Beginilah Percintaan Anak Muda Zaman Now di Arab Saudi

0
945
Beginilah kelakuan anak-anak Arab Saudi Generasi Now. Bagaimana kehidupan percintaannya? Masihkah dijodohkan orang tua?

Nusantara.news, Riyadh – Sulit mencari cinta sejati sesuai kehendak hati. Meskipun cinta sejati bak “Romy and Juliet” karya Shakespeare terkenal di seluruh dunia tapi tidak bagi Arab Saudi yang sebagian anak mudanya sudah menyerap didikan ala Barat.

Memang, bercengkerama dengan lawan jenis yang bukan muhrim masih haram di Arab Saudi. Pernikahan adalah urusan keluarga dari pihak laki-laki dan perempuan. Tapi seiring perkembangan teknologi informasi, kini generasi milenial Arab Saudi bisa menemukan jodohnya lewat chatting di media sosial seperti Tinder, Snapchat, Twitter atau Instagram.

Mereka tetap sulit menjalin temu darat. Sebagian besar restoran di sana masih memisahkan laki-laki dan perempuan, ada beberapa sekat lagi khusus untuk keluarga. Namun kini pasangan muda yang sudah menikah banyak yang tampil di depan umum di sejumlah Kafe dan restoran.

“Dua tahun lalu bahkan kami tidak bisa duduk bersama. Orang masih banyak yang berprasangka aneh-aneh,” tutur Waleed, seorang Insinyur ahli software berusia 27 tahun. “Perubahan pada akhirnya sampai ke Arab Saudi,” tandasnya.

Kisah cinta Waleed dengan sejumlah perempuan yang pernah menjadi pacarnya semua terjadi secara online. Pasangan ini akhirnya menjalin pertemuan di Mesir, tempat yang lebih bebas berkumpul antara perempuan dan laki-laki.

Sedangkan di negaranya lama dikuasai oleh Islam Puritan yang pengaruhnya hendak dikikis oleh Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman yang membawa misi menerapkan Islam Moderat di negaranya.

“Budaya kita di sini mereka berpacaran dengan bayang-bayang dosa,” ujar Waleed. Karena seks dan cinta romantis dianggap sebagai hal kontroversial di negaranya, maka saat NBCNews hendak wawancara dengan anak muda Arab Saudi mereka keberatan disebutkan nama sebenarnya.

Pacar Amerika

Waleed adalah sosok pemuda yang dibesarkan dalam lingkungan pergaulan, di mana pernikahan masih banyak diatur oleh keluarga. Acap kali pasangan belum pernah bertemu secara langsung sebelum bertunangan.

Putri-putri raja yang berjuang hak mengemudi untuk perempuan yang dikabulkan Raja Salman

Meskipun sudah ada perubahan sosial, namun laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tetap tidak bisa berkumpul dalam satu ruangan. Bahkan mereka masih menghindar bila bertemu dengan lawan jenis. Karena anak perempuan dan laki-laki di sekolah-sekolah formal dan tempat kerja ditempatkan secara terpisah.

Jadi pertemuan, berkencan hingga hubungan pernikahan mesti melewati rintangan adat istiadat yang mengasyikan. Kerahasiaan telah menjadi norma, terutama dengan hal-hal yang terkait dengan hubungan seksual.

“Meskipun di dalam ruangan semua orang terlibat di dalamnya, tapi tidak ada seorang pun yang akan membicarakannya,” ujar Lulwa, seorang pembuat film yang bercita-cita memakai lipstik merah menyala dan melepas jilbab tanpa takut dihukum.

Lulwa, 27 tahun, menilai kekusutan pada seksisme yang akut di masyarakat Saudi telah mengurangi fungsi reproduksi perempuan. Lulwa memang cenderung liberal di lingkungan pergaulannya. Kadang secara sembunyi-sembunyi bertemu dengan teman laki-laki dan menyajikan minuman beralkohol dalam pesta pribadi.

“Sebagai perempuan Anda dilahirkan untuk melahirkan, itulah misi Anda dalam hidup,” kata Lulwa. Maka perempuan Arab Saudi akan sangat menjaga fungsi keperempuannya sekedar untuk melahirkan.

