Beginilah Generasi Muda NU Menangkal Radikalisme dan Terorisme

0
201
"Wujud keikutsertaan organisasi mahasiswa untuk menjaga keutuhan NKRI, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI" (Foto: Tudji)

Nusantara.news, Surabaya – Ancaman radikalisme dan terorisme terus menjadi momok, munculnya gangguan ketertiban dan keamanan di Indonesia. Itu harus diseriusi dan dilawan termasuk oleh generasi muda. Karena mereka juga menjadi target sasaran propaganda penyebaran paham radikalisme. Generasi muda juga harus diberikan pemahaman bahwa ajaran radikalisme tidak cocok bercokol di Indonesia. Mereka khususnya pemuda harus diberikan edukasi tentang jati diri bangsanya.

Pembekalan awal itulah yang dilakukan oleh Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jawa Timur. Dengan menggelar seminar bertema “PKC PMII Jatim Tolak Ideologi Khilafah dan Kelompok Radikal di Indonesia” di lantai tiga Gedung Twin Tower Rektorat Universitas Islam Negeri Surabaya (UINSA), Kamis (5/4/2018).

Acara seperti itu akan terus dilakukan berkesinambungan, sebagai kepedulian PMII untuk memberikan pembekalan dan tameng serta pemahaman. Sebagai wujud keikutsertaan organisasi mahasiswa itu untuk menjaga keutuhan NKRI, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

“PMII berpegang teguh pada prinsip ke Islaman, Ahlus sunnah waljamaah dan Kebangsaan Indonesia. Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI Harga Mati. Setiap gerakan yang merongrong 4 Pilar dan prinsip Islam Ahlus sunnah waljamaah, seperti gerakan trans nasional , khilafah dan kelompok radikal secara nyata akan kami lawan, dengan segenap cara dan tenaga. Untuk itu, sebagai langah awal pembekalan kita gelar acara ini,” ujar Ketua PKC PMII Jatim Ahmad Zainuddin.

Di Indonesia Ancaman Radikalisme Masih Kuat

Di depan mahasiswa peserta seminar, mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Ansyaad Mbai menyebut ancaman radikalisme dan terorisme di Indonesia masih sangat kuat dan merupakan ancaman paling serius hingga saat ini. Harus dilawan secara bersama-sama termasuk oleh generasi muda. Karena generasi muda yang masih labil menjadi target, dan paham itu juga masuk ke lembaga-lembaga pendidikan.

“Harus kita lawan secara bersama-sama. Di antaranya, memberikan pemahaman agama dengan benar,” kata Ansyaad Mbai.

Peran ulama, kiai, tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh juga harus berperan memberikan pemahaman agama yang baik dan benar. Radikalisme yang hingga saat ini terus tumbuh di Indonesia sangat mengawatirkan. Itu juga terkait dengan organisasi yang baru saja dibubarkan oleh pemerintah, yaitu HTI.

“Setiap gerakan yang merongrong 4 Pilar dan prinsip Islam Ahlus sunnah waljamaah, seperti gerakan trans nasional , khilafah dan kelompok radikal secara nyata akan kami lawan” (Foto: Tudji)

Penyebar gerakan radikalisme disebutkan memiliki dana yang sangat besar. Karena itu juga harus dilawan dengan keras, tidak bisa dengan setengah-setengah. Melibatkan semua unsur di masyarakat dan semua pihak wajib memberikan arahan kepada generasi muda, bagaimana radikalisme tumbuh dan berkembang. Termasuk, semua pihak juga harus ikut berperan memberikan cara untuk melawannya.

Diberikan contoh, pelaku penyebaran paham radikalisme juga dibekali dana yang cukup besar, itu harus dipahami oleh semua pihak. Dia mencontohkan mungkin tidak semua masjid atau Musalah yang memberikan honor kepada penceramah. Itu menurutnya, rawan disusupi oleh para penyebar paham radikalisme, melalui ceramah radikalnya.

“Mohon maaf, mereka itu (penyebar radikalisme), selain dibekali berbagai jurus menyusup juga dibekali dana yang besar. Bukan bermaksud mendiskreditkan penceramah kita, mereka punya celah untuk mengambil alih melakukan kutbah, dengan menebarkan uangnya kemudian menyebarkan paham radikal. Itu harus kita waspadai bersama,” terangnya.

