Belanja Iklan Naik, Namun 50 Persen Advertising Jawa Timur Mati Suri

0
105
Budget concept

Nusantara.news, Surabaya – Terpilih lagi secara aklamasi untuk periode 2016-2020, Ketua Perhimpunan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Jawa Timur Haries Purwoko punya pekerjaan rumah yang tidak ringan. P3I Jawa Timur punya agenda mengembalikan kepercayaan klien kalangan perusahaan untuk memperbesar belanja iklan serta membangkitkan bisnis jasa perusahaan iklan (advertising) di Jawa Timur.

“Tantangan dunia periklanan saat ini adalah perkembangan teknologi yang kian maju. Diakui atau tidak, media sosial sangat berpengaruh menggerus belanja iklan,” katanya usai Konferensi Daerah XIII P3I Jatim, Sabtu (25/2/2017). Oleh karena itu ia berharap ada perbaikan pada komunikasi pemasaran dan bekerja berdasarkan target pasar dari perusahaan pemasang iklan, serta menekankan apa yang menjadi keunikannya.

Melalui langkah tersebut ia berharap kinerja industri periklanan akan membaik karena pada kenyataannya belanja iklan tidak pernah mengalami penurunan dan selalu naik sekitar 13 persen. Data P3I Jawa Timur, belanja iklan secara nasional pada 2016 mencapai Rp154 triliun atau naik 14-17 persen dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini diperkirakan naik sekitar 10-11 persen.

Haries mencontohkan dampak media sosial pada bisnis perusahaan taksi yang saat ini terancam oleh aplikasi alat transportasi dalam jaringan/daring atau online. Pengusaha yang juga wakil ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim itu mengakui bahwa pada 2016, perusahaan periklanan di Jawa Timur mengalami masa sulit.

Jika biasanya Jatim mendapatkan kue periklanan dari pusat sekitar 10 persen, kata dia, maka tahun lalu hanya mencapai 3-4 persen sehingga banyak perusahaan yang kelihatannya masih beroperasi tetapi tidak ada aktivitas pekerjaan akibat adanya perubahan perilaku pasar periklanan.

“Media sosial sudah menggerus 3 persen dari total kue periklanan yang ada dan mengalami kenaikan sekitar 1,5 persen per tahun, padahal kuenya tidak bertambah. Ini juga berpengaruh pada anggota P3I Jawa Timur. Sebelumnya mencapai 85 perusahaan, pada 2016 yang aktif tidak lebih mencapai 40 perusahaan,” ucapnya.

Pada kesempatan sama, Sekretaris Jenderal P3I pusat Adnan Iskandar membenarkan adanya perubahan perilaku dunia periklanan. Jika dulu dalam periklanan dikenal konsep AIDA (Attention, Interest, Desire dan Action), lanjut dia, saat ini tidak lagi karena konsumen yang ingin membeli produk akan lebih dahulu mencari tahu produk di internet.

“Setelah membeli, konsumen juga akan menuliskan pendapatnya di media sosial. Jika yang ditulis negatif maka akan langsung menghancurkan produk tersebut sehingga rekomendasi dari teman menjadi lebih penting dibanding iklan,” katanya.

Untuk itu, perusahaan periklanan harus optimis dan terus mengasah kreativitas dan inovasi. Karen industri periklanan saat ini telah mengarah pada industri kreatif yang membutuhkan berbagai inovasi baru.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here