Begini Hebohnya Persiapan Warga Jepang Hadapi Kemungkinan Perang Korea

0
616
Foto: AFP/Getty Images

Nusantara.news, Tokyo – Selain Korea Selatan, Jepang termasuk salah satu negara di kawasan Semenanjung Korea yang bakal terdampak perang Korea. Selain wilayah yang mudah dijangkau rudal-rudal balistik Korea Utara, Jepang juga merupakan sekutu AS yang saat ini dianggap mengancam oleh rezim Korea Utara.

Jepang termasuk satu-satunya negara yang memiliki pengalaman sekaligus trauma dengan senjata nuklir. Pada Perang Dunia II (1945) dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, pernah dijatuhi bom nuklir atau yang dikenal dengan bom atom oleh negara yang sekarang menjadi sekutu utamanya, Amerika Serikat.

Bagaimana warga masyarakat dan pemerintah Jepang mempersiapkan kemungkinan terjadinya perang Korea? Mengingat, situasi di kawasan tersebut yang kian hari kian memanas. Apalagi Korea Utara sudah mengancam akan menggunakan senjata nuklir.

Sebagaimana dilaporkan The Washington Post (26/4) pemerintah Jepang sudah memperingatkan warganya bahwa mereka hanya memiliki sedikit waktu, atau sekitar 10 menit, untuk menyelamatkan diri dari rudal balistik yang dilontarkan Korea Utara.

Minggu ini, kantor Perdana Menteri Jepang juga sudah mengeluarkan sebuah panduan terbaru tentang “cara melindungi diri” dari serangan rudal Korea Utara.

Seperti diketahui sebelumnya, tiga dari empat rudal balistik yang diluncurkan Korea Utara pada 6 Maret lalu  jatuh di dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) Jepang yang berada di kawasan Laut Jepang, sebuah perairan yang memisahkan antara Jepang dan Semenanjung Korea.

Korea Utara berdalih bahwa mereka tengah berlatih untuk memukul pangkalan militer AS yang berada di Jepang.

Pada tahun 1998, Korea Utara juga pernah menembakkan rudal Taepodong 1, dimana seolah-olah sedang melakukan uji coba meluncurkan satelit di atas wilayah Jepang dan memasuki ZEE Jepang di sisi Samudera Pasifik.

Warga Jepang tampaknya mulai panik dengan situasi yang memanas di Semenanjung Korea. Apalagi AS satu per satu sudah mengirimkan armada perang ke Semenanjung Korea. Tak mau kalah, Korea Utara juga unjuk gigi dengan melakukan latihan gabungan artileri skala besar memperingati hari kelahiran tentara di negara itu. Latihan dilakukan sangat mencolok, sehingga tampak seperti jawaban bahwa Korea Utara siap untuk menyerang maupun diserang.

Situs resmi departemen pertahanan Jepang telah dikunjungi sekitar 5,7 juta pengunjung selama 23 hari di bulan April ini, jika dibandingkan dengan lalu lintas bulanan yang hanya kurang dari 400 ribu klik, jumlah kunjungan ini melonjak sangat tajam. Dalam kolom komentar, warga Jepang banyak menanyakan tentang, “berapa menit kira-kira rudal Korea Utara bisa mencapai Jepang?” menunjukkan kekhawatiran mereka yang dalam.

Departemen pertahanan menjawab, “Ketika sebuah rudal diluncurkan dari Korea Utara, tidak akan lama lagi sampai ke Jepang.”

“Sebagai contoh, rudal balistik yang diluncurkan dari (Korea Utara) pada 7 Februari tahun lalu, hanya butuh waktu 10 menit bisa mencapai langit Okinawa,” tambahnya.

Pemerintah Pusat berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah

Pemerintah pusat Jepang telah melakukan koordinasi dengan pemerintah-pemerintah daerah untuk menginstruksikan apa yang harus mereka lakukan merespons serangan rudal balistik Korea Utara apabila menyerang wilayah mereka. Pertemuan ini belum terjadi sebelumnya di Jepang pasca-Perang Dunia berakhir.

