KCNA, sebagaimana terjemahan NBC News.

Benar atau tidak klaim negeri tertutup Korea Utara itu tentang bom hidrogen—karena sejauh ini tidak mudah dikonfirmasi, kecuali melalui deteksi gejala-gejala seperti getaran gempa hingga 6 SR di lokasi yang diduga tempat penguji-cobaan dengan alat pengukur milik negara-negara sekitar, seperti Cina dan Korea Selatan—namun yang jelas kemajuan program senjata nuklir Korea Utara cukup membuat banyak negara khawatir, khususnya Amerika.

Bisa dibayangkan, jika Korea Utara di bawah rezim Kim Jong Un benar telah berhasil mengembangkan bom hidrogen, apa yang bisa dilakukan dunia untuk mencegah pemimpin diktator itu menggunakannya. Cina saja sebagai saudara dekat dan sekutu utama dalam perekonomian Korea Utara, tampak sudah tidak digubris lagi, meski telah berkali-kali mengingat Kim Jong-un agar menahan diri sehingga tidak terulang kembali perang di semenanjung Korea.

Bom hidrogen jauh lebih dahsyat ketimbang bom atom

Jenis bom hidrogen (Bom-H) terbaru yang diuji Korea Utara jauh lebih dahsyat daya ledaknya ketimbang bom yang diuji sebanyak lima kali sebelumnya, atau bahkan lebih dahsyat ketibang bom atom yang turun di Jepang selama Perang Dunia II. Bom-H juga lebih sulit dikembangkan ketimbang bom atom.

Kantor berita resmi Korea Utara KCNA mengumumkan bahwa uji coba bom-H mencapai kesuksesan yang sempurna, dengan daya ledak lebih besar ketimbang uji coba sebelumnya, “dan tanpa dampak yang buruk terhadap lingkungan,” demikian tulis KCNA.

“Bom itu, dengan kekuatan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya, menandai peristiwa yang sangat penting yang mengarah pada tujuan akhir (Korea Utara) untuk menjadi negara nuklir,” terang surat kabar resmi pemerintah Korea Utara itu.

Sebuah yayasan penelitian geosains yang berbasis di Norwegia, Norsar, yang selama ini bekerja untuk memverifikasi kepatuhan terhadap Traktat Pelarangan Uji Coba Komprehensif, sebagaimana dikutip CNBC menjelaskan, uji coba nuklir bawah tanah pada hari Minggu oleh rezim Korea Utara diperkirakan menghasilkan ledakan 120 kiloton. Bandingkan dengan hasil perkiraan terhadap bom nuklir yang jatuh di Hirosima pada 1945 dengan kekuatan 15 kiloton.

Perbandingan pembacaan seismik masing-masing uji coba nuklir Korea Utara oleh Norsar (sumber: Norsar)

Sementara itu, ketua komisi pertahanan di parlemen Korea Selatan, Kim Young-woo, mengutip  laporan otoritas militer, mengatakan bahwa kekuatannya diperkirakan mencapai hingga 100 kiloton, atau sekitar empat hingga lima kali ukuran bom yang jatuh di Nagasaki, Jepang.

Badan meteorologi Jepang mengatakan, getaran setidaknya sepuluh kali lebih besar dari uji coba Korea Utara yang dilakukan sebelum-sebelumnya, atau pada bulan September tahun lalu, demikian Reuters melaporkan.

Lalu apa perbedaan antara bom hidrogen dan atom, selain sama-sama mematikan dan memiliki dampak buruk bagi kehidupan manusia dalam rentang waktu tertentu?

Media yang banyak mengulas masalah teknologi, dw.com menuliskan, bom H atau bernama lain bom termonuklir pernah dikembangkan oleh Amerika Serikat, dan pertama diujicobakan di sebuah pulau bernama Elugelab, tahun 1952. Efek bom menghancurkan pulau tersebut dan hanya meninggalkan sebuah kawah bawah air yang besar pada lokasi di mana pulau itu dulu berada.

Perbedaan mendasar antara bom H dan bom atom ada pada proses peledakannya. Untuk bom atom, seperti yang pernah dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima, kekuatan eksplosifnya merupakan hasil dari pelepasan energi yang tiba-tiba saat membelah inti unsur berat, seperti plutonium. Proses ini dikenal dengan istilah “fisi”.

Bertahun-tahun setelah bom atom pertama dikembangkan di New Mexico, AS mengembangkan senjata yang tetap mengandalkan teknologi bom atom namun memperluas proses peledakannya agar menciptakan ledakan yang lebih kuat. Senjata ini disebut bom termonuklir.

Proses peledakan termonuklir atau hidrogen terdiri dari beberapa bagian, dimulai dengan peledakan bom atom. Ledakan pertama menciptakan suhu jutaan derajat, memberikan energi yang cukup untuk memaksa dua inti cahaya cukup dekat untuk digabungkan dalam tahap kedua yang dikenal sebagai “fusi”.

Jika dilihat dari bentuknya, menurut para ahli, bom terbaru Korea Utara memang menunjukkan perbedaan yang nyata dari yang dibuat sebelumnya, yaitu menunjukkan perangkat bilik yang menunjukkan bom hidrogen dengan dua tahap ledakan.

“Gambar-gambar (yang tersebar) menunjukkan bentuk dari bom hidrogen yang mungkin, dengan bom fisi utama dan tahap fusi sekunder dihubungkan bersama dalam bentuk jam pasir,” kata Lee Choon-geun, peneliti senior di Institut Kebijakan Sains dan Teknologi yang dikelola negara Korea Selatan.

Perbedaan mencolok lainnya, bom H atau termonuklir daya ledaknya bisa ratusan hingga ribuan kali lebih kuat daripada bom atom. Oleh karena itu, kekuatan ledakan bom atom biasanya  diukur dalam kiloton, atau seribu ton TNT, sementara bom H atau termonuklir umumnya diukur dengan megaton atau satu juta ton TNT.

Sementara itu, para periset di Universitas Sains dan Teknologi China di Hefei, provinsi Anhui, mengatakan mereka meyakini uji coba tersebut di lakukan dari bawah gunung Punggye-ri. Keyakinan tersebut setelah mereka mengukur dan menganalisis gelombang kejut yang disebabkan oleh ledakan serta ditangkap oleh stasiun gempa di Cina dan negara-negara tetangga.

Wen Lianxing, ahli geofisika yang juga ketua riset mengatakan, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh lebih dari 100 pusat pemantauan gempa di Cina, margin of error tidak lebih dari 100 meter.

Tim riset Wen memperkirakan, energi yang dikeluarkan dalam tes terakhir adalah sekitar 108,3 kiloton TNT, atau 7,8 kali jumlah yang dikeluarkan oleh bom atom yang dijatuhkan oleh AS di kota Hiroshima di Jepang tahun 1945.

Wang Naiyan, mantan ketua Masyarakat Nuklir Cina mengatakan, jika temuan Wen benar dan dapat diandalkan, maka ada risiko bencana lingkungan yang besar.

“Bom 100 kiloton adalah bom yang relatif besar. Pemerintah Korea Utara harus menghentikan uji coba karena menimbulkan ancaman besar tidak hanya bagi Korea Utara tapi juga bagi negara lain, terutama Ciina,” kata Wang. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here