Maraknya gerakan radikalisme mengatasnamakan Islam, merupakan respon terhadap realita dunia Islam pasca runtuhnya Khilafah, tahun 1924. Tokoh radikalisme dunia seperti Hasan Albana dari Ihwanul Muslimin, tahun 1928 mengatakan bahwa, umat Islam terpuruk karena kolonialisme dan Islam didominasi sistem kultur yaitu hukum sosial dan tradisi yang dibuat orang kafir.

Kelompok radikal kemudian melakukan perlawanan mengatasnamakan jihad, itulah awal gerakan radikalisme Islam kemudian berkembang. Misalnya, di India atau Pakistan pada tahun 1937-1941 menyebut bahwa pemilu dan demokrasi adalah bencana bagi umat Islam, kelompok tersebut kemudian menyebut pemilu haram. Di susul munculnya kelompok penganut garis kekerasan. Kemudian dikenal sebagai paham Ekstrem Otoritas Mutlak (Al Maududi), Jahiliyaisme (Sayyid Quthub), Takfiri (Hasan Albana).

“Penyebar gerakan radikalisme disebutkan memiliki dana yang sangat besar. Karena itu juga harus dilawan dengan keras, tidak bisa dengan setengah-setengah” (Foto: Tudji)

Organisasi-organisasi radikal yang diawali oleh Ihwanul Muslimin dengan berbagai sempalannya kemudian berkembang menjadi Al-Qaeda dengan berbagai faksi-faksi, hingga muncul Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Menurut Arsyaad Mbai, kelompok-kelompok itu kemudian merambah ke berbagai negara dan tidak mengenal batas negara.

“Inilah awal dari gerakan radikalisme Trans Nasional, termasuk sampai ke Indonesia,” ujarnya.

Nalar berpikir gerakan radikalisme Trans Nasional yang paling berbahaya adalah karena mencampur adukkan antara legitimasi politik dan syariat agama. “Kemudian, banyaknya orang yang gampang mengumbar kalimat pengkafiran, mereka menebar kebencian dan permusuhan di masyarakat. Dengan gampangnya mengkafirkan para penguasa di pemerintahan, polisi, tentara, politisi, kaum sufi dan masyarakat lainnya. Misalnya, seruan berbahaya dari Najih Ibrahim, yang mengatakan jangan jadikan ilmu agama untuk melayani kepentingan politik, karena ilmu agama lebih besar dan lebih kekal dari kekuasaan politik.

Akibat Dangkalnya Pemahaman Islam

Masih di forum yang sama, KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam Syuriah PBNU menegaskan radikalisme dan terorisme berawal dari kekeliruan atau dangkalnya pemahaman terhadap ajaran Islam (Quran dan Hadis). Mereka menyerukan melakukan aksi kekerasan atas nama Islam, padahal yang dilakukan sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

“Mereka menyuarakan gerakan yang salah dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Pahami ajaran Islam jangan hanya perangnya saja, atau jihadnya saja. Karena di dalam ajaran Islam juga ada yang pesan menyebarkan damai dan saling menyayangi sesama makhluk Allah, itu juga harus dilihat dan diamalkan,” tegas KH Cholil Staquf.

Pesan untuk Pemuda dari Mantan Kombatan

Mengutip pengalaman Muhammad Sofyan Tsauri seorang mantan anggota polisi yang juga mantan kombatan teroris pengikut Al Qaeda, dia menyebut banyak generasi muda yang terjerumus mengikuti jejak penyebar radikalisme, karena generasi muda haus ilmu dan informasi. Posisi itulah yang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikal menyusupkan propaganda dan menjadikan sebagai anggota baru.

“Karena itu kita harus bekali generasi muda dengan pengetahuan dan ilmu positif, terutama ideologi dan kebangsaan,” ujar Sofyan Tsauri.

Setelah menyadari kekeliruannya, prajurit Bhayangkara yang pernah berdinas di Polres Depok ini kemudian aktif membantu pemerintah menyuarakan perdamaian dan melawan radikalisme terorisme. Dia menegaskan, ancaman radikalisme harus diseriusi dan dilawan. Generasi muda harus diberikan pemahaman bahwa ajaran radikalisme tidak cocok di bumi Nusantara yang majemuk ini.