Surat kabar Jepang, Asahi Shimbun melaporkan bahwa hal ini menandai pertama kalinya pemerintah Jepang mengambil langkah untuk menginstruksikan penduduknya tentang bagaimana mempersiapkan serangan dari musuh.

Di wilayah Yamagata yang dekat dengan Laut Jepang, rencana sedang dilakukan untuk mengadakan latihan evakuasi sesegera mungkin.

Di wilayah Akita di utara, Gubernur Norihisa Satake menginstruksikan departemen penanggulangan bencana untuk tetap waspada setiap jam pada bulan ini.

Sementara di wilayah selatan, tepatnya di Fukui, pemerintah daerah setempat meminta para stafnya untuk tetap waspada akan serangan dari Korea Utara. Seperti Fukui mengimbau warganya agar menyelamatkan diri ke sebuah bangunan besar atau area perbelanjaan bawah tanah jika mereka sedang berada di luar, kemudian berbaring di bawah sebuah pelindung, serta menjauh dari jendela jika berada di dalam ruangan.

Jepang memang memiliki sistem yang disebut “J-Alert” yang telah dirancang untuk menyiarkan informasi tentang serangan rudal yang akan segera terjadi kepada petugas penanggulangan bencana di tingkat lokal.

Sebagaimana dijelaskan The Japan Times, alur sistem tersebut adalah: pemerintah daerah akan menyampaikan peringatan melalui sistem loudspeaker luar ruangan, saluran siaran darurat di TV kabel, dan siaran radio FM serta peringatan melalui ponsel.

Jika seseorang berada di luar saat ada peringatan atau pemberitahuan, imbauan pemerintah adalah tetap bergerak dengan ke bangunan beton terkuat yang dapat ditemukan dengan cepat, atau pergi ke lorong-lorong bangunan bawah tanah jika memungkinkan. Bagi yang ada di rumah disarankan berada di posisi bawah atau lantai dan berlindung di bawah meja serta menjauh dari jendela kaca.

Namun demikian, Walikota Osaka Hirofumi Yoshimura mengatakan bahwa sebetulnya hampir tidak ada waktu untuk menyelamatkan diri dari rudal Korea Utara.

“Sebuah rudal mungkin saja tidak terdeteksi begitu meninggalkan landasan peluncuran, dan itu bisa memakan waktu hanya beberapa menit saja,” kata Yoshimura.

“Peringatan dan alarm mungkin hanya terdengar empat atau lima menit sebelum rudal tiba,” tambahnya.

Sementara itu, sebagaimana laporan Reuters (26/4) pemesanan bungker perlindungan dari nuklir serta pemurni udara penyekat radiasi di Jepang sudah melonjak belakangan ini.

Pintu masuk model ruangan tempat berlindung dari nuklir milik Shelter Co, yang berada di ruang bawah tanah rumah CEO perusahaan Seiichiro Nishimoto, di Osaka, Jepang, Rabu (26/4). ANTARA FOTO/REUTERS

Sebuah perusahaan kecil yang mengkhususkan diri dalam membangun bungker perlindungan  nuklir, pada umumnya yang ditempatkan di bawah rumah penduduk, telah menerima sebanyak delapan pesanan pada bulan April saja, dibandingkan dengan enam pesanan dalam setahun pada hari-hari biasanya.

Di Jepang sendiri respons pemerintah Jepang yang cenderung pasif dan lebih mengandalkan sekutunya AS, dalam merespons ancaman Korea Utara, menjadi perdebatan di kalangan politisi berpengaruh di negeri itu. Menurut mereka, Jepang seharusnya lebih aktif lagi membangun kekuatan untuk menyerang Korea Utara ketimbang hanya mengandalkan AS sebagai pembelanya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here