Revolusi Dunia yang Inspiratif (2)

Belajarlah Sampai ke Negeri Cina: One State Two Systems

0
133
Seorang anggota staf bekerja di bagian perakitan di sebuah pabrik di Fuyang, provinsi Anhui, China, Senin (17/4). ANTARA FOTO/China Daily/via REUTERS

Nusantara.news – Revolusi Cina yang menelurkan konsep ‘One State Two Systemadalah revolusi budaya dengan formula khusus ekonomi pengendalian dimana negara secara politik tetap dengan sistem komunis tapi secara ekonomi dan industri sangat kapitalistik, terutama untuk perdagangan internasional.

Kehebatan Cina mematahkan teori ekonomi klasik, khususnya tentang pertumbuhan. Jika suatu negara tumbuh di atas dua digit dalam 3 tahun berturut-turut ekonominya akan mengalami “over heated”. Namun Cina membuktikan dalam 3 dekade aman-aman saja sehingga dengan pertumbuhan dua digit sampai terjadinya perlambatan ekonomi Cina akibat bangkitnya ekonomi Amerika Serikat (AS) pada tahun 2014 (setelah resesi pada tahun 2008–2013).

Peran Cina besar terhadap ekonomi AS, sewaktu krisis tahun 2008. Cina memborong dolar Amerika Serikat (USD) dan surat-surat utang AS, sehingga AS membuka pintu untuk produk-produk Cina di AS, khususnya produk elektronik segmen bawah. Justru hal itulah yang disesalkan Trump dalam hubungan dagang dengan Cina. AS mendapat apa?

Cina berhasil membuktikan bahwa produk elektronik yang selama ini didominasi produk Jepang (harga premium) dengan masa pakai panjang (8–10 tahun) tidak sesuai lagi dengan perubahan teknologi yang pesat. Lebih baik murah tapi masa pakai diperpendek (5–7 tahun), sementara harganya di bawah produk Jepang adalah produk-produk Korea Selatan.

Prinsip dasar Yahudi (AS), mereka perlu keseimbangan demokrasi dengan komunisme menjadi partner tanding dalam pengaruh politik dunia. Sistem kapitalisme dalam ekonomi dengan sosialisme agar terukur dan terus ada penyempurnaan sehingga tujuan akhirnya merebut kedaulatan dunia secara fisik (militer, ekonomi dan hukum ala Anglo Saxon) berjalan mulus dengan skema globalisasi. Cina dan Korea Selatan adalah partner strategis AS dalam ekonomi.

Kita bisa katakan, dengan hadirnya Yuan sebagai mata uang dunia setelah USD, Euro, dan Yen sehingga beban USD tidak menjadi beban tersendiri bagi AS karena share USD 45%, Euro 20%, Jepang  9%, Cina 15%, lain-lain 11%.

Bisa dikatakan, keterlibatan Cina dalam IMF dan World Bank bagai pisau bermata dua, satu sisi sebagai simbol eksistensi sebagai negara kuat di bidang ekonomi dan menjadi kebanggaan nasional, namun di sisi lain keterlibatan Cina menanggung beban secara moneter sangat berpengaruh pada ekonomi dalam negeri Cina sendiri. Jika terjadi gejolak ekonomi dunia seperti saat ini karena Cina masuk “zona bahaya” karena sistem moneter dan perdagangan dunia dikendalikan Barat, sehingga sangat mungkin dilakukan penyerangan seperti terhadap Jepang, dimana dilihat ada momentum perlambatan ekonomi Jepang dengan substitusi produk-produk elektronik di AS dari produk Korea Selatan dan Cina yang relatif murah. Hal yang sama suatu saat juga akan bisa dia lakukan untuk produk Cina dan Korea Selatan sebagai konsekuensi dari pasar bebas yang rule-nya ditentukan oleh Paman Sam (AS).

Perlambatan ekonomi Cina

Walaupun belum ada jaminan tentang keberlanjutan ekonomi Cina yang tiga tahun terakhir tumbuh 1 digit (6%-7% per tahun), namun menarik disorot dalam keberhasilan Cina mengadopsi dua sistem sebagai keberhasilan revolusi budaya. Intinya, negara yang sukses secara ekonomi adalah negara yang kuat akar budayanya.

Indonesia adalah negara besar yang kuat akar budayanya, namun digerus oleh Barat dengan budaya materialistik, individualistis serta rasionalitas yang melemahkan ketahanan nasional mulai dari era 1970-an yang disebut dengan era modernisasi di Indonesia. Sementara Jepang, Cina, India dan Korea Selatan berhasil secara ekonomi karena memiliki basis budaya yang kuat.

