Beginilah Cara China dan Korsel Antisipasi Perang Korea

1
233
Ilustrasi

Nusantara.news, Jakarta – Kapal-kapal perang Amerika Serikat (AS) sudah merapat di perairan Jepang mengepung Korea Utara. Negosiasi antara pemerintah AS dan Korea Utara (Korut) tampaknya deadlock.

Untuk itu pensiunan Jenderal China Letnan Jenderal Wang Hongguang mengingatkan, perang di Semenanjung Korea akan pecah kapan saja antara sekarang ini hingga Maret 2018 nanti. Negaranya pun harus segera memobilisasi pertahanan untuk mengantisipasinya.

“Perang di Semenanjung Korea akan pecah kapan saja antara saat ini hingga Maret tahun depan,” ungkap Wang kepada surat kabar harian Cina, Global Times, yang dikutip Independent.co.uk, Senin (18/12) lalu.

Kemungkinan terjadinya perang, lanjut Wang, harus dipersiapkan sejak sekarang. Mobilisasi pertahanan harus segera dilakukan di kawasan timur Laut China. “Mobilisasi seperti ini bukan untuk melancarkan perang, tapi untuk tujuan defensif,” kata Wang.

Satu hal lagi yang perlu diingat, tandas Wang, pecahnya Perang di Semenanjung Korea akan mengakibatkan kontaminasi nuklir dan gempa di China.

Resolusi Baru DK PBB

Penggunaan senjata nuklir oleh Korut memang sudah mengkhawatirkan tetangga-tetangganya, termasuk Korea Selatan (Korsel). Bahkan Korsel sudah mengingatkan Dewan Keamanan PBB bahwa Korut sudah dalam tahap final untuk menggunakan senjata nuklir.

Kekhawatiran Korsel diperkuat gertakan pemimpin Korut Kim Jong-un. Paska peluncuran rudal nuklir antarbenua terbaru dan terkuat, Hwasong-15 pada 29 November lalu, Kim Jong Un telah mengumumkan negaranya sebagai negara pemilik senjata nuklir.

Terakhir kali, Rabu (20/12) ini. Pemerintah Korut menolak tawaran dialog tanpa syarat yang diajukan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson. Pernyataan ini disampaikan pemerintah lewat media corong Partai Pekerja Korea Utara, Rodong Sinmun, pada Rabu, 20 Desember 2017.

“DPRK tidak tertarik berdialog dengan AS, yang dicemooh oleh dunia internasional karena gagal mengurusi urusan internalnya,” demikian pernyataan Democratic People’s Republic of Korea (DPRK) kepada Rodong Sinmun.

DPRK justru balik mendesak pemerintah  AS agar menghentikan kebijakan tidak bersahabat terhadap Korea Utara sejak awal untuk menyelesaikan isu antara kedua negara. “Kebijakan itu menyatakan DPRK sebagai musuh,” begitu bunyi pernyataan tadi. Pernyataan ini juga meminta AS agar mau koeksis dengan Korea Utara sebagai negara kekuatan nuklir.

Sebagaimana ramai diberitakan sebelumnya, Menlu AS Rex Tillerson mengatakan AS siap berdialog dengan Korea Utara tanpa persyaratan. Namun pernyataan itu diralatnya sendiri dengan syarat pemerintah Korut harus membuktikan dirinya layak berunding dengan menunjukkan perilaku yang tidak mengancam negara-negara tetangganya.

Terlebih belakangan ini Korut rajin melakukan uji coba rudal antar benua dan persenjataan nuklirnya. Maka pemerintah AS pun dikabarkan menyiapkan resolusi baru untuk meningkatkan tekanan kepada Korut. Sanksi yang baru itu diberikan terkait dugaan pelanggaran 10 kapal Korut atas sanksi Dewan Keamanan PBB sebelumnya.

Resolusi Dewan Keamanan PBB yang baru ini sedang dibahas dengan sejumlah negara seperti China, yang menjadi sekutu dekat Korut. Tanpa persetujuan China, resolusi itu tidak berlaku karena China adalah 1 di antara 5 anggota tetap DK PBB yang memiliki hak veto.

Antisipasi Perang

Presiden Korea Selatan Moon Jae In dikabarkan telah bersedia mengurangi ketegangan di Semenanjung Korea menjelang digelarnya Olimpiade Musim Dingin di negaranya. Termasuk dengan cara menghentikan latihan gabungan militer bersama AS dan Jepang. Tapi semua itu dikembalikan ke sikap Korut.

Belakangan militer Korsel dikabarkan panik menyaksikan 5 jet tempur militer Cina melintas memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara Korea atau KADIZ tanpa izin atau tanpa pemberitahuan lebih dahulu pada Senin (18/12) pukul 10.10 waktu setempat.

Setidaknya 2 jet pengebom H-6, 2 jet tempur J-11 dan satu pesawat pengintai TU-153 memasuki KADIZ dari barat daya Leodo. Demikian tuding Kepala Staf Gabungan Korsel yang membuat panik negaranya karena 5 pesawat China itu melintas di wilayah udaranya di tengah ketegangan di Semenanjung Korea.

Sebagaimana dikutip dari Korea Times, Senin (18/12) lalu, Seoul membalas dengan mengirim jet tempur termasuk F-15K  mengejar 5 jet tempur Cina ke Zona Identifikasi Pertahanan Udara Jepang (JADIZ). Setelah dikejar 5 pesawat China itu kembali terbang ke negaranya.

“Jet tempur Korea Selatan yang mengacak area tersebut mengidentifikasi jenis pesawat militer Cina. Jet tempur kami melakukan tindakan taktis yang normal sampai pesawat Cina pergi,” kata seorang pejabat di Kepala Staf Gabungan.

Sebagai antisipasi pecahnya perang, diam-diam China membangun kamp pengungsian di sepanjang perbatasan dengan Korut sepanjang 1.416 Km. Rencana pembangunan kamp terungkap berdasarkan dokumen internal yang bocor ke publik.

Dokumen itu bocor ke media sosial dan sejumlah situs dotcom di luar China setelah perusahaan telekomunikasi raksasa China Mobile ditugaskan membangun jaringan di wilayah perbatasan. Dokumen itu menyebutkan rencana pembangunan 5 kamp pengungsian di wilayah Provinsi Jilin.

Sebagai antisipasi pecahnya perang, Pemerintah Korsel pun sudah menyiapkan anggaran sebesar 310 ribu dolar AS (Rp4,2 miliar) kepada unit khusus yang ditugaskan melumpuhkan Pemimpin Korut Kim Jong-un. Selain bertugas melumpuhkan Jong-un, pasukan ini juga ditugaskan melakukan sabotase fasilitas militer penting selama perang.

Unit khusus yang disebut tim pemenggalan itu dibentuk oleh militer Korea Selatan berdasarkan Komando Khusus Perang pada tanggal 1 Desember. Tim beranggotakan sekitar 1.000 tentara profesional terlatih yang terinspirasi dari US Army Rangers, Delta Force, SEAL Team Six dan Green Barrets.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here