“Intinya, generasi muda harus terus-menerus diberikan edukasi tentang jati diri bangsanya,” kata dia.

Dia menyebut, radikalisme adalah ancaman serius bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena, bermuatan paham-paham yang tidak mengerti toleransi, mengabaikan kemajemukan yang ada di negeri ini, dan itu menjadi pemicu terjadinya perpecahan.

Banyaknya pemuda yang terseret paham radikal, lantaran pemuda memiliki idealisme yang kuat. Mereka harus diberikan pemahaman yang cukup juga. Karena umumnya pemuda enggan mengekor dengan apa yang diwariskan orang tuanya.

Dia menyarankan agar generasi muda Indonesia mengambil pelajaran perjalanan sejarah bangsanya. Negara Kesatuan Republik Indonesia itu berawal dari kekuatan pemuda, di Sumpah Pemuda 1928. Nilai dan semangat Sumpah Pemuda harus diteladani, sebagai penangkal ancaman radikalisme dan terorisme. Termasuk meneladani perilaku Nabi Muhammad SAW.

Karena Hilangnya Keadilan 

Sementara, mengutip pernyataan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, yang menyebut maraknya provokasi dan mengarah pada radikalisme sering diakibatkan tuntutan rasa keadilan atas kebijakan pemerintah.

Provokasi radikalisme sering ditimbulkan oleh rasa keadilan yang belum dirasakan oleh sebagian masyarakat atau kelompok masyarakat. Mahfud juga menegaskan, sikap intoleran dan radikalisme merupakan ancaman bagi eksistensi NKRI. Mereka melakukan itu, di antaranya karena mencari keadilan dan melakukan protes atas ketidakadilan yang diterima dan tidak diberikan oleh negara.

“Sebenarnya mereka itu bukan tidak menerima Pancasila atau ingin radikal dan tidak toleran, sesungguhnya mereka mencari keadilan dan melakukan protes atas ketidakberesan, agar jalannya negara dan pemerintahan sesuai dengan Pancasila,” tegasnya.

Menangkal Paham Radikalisme dan Terorisme

“Menolak upaya penyebaran paham radikalisme dengan mengatasnamakan agama di tempat ibadah, kampus-kampus perguruan tinggi dan semua lembaga pendidikan baik umum dan keagamaan”

 

Gerakan radikalisme sesungguhnya bukan sebuah gerakan yang muncul begitu saja tetapi memiliki latar belakang yang sekaligus menjadi faktor pendorong munculnya gerakan radikalisme.

Gejala kekerasan “agama” lebih tepat dilihat sebagai gejala sosial politik daripada gejala keagamaan. Gerakan yang secara salah kaprah disebut sebagai radikalisme Islam itu lebih tepat dilihat akar permasalahannya dari sudut konteks sosial politik dalam kerangka historis manusia di masyarakat.

Azyumardi Azra mengungkapkan, memburuknya posisi negara-negara Islam yang terseret konflik utara selatan menjadi penopang utama munculnya radikalisme. Secara historis dapat dilihat, bahwa konflik-konflik yang ditimbulkan oleh kalangan radikal dengan tindakan kekerasannya menentang dan membenturkan diri dengan kelompok lain ternyata berakar pada masalah sosial politik.

Kelompok radikalisme memandang fakta historis bahwa umat Islam tidak diuntungkan oleh peradaban global, sehingga memunculkan perlawanan terhadap kekuatan yang mendominasi.

Penanggulangan dan mencegah radikalisme dan terorisme di antaranya bisa dilakukan dengan upaya pencegahan dengan mengedepankan para ulama, ormas, parpol dan semua elemen masyarakat untuk ikut menetralisir paham radikalisme.

Menolak upaya penyebaran paham radikalisme dengan mengatasnamakan agama di tempat ibadah, kampus-kampus perguruan tinggi dan semua lembaga pendidikan baik umum dan keagamaan.

Melawan provokasi dan propaganda yang disebarkan melalui media main stream atau medsos. Langkah-langkah politik yang tegas terhadap kelompok radikal yang bertentangan dengan Pancasila yang menjadi ancaman bagi Pancasila dan NKRI.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here