Mungkin karena sudah telanjur menganggap dirinya bengal, Lulwa tidak pernah tertarik dengan laki-laki di kota asalnya, Riyadh. Dia pun bertahun-tahun sekolah di luar negeri dan menjalin kisah asmara dengan lelaki Amerika. Tapi Lulwa tegas mengatakan kepada pacarnya, tidak akan pernah mengenalkan dengan keluarganya.

Hubungan asmara Lalwa dan pacarnya asal Amerika memang tidak memiliki masa depan ke jenjang pernikahan, kecuali Lalwa meninggalkan negara dan keluarganya, atau pacarnya bersedia masuk Islam.

Cinta yang Menyedihkan

Lain lagi kisah yang dialami Fadilla, 29 tahun. Menemukan dan memelihara hubungan adalah menjadi tantangan, bahkan bagi perempuan Saudi yang tidak pernah bersentuhan dengan warga negara asing seperti dirinya. Perempuan yang berprofesi sebagai akuntan itu sejak remaja mencoba mencari cinta ke semua tempat di Arab Saudi.

Sebagai perempuan dengan senyum melankolis acap kali membuat laki-laki tergoda minta nomer telepon kepadanya. Fadilla pun menuliskannya. Tapi untuk mencegah gosip Fadilla acap kali memberikan nomer telepon yang salah. Hingga suatu saat seorang lelaki melacak rumah keluarganya dan meninggalkan catatan di depan kaca jendela rumah kakaknya.

“Saya kenal saudaramu, dia melakukan hal-hal buruk,” tulis catatan itu dengan nada ancaman.

Ketika Fadilla berusia 17 tahun, dia mengaku jatuh cinta dengan anggota keluarga kerajaan yang memiliki kekuasaan luar biasa itu. “Saya pikir dia orangnya,” kenang Fadilla tentang cinta pertamanya yang berakhir di penjara.

Keduanya sering berkencan di mobil sang Pangeran. Awalnya merasa aman. Tapi pasangan itu tidak mengira telah diawasi oleh polisi agama. Suatu saat Polisi Agama itu menangkap Fadilla dan melepaskan Sang Pangeran. Tapi kenapa hanya Fadilla yang ditangkap dan dipenjara?

Keesokan harinya, ibu dan saudara laki-lakinya membebaskannya dari penjara. Tapi peristiwa itu dirahasiakan dari orang lain kecuali teman baiknya. Fadilla merasa beruntung. Sebab peristiwa yang lebih buruk menimpa perempuan lain selain dirinya. Bagi warga Arab Saudi, perempuan yang melanggar norma dianggap aib bagi keluarga.

Setelah peristiwa itu Fadilla lebih fokus meraih gelar akademis, dan dia memang memiliki prestasi besar di situ. Dia meraih gelar cum laude di bidang akuntansi dan memiliki karir yang bagus. “Saya mencintai pekerjaan saya. Di sinilah eksistensi saya,” ujarnya.

Pelonggaran Norma-Norma

Sejak pengalamannya 12 tahun silam, kini polisi agama telah kehilangan sebagian besar kekuasaannya. Kini semakin banyak perempuan yang belajar hingga ke perguruan tinggi dan berkarir di lingkungan kepegawaian Arab Saudi. Mereka sudah biasa berinteraksi dengan laki-laki baik di lingkungan sekolah maupun pekerjaan.

Pelonggaran norma-norma sosial yang sebelumnya sangat puritan di Arab Saudi, kini menemukan momentumnya ketika Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman menyatakan negaranya akan kembali ke Islam yang lebih moderat dan memberantas segala bentuk ekstrimisme.

Sebagai pegawai karirnya memang sukses. Tapi tidak dengan kehidupan cintanya yang diakuinya sangat mengecewakan. Dia telah berusaha mencari pasangan hidup lewat Tinder, namun selalu gagal.

Karena upayanya mencari cinta di media sosial gagal, akhirnya Fadilla menyerah dan melakukan hal yang tidak pernah dia inginkan. Dia membiarkan kakaknya mencarikan jodoh untuknya.

“Saya hanya ingin tenang, fokus pada karir saya, dan setiap pulang ke rumah menemukan seseorang di sana,” beber Fadilla. “Dan saya ingin punya rumah sendiri,” tegasnya.

