Beginilah Kiprah Para Seniman Melawan Korupsi

2
264
Usai berbicara tentang gerakan melawan korupsi dalam bidang seni masing-masing mereka berkolaborasi di atas panggung, tampak Sosiawan Leak dan Mike Marjinal beserta personil Marjinal Band, di Jakarta Convention Center, Sabtu (9/9) FOTO UJANG KASARUNG

Nusantara.news, Jakarta – Gerakan Melawan Korupsi terus berdenyut di jantung masyarakat. Tambah seru lagi tampilnya sejumlah seniman di panggung utama Indonesia International Book Fair (IIBF) 2017 di Jakarta Convention Center (JCC) pada Sabtu (9/9) yang lalu. Tercatat 4 pekerja seni mewakili bidang masing-masing merepresentasikan di hadapan pengunjung buku tentang apa yang dilakukan para seniman dalam membangkitkan gerakan melawan korupsi.

Ke-4 pekerja seni yang tampil di Panggung Utama IIBF 2017 meliputi : Sosiawan Leak mewakili Penyair sekaligus Koordinator Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang tinggal di Kota Solo, selanjutnya Mike Marjinal dari Marjinal Band sekaligus penggerak Musik Melawan Korupsi, Jan Praba dari Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti) yang juga penggerak Kartun Melawan Korupsi, dan Brendan Satria dari Kummara yang juga penggerak Board game sebagai media pendidikan anti korupsi.

Sosiawan Leak, penyair yang juga koordinator Puisi Menolak Korupsi (PMK), sebuah gerakan anti korupsi yang melibatkan lebih dari 1000 penyair se-Indonesia. Gerakan ini rajin menyelenggarakan road-show ke sejumlah kota di Indonesia. Paling gres, pada Sabtu (16/9) esok lusa PMK menggelar Roadshow ke-48 di Madrasah Aliyah Negeri I Sragen, Jawa Tengah.

“Memang, kita sengaja membangkitkan budaya literasi dan menanamkan sikap anti korupsi sejak usia dini di sekolah-sekolah. Karena mereka lah pemilik masa depan negeri ini,”tutur Sosiawan Leak yang wajahnya kadang terlihat letih karena hampir setiap hari berkeliling kota. Kalau di kota-kota Pulau Jawa dia “berlangganan”kereta api kelas ekonomi.

Sosiawan Leak beraksi membacakan puisi berjudul Kadal

Roadshow pertama diselenggarakan di Kota Blitar, 18 Mei 2013. Pernah juga Roadshow di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jakarta, selain juga ke Pekanbaru (Riau), Takengon (Aceh), Lubuklinggau (Sumsel), Batam (Kepri), Banjarbaru (Banjarmasin), Palu (Sulteng), Makassar (Sulsel), dan paling sering di sejumlah kota di Pulau Jawa.

“Sebenarnya para penyair sudah sejak dulu membuat puisi melawan korupsi, tapi perlawanannya masih sendiri-sendiri. Padahal korupsi kan berjamaah dan telah merusak ke jantung peradaban kita. Itulah ide dasar berdirinya gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK),”ujar Leak berapi-api

Selain Roadshow ke berbagai kota, tutur Leak, gerakan PMK juga telah menerbitkan tujuh seri penerbitan antologi puisi dan bunga rampai. Bahkan pada Seri ke-2, karena banyaknya penyair yang berminat menyumbangkan karyanya maka dibuat Seri 2a dan 2b. Tapi tidak semua puisi yang dikirim langsung disertakan dalam antologi. Ada seleksi kelayakan.

“Setelah lolos seleksi baru diumumkan nama-nama yang lolos. Mereka dikenai biaya cetak sesuai jumlah buku yang dipesan sekaligus biaya pengirimin. Ada kalanya orang itu menyumbang banyak tapi hanya minta dikirim 2 buku. Membuat buku banyak menumpuk di rumah saya,” bebernya.

Satu hal yang terus kami biasakan sejak awal pendirian, papar Leak, adalah prinsip kemandirian dan transparansi. “Hampir semua pembiayaan PMK dibiayai oleh penyair. Setiap ada uang masuk, misal honor saya waktu menjadi pembicara tadi, karena saya diundang atas nama PMK ya saya laporkan,”terang Leak saat ngobrol-ngobrol di kedai kopi depan acara IIBF.

Karena transparansi itu, lanjut Leak, pernah saat Roadshow di Tegal dirinya dibisiki oleh panitia Roadshow Banjarbaru dirinya selaku koordinator akan diberi tiket pesawat. Pemberian itu oleh Leak diumumkan ke peserta Roadshow, diputuskan untuk mensubsidi biaya teman-teman penyair yang hendak ikut ke Banjarbaru.

