Energi Ekonomi Reuni Akbar PA 212 (2)

Begini Hitung-Hitungan Perputaran Uang Gerakan 212

1
283
Dari kocek peserta reuni akbar PA 212 yang mandiri ternyata dapat menggerakkan ekonomi yang sangat dahsyat.

Nusantara.news, Jakarta – Reuni Akbar Persatuan Alumni (PA) 212 baru saja usai. Warga muslim dan non muslim yang hadir dalam perhelatan akbar itu cukup fantastik, tentu jumlah manusia yang banyak itu membawa berkah di sektor ekonomi. Apa saja berkah ekonomi yang menetes dari energi 212?

Dampak ekonomi

Tentu saja energi gerakan PA 212 yang melibatkan jutaan manusia ini sangat besar jika ditengok dari sisi perekonomian. Paling tidak ada lima dampak ekonomi yang dahsyat dan melibatkan pelaku ekonomi UMKM hingga korporat.

Pertama, jika menggunakan data IMEI di TKP yakni sebanyak 13,4 juta bisa dibayangkan berapa jumlah sms, wa, pengiriman gambar dan video. Jika satu pemilik hp mengkonsumsi traffik komunikasi sebesar Rp100.000 maka dibidang telekomunikasi saja ada transaksi Rp1,34 triliun.

Kedua, menurut Panitia Maulid dan Reuni PA 212, carteran bus, mobil pribadi, tiket kereta dan tiket pesawat. Jika 50% dari peserta reuni akbar PA 212 menggunakan bus, maka ada sebanyak 223.333 bus yang dicarter. Jika satu bus standar sewa seputar Jakarta Rp2,3 juta, maka ada perputaran uang menyewa bus sebesar Rp513,67 miliar.

Sementara jumlah mobil pribadi yang hadir di reuni akbar PA 212 mencapai 1,5 juta. Jika harga bahan bakar untuk mencapai TKP sebesar Rp100.000 maka perputaran dana di mobil pribadi mencapai Rp150 miliar.

Tiket kereta Jabodetabek yang terjual sepanjang reuni akbar 212 mencapai 3,4 juta, dikalikan harga tiket Rp3.000, maka kue ekonomi kereta api mencapai Rp10,2 miliar. Sementara tiket jarak jauh yang terjual 560 ribu tiket dengan rerata harga Rp100.000, maka didapat Rp56 miliar.

Belum lagi ada sebanyak 450.000 tiket pesawat yang terjual. Jika satu tiket seharga Rp1 juta, maka dari transportasi udara ada perputaran uang sebesar Rp450 miliar.

Ketiga, potensi ekonomi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di seputar Monas luar biasa. Para pedagang mengaku omzet penjualan kuliner, aksesoris, dan atribut naik 10 hingga 15 kali. Mereka yang biasa sehari-hari daganganya laku Rp500 ribu hingga Rp1 juta, pada hari itu melonjak Rp5 juta hingga Rp15 juta.

Paling tidak ada 75 ribu UMKM setempat dan pendatang yang ikut serta menjajakan dagangannya di seputar Monas. Diperkirakan omzet mereka antara Rp375 miliar hingga Rp1,125 triliun.

Keempat, makanan sumbangan dari ibu-ibu pengajian, bapak-bapak yang simpati sebagai logistik makanan dan minuman gratis buat peserta PA 212. Jika peserta 13,4 juta, katakanlah yang menikmati makanan dan minuman berupa nasi kebuli, nasi uduk, bubur ayam, lontong padang, roti, buras, teh manis, kopi, air mineral, hanya separohnya atau 6,7 juta, dengan asumsi masing-masing memakan dan minum setara Rp25 ribu, maka ekonomi yang berputar di sini mencpaai Rp167,5 miliar.

Kelima, efek lanjutan gerakan 212 pada 2016 tentu saja sudah menjelama menjadi Koperasi Syariah 212 dengan outlet-outlet ritel modern 212 Mart yang tersebar di 210 titik di tanah air. Jika satu outlet dibutuhkan modal sebesar Rp570 juta, maka dana ummat peserta 212 yang terakumulasi sudah mencapai Rp119,7 miliar. Belum lagi yang terkumpul di KS 212 sebesar Rp22 miliar dari 26.000 anggota.

Dengan demikian total dana yang terlibat dalam keseluruhan aktivitas ekonomi pada perhelatan akbar 212 sedikitnya mencapai Rp3,94 triliun. Ini belum memperhtitungkan jumlah zakat, infaq, dan shodaqoh yang terkumpul dalam acara tersebut.

Tentu saja angka Rp3,94 triliun buat pribadi-pribadi yang hadir pada acara reuni akbar PA 212 itu sudah sangat besar. Itupun tidak dikelola secara serius, terpusat dan fokus, semua berjalan begitu saja.

Alangkah besarnya jumlah manfaat ekonomi yang terjadi terjadi pada acara tersebut, tinggal bagaimana ke depan angka-angka itu dikelola dengan baik dan dimanfaatkan secara lebih maksimal.

Namun kalau mau jujur, jika dibandingkan dengan penjualan rokok dalam 1 hari yakni mencapai Rp3,90 triliun, maka hampir sama dengan efek ekonomi reuni akbar 212 lalu.

Seperti diketahui omzet penjualan rokok sepanjang Januari-Oktober 2018 mencapai Rp1.425,28 triliun. Angka tersebut jika dibagi 365 hari, maka ketemu angka Rp4,90 triliun. Namun perhitungan itu masih kurang dua bulan, kalau genap 365 hari sepanjang 2018, maka total penjualan rokok per hari bisa mencapai Rp4,55 triliun.

Artinya, animo orang mengkonsumsi rokok jauh lebih besar dibandingkan animo membelanjakan uang pada kegiatan ekonomi 212. Ini merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapi. Tahun depan, dan tahun-tahun selanjutnya, bisa saja jumlah peserta 212 bisa lebih besar dengan dampak ekonomi yang juga lebih besar.

Kalau sekarang masih kalah dengan para konsumen rokok, maka itu sebuah tantangan yang harus dihadapi.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here