Belajar dari Kontingen Negara Konflik

0
50

DARI 11.478 atlet yang bertanding Asian Games ini, tidak semuanya beruntung berasal dari negara yang aman tenteram. Beberapa di antaranya berasal dari negara yang tengah didera konflik, entah karena perang saudara atau dikangkangi negara lain. Sebutlah misalnya Palestina, Suriah atau Afghanistan.

Afghanistan, karena urutan alfabetis, selalu berada di urutan terdepan defile negara peserta ajang olahraga multi-event seperti Asian Games atau Olimpiade. Tapi bukan hanya terdepan dalam urutan abjad, soal semangat pun mereka bisa dikatakan nomor satu.

Bayangkan, meski tak pernah putus dirundung konflik, negara dengan topografi yang sulit dan iklim tak bersahabat itu, selalu bersemangat untuk mengikuti ajang olahraga apa pun. Di Asian Games mereka nyaris tak pernah absen. Sejak Asian Games pertama di India tahun 1951, baru empat kali negara termiskin di Asia itu tak berpartisipasi dalam kancah tersebut. Prestasinya pun tak kemilau. Sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Asian Games, belum pernah negara yang dijuluki Graveyard of Empires itu meraih medali emas. Hanya ada beberapa medali perak dan perunggu dalam koleksi mereka.

Begitu juga dengan Suriah atau Palestina. Masih adakah yang tersisa di negeri-negeri itu sekarang, selain kepulan asap mesiu, reruntuhan, dan mayat yang bergelimpangan?

Ada! Semangat. Negeri-negeri itu hancur karena konflik yang tak berkesudahan. Tetapi, sebagai bangsa, mereka punya semangat. Semangat untuk mengembalikan kebanggaan sebagai bangsa.

Suriah, misalnya, hampir saja lolos ke putaran final kejuaraan sepakbola Piala Dunia di Rusia tempo hari. Sayang, cita-cita mereka kandas setelah kalah dalam pertandingan play-off melawan tuan rumah Australia di Sydney.  Itu pun tak mudah mereka ditundukkan oleh Australia, negeri yang sentosa itu. Mereka gagal ke Rusia. Tapi, sejatinya, mereka menang. Mereka telah menunjukkan Suriah memang layak menyandang julukan The Cradle of Civilization, tempat lahirnya peradaban.

Palestina pun demikian. Kesebelasan mereka bahkan menundukkan Indonesia dalam pertandingan kemarin dengan skor 2-1.

Itulah kebanggaan bangsa. Hasrat meraih kebanggaan bangsa itu yang menyemangati para atlet Afghanistan, Suriah, Irak, atau Palestina. Mereka datang ke Jakarta bukan untuk sejenak melepaskan kepedihan, bukan pula sekadar ingin wisata, atau bertukar kaus dengan pemain negara lain. Mereka datang untuk memulihkan harga diri dan pulang membawa rasa bangga bagi kawan sebangsa yang saat ini menderita akibat perang.

Bagi atlet dari negeri yang porak-poranda itu, pertandingan bagaikan perang suci. Untuk itu, apa pun harus ditempuh.

Jangan dibayangkan mereka berlatih dengan fasilitas selayaknya tim yang hendak berlaga ke ajang besar tingkat benua ini. Jangan pula mengira mereka pernah melakukan try-out ke mancanegara. Lapangan sepakbola sudah berubah menjadi kuburan massal, pangkalan militer, tempat domba merumput atau tenda rumah sakit darurat.  Bahkan sekadar bisa berangkat pun sudah kemewahan yang luar biasa.

Timnas sepakbola Palestina misalnya terpaksa berlaga dengan pemain seadanya. Sebab, banyak pemain mereka yang tak bisa keluar dari Gaza, yang diblokade abadi oleh Israel. Timnas Suriah yang kemarin mengalahkan UEA itu juga tidak diperkuat pemain-pemain terbaiknya. Sebab, dalam 5 tahun terakhir, lebih dari seratus pemain sepakbola Suriah dinyatakan hilang akibat tangan besi Presiden Bashar al Assad. Pemain lain yang masih tersisa, terutama yang tinggal di luar Damaskus, tak bisa ikut bermain. Sebab hampir semua kota besar di negeri itu sudah luluh lantak. Jalan-jalan ke luar kota diblokir. Beberapa ada yang bisa menyelinap, kendati mengadang maut.

Tapi itulah semangat sejati olahragawan. Bertanding demi negara. Keselamatan diri, apalagi imbalan materi, tak jadi perhitungan bagi semua. Berbuat untuk negeri memerlukan semangat. Itulah nasionalisme sejati. Negeri mereka hancur, tapi semangatnya tidak. Puing-puing kehancuran itu bisa dibangun kembali ketika perang mereda kelak, karena masih ada semangat yang bergelora

Para atlet dari negeri-negeri yang porak-poranda mengajari kita tentang membangkitkan semangat itu! Entahlah, apakah pelajaran itu cocok dengan negeri yang konon gemah ripah loh jinawi ini?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here