“Ternyata ada 11 orang yang ikut. Tapi imbasnya budaya Literasi di Banjarbaru menjadi lebih hidup. Iklim berkesenian di sana menjadi lebih bergairah,”ungkap penikmat kretek dan kopi hitam itu sambil sekali-kali menyeruput segelas kopi yang tidak dia biarkan mendingin di meja itu.

Sedangkan Mike selaku vokalis sekaligus pemain gitar di Marjinal Band menegaskan kelompoknya sedang fokus pada gerakan melawan korupsi. Marjinal Band sendiri adalah kelompok Punk yang sudah ada sejak 1997. Pada awal-awal berdirinya kelompok yang bercikal Komunitas Taring Babi di Srengsengsawah, Jakarta Selatan itu konsentrasi pada isu-isu demokratisasi dan anti fasisme.

Personil Marjinal Band yang selalu mengekspresikan kebebasan dengan tampil nge-Punk

Marjinal Band memang tampil mengekspresikan kebebasan dengan rambut gaya punk. Toh demikian rata-rata personil Marjinal Band adalah anak kuliahan. Fans mereka rata-rata juga setidaknya pernah menjadi aktivis mahasiswa. Kini lewat musik cadas mereka terus berjuang menyuarakan sikap anti korupsi yang sudah sedemikian akut di Republik ini.

Sedangkan Pakarti, ujar Jan Praba, penggiatnya, sudah sejak 2014 melibatkan diri dalam gerakan anti korupsi. Belakangan ini, tercatat 1000 kartun dipamerkan di IIBF 2017 dan tercatat di Museum Rekor Indonesia-Dunia (Muri) sebagai pameran kartun terbanyak. Pengirimnya adalah kartunis dari berbagai kota Indonesia seperti Aceh, Medan, Pekanbaru, Jambi, Lampung, Banten, Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogya, Surabaya, Bali, Kalimantan, Makassar hingga Papua.

Meskipun mengaku sudah bekerja-sama dengan KPK dalam sejumlah event sosialisasi anti-korupsi, namun Jan menegaskan Pakarti yang sudah mendeklarasikan gerakan anti-korupsi bukan bagian dari KPK. “Kami tetap independen. Bahkan di sejumlah kartun kami juga mengkritik KPK,”terang Jan di hadapan pengunjung IIBF yang sore itu begitu padat

Konflik DPR-KPK yang berkali-kali memanas di Republik juga menjadi sorotan utama kartunis yang bergabung dalam Pakarti. Misal anggota DPR bersosok tambun sedang memanah KPK yang digambarkan kurus kering.  “Yang kami lakukan bukan menghujat DPR, tapi memberikan penyadaran,”jelas Jan Praba.

Tidak kalah menarik adalah apa yang dilakukan Brendan Satria. Anak muda kelahiran 25 April 1988 ini memang hobi membuat board game. Tapi di tengah kegiatan bersenang-senang itu dia menyelipkan pesan anti korupsi dalam permainan yang dibuatnya. Maka sejak 2014 Brendan diajak bekerja-sama dengan KPK membuat board game yang bermuatan anti Korupsi.

Selama ini KPK memiliki tokoh fiksi Kumbi yang divisualkan sebagai kumbang. Keberadaan Kumbi itu yang menginspirasi pembuatan board game. Tentunya setelah digagas bersama antara Brendan dan tim kreatif dari KPK. Sekarang dari tangan Brendan muncul tema-tema board game buatannya, seperti Petualangan Sahabat Pemberani pada 2015.

Game yang biasa dimainkan anak-anak setingkat sekolah dasar itu berkisah bagaimana sang pemuda pemberani menemukan kembali barang-barang yang dicuri oleh robot jahat. Barang-barang yang dicuri itu misalnya patung Garuda Pancasila, sepeda, patung atau jam tangan. Hebatnya, setelah barang ditemukan muncul pertanyaan, apa yang hendak dilakukan? Pilihan pertama, sepeda itu dimainkan sepuasnya sebelum dikembalikan ke pemilik, Pilihan kedua, langsung dikembalikan ke pemilik.

“Ya, kami memang membangun visi anti korupsi sejak usia dini. Game board bisa menjadi sarana yang efektif menjalankan misi itu,”ucap Brendan yang juga lulusan Jurusan Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Gerakan Melawan Korupsi tentu saja bukan hanya dilakukan oleh Seniman, melainkan juga para akademisi, pemuka agama dan lainnya. Jadi memang, DPR perlu berhati-hati apabila hendak melemahkan upaya-upaya pembasmian korupsi di Republik ini. Sebab para penggerak anti-korupsi dari berbagai profesi itu berkemampuan menjadi opinion leader yang membuat anda bisa tidak terpilih lagi pada Pemilu 2019 nanti. []

2 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here