Cina setelah 3 dekade tumbuh 2 digit, padahal sejak 3 tahun terakhir negara itu tumbuh 1 digit, sekitar 6%-7% . Walau begitu, Cina tetap sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. Perlambatan ekonomi Cina terjadi karena imbas perlambatan ekonomi dunia yang terjadi setelah AS mengalami Subprime Mortgage akibat gagalnya proyek properti yang berbuntut bangkrutnya salah satu perusahaan keuangan dunia Lehman Brothers.

Dampaknya secara sistemik ke seluruh negara di dunia termasuk Cina yang ekspornya cukup besar ke AS. Hal ini diperburuk dengan orientasi kepemimpinan Donald J. Trump yang memposisikan Cina sebagai negara paling curang dalam berdagang dengan AS, negara No.1 dalam perdagangan dunia (WTO = World Trade Organization).

Cina diposisikan sebagai musuh utama dalam proxy war, sehingga AS akan mengevaluasi semua perjanjian bilateral dengan Cina. AS di bawah kepemimpinan Trump melakukan konsolidasi dalam negeri, termasuk penyesuaian-penyesuaian suku bunga the Fed yang mempengaruhi nilai tukar mata uang semua negara.

AS merasa khawatir dengan State Capitalism yang dijalankan Cina, sehingga seperti ada kekeliruan dalam Sistem Kapitalisme. Dengan penyesuaian suku bunga bulan lalu, devisa Cina tergerus ke titik batas psikologis karena menutupi keseimbangan Yuan sebagai mata uang dunia. Keperkasaan USD menjadi momok bagi Cina dalam mengatur sistem moneter negaranya.

Energy Security Cina

Cina merumuskan pengamanan energi (Energy Security) agar kebutuhan energi Cina yang begitu besar terjamin suplainya. Oleh karena itu, Cina mengamankan jalur ekspor dan impornya dari negara atau kawasan asal ke tujuan.

Target jalur yang diincar, pesisir Laut Cina Selatan, secara geo-strategis dengan klaim wilayah udara khusus (ADIZ = Air Defense Identification Zone = Zona Identifikasi Pertahanan Udara). Bentangan jalur ini meliputi Samudra Hindia, Laut Arab, Teluk Persia. Kita mengenalnya dengan OBOR (One Belt One Road). Wajar jika Cina meningkatkan dengan pesat belanja militernya, termasuk membangun kapal induk (saat ini sudah selesai 2 kapal induk). Pembangunan infrastruktur militer juga bagian dari Energy Security. Hanya saja kapal Induk AS berada di beberapa wilayah Asia, di antaranya di Singapura. Sehingga jika Selat Malaka ditutup Cina perlu teritorial Indonesia seperti Selat Sunda dan Selat Lombok, alternatif bagi Cina karena keberadaan AS di wilayah tersebut.

Tidak heran jika Cina menghidupkan lagi nostalgia jalur sutera dan membantu pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Tercatat, ada infrastruktur dalam kerangka OBOR, seperti Pulau Haiman, landasan terbang militer di pulau Woody di Kepulauan Paracel. Begitu juga dengan fasilitas kontainer di Chittagong (Bangladesh), pembangunan pelabuhan di Sittwe (Myanmar), Pangkalan AL di  Gwadar (Pakistan), pipa melalui Islamabad dan Karakoram Highway ke Kashgari di Xinjiang, pelabuhan Hambantota di Srilanka, dan fasilitas intelijen di pulau-pulau Teluk Benggala dekat Selat Malaka. Namun, Cina dikejutkan dengan manuver Korea Utara dengan percobaan rudalnya yang membuat marah Paman Sam, karena partner strategisnya di Asia merasa terancam seperti Korea Selatan dan Jepang. AS meminta Cina mengatur perilaku “bernegara” Korea Utara dan membebankan bagaimana solusi terbaik di kawasan Asia Selatan. Celakanya, Korea Utara justru menantang jika AS menyerang akan membalas setimpal.

Proxy war AS vs Cina bagian dari keberhasilan Cina yang mengincar posisi sebagai negara terbesar ekonomi (setelah perdagangan), sehingga perang dingin dari kedua negara menentukan arah dan masa depan ekonomi dunia. Sementara, konflik di Asia Selatan yang memanas karena perilaku Korea Utara menjadi kerikil tajam hubungan AS dan sekutunya di Asia, Korea Selatan, dan Jepang. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here