Penting dicatat di sini. Kebanyakan orang dewasa yang jomblo di Arab Saudi tidak ada yang tinggal di luar rumah keluarga.

Akhirnya Fadilla memang menemukan calon suami yang dikenalkan oleh kakaknya. Setelah mak jomblang tahu latar belakang masing-masing, kedua orang tua dari masing-masing pihak dan saudara laki-laki berkumpul di rumah Fadilla.

Saat itulah Fadilla berkenalan dengan calon tunangannya. Para ibu pun berkumpul dan minum teh sambil bercakap tentang anak masing-masing.

Setelah bertemu dua kali Fadilla menjalani ritual pertunangan resmi yang melibatkan kedua pasangan untuk menandatangani kontrak yang antara lain berisi, dia tidak akan pernah tinggal di rumah mertua dan tidak dibolehkan bekerja di luar rumah. Kini keduanya bisa saling melihat secara terbuka, bahkan sudah berjalan-jalan ke luar negeri bersama.

Tunangan Fadilla sebenarnya lumayan ganteng. Dia juga pakar teknologi informasi, berpikiran terbuka dan menghormati perempuan. Tapi ada persoalan, hati Fadilla tak pernah tertambat kepadanya. “Saya tidak punya perasaan untuknya,” aku Fadilla.

“Beberapa orang mengatakan bahwa cinta datang setelahnya, rasa hormat datang lebih dulu, tapi saya tidak tahu,” imbuh Fadilla.

Lampu Temaram

Seorang Insinyur berpendidikan Amerika, Omar, tertawa terbahak-bahak dengan kentang goreng dan jus nanas di restoran kelas atas Riyadh. Lampu temaram sulit mendeteksi wajah-wajah siapa saja yang ada di sana. Sepertinya sejumlah pasangan ada di meja itu.

Omar, 26 tahun, berusaha jujur dalam pembicaraan terkait seks, topik yang membayangi bagaimana laki-laki dan perempuan berinteraksi. Masalahnya ada norma-norma dan moralitas yang sulit, karena kebanyakan orang Saudi menganggap perempuan dan perilakunya adalah menyangkut kehormatan sukunya.

Pandangan ini, ujar Omar, berpengaruh terhadap cara mereka bertindak, termasuk di tempat tidur. Kepada NBC News Omar bercerita, karena setiap perempuan diharuskan menjaga keperawanannya hingga menikah, maka dalam berpacaran banyak yang memilih tidak berhubungan seks melalui vagina, namun dengan oral dan lainnya.

Ketika tinggal di Amerika, Omar juga mengaku jarang mendapatkan informasi tentang kehidupan seks dari teman laki-lakinya. Tapi informasi lebih banyak didapat dari teman-teman perempuannya. Sebab membicarakan seks merupakan hal tabu bagi lelaki Arab Saudi yang belum menikah.

Maka Omar bosan dengan apa yang dia sebut kerahasiaan dan itu dianggapnya sebagai bentuk “kemunafikan” masyarakat Saudi. Karena memang tidak ada tempat sosialisasi bagi laki-laki dan perempuan yang belum menikah. Perkenalan dengan lawan jenis biasanya dibangun lewat media sosial.

“Saya ingin pertemuan, bukan saling sapa di layar,” ujarnya.

Padahal, sebagaimana lelaki pada umumnya, Omar sangat menginginkan bertemu dengan orang yang tepat, lewat jalinan cinta yang normal. Bukan mendapatkan jodoh lewat keluarga dengan orang-orang yang tidak dikenalnya.

Omar merasa kadang didamaikan oleh perasaannya, bahwa dia tidak akan pernah menikah. Tapi itu hal yang jarang dilakukan laki-laki Arab Saudi. Sementara dia berpikir, alangkah indahnya dunia apabila menemukan pasangan yang tepat. Maka Omar pun menjelaskan perasaannya,” Makan itu penting, tapi berbagi makanan itu lebih baik.”

Artinya, hubungan saling suka dan mencintai antara laki-laki dan perempuan menjadi obsesi laki-laki Arab Saudi seperti Omar. Perempuan bukan sekedar tempat menyalurkan hasrat, tapi juga tempat berbagi perasaan dalam hubungan yang terikat rasa cinta.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here