Belgian Blue Berbobot 1,5 Ton Sebagai Solusi Swasembada Sapi

0
1131

Nusantara.news, Bogor – Pemerintah menargetkan 2027 Indonesia sudah swasembada sapi. Maka diperlukan pengembangan teknologi agar dihasilkan sapi jenis unggul yang memiliki bobot besar. Untuk pertama kalinya pula di Asia Tenggara, sapi jenis Belgian Blue yang memiliki bobot raksasa dikembangkan melalui transfer embrio.

Baru-baru ini, Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang di Bogor berhasil memproduksi sapi berbobot ‘raksasa’, hasil teknologi transfer embrio yang menggunakan donor dari Belgian Blue Cattle, sapi asal Belgia yang bobotnya bisa mencapai 1,5 ton dalam waktu dua tahun.

Ini merupakan hasil  dari uji coba yang melelahkan, bagaimana tidak? Dengan teknik inseminasi buatan dari 45 kali percobaan yang dilakukan, hanya 18 sapi yang berhasil bunting, dan hanya 6 ekor yang melahirkan. Sedangkan untuk transfer embrio, dari 10 kali percobaan, hanya satu yang berhasil dilahirkan.

Namun demikian, ini merupakan hal yang membanggakan, karena kelahiran sapi Belgian Blue dari metodologi transfer embrio merupakan yang pertama di Asia Tenggara. “Ini sangat bersejarah sekali, karena ini adalah sapi embrio pertama yang berhasil di Asia,” kata Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Investasi, Syukur Iwantoro kepada wartawan di Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Bogor, Minggu (5/3/2017).

Sapi ini lahir pada 30 Januari 2017, dan dinamai Gatot Kaca oleh Direktur Pembibitan dan Produksi Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Surachman Suwardi. Sapi ini diharapkan mampu menghasilkan keturunan dengan mutu genetik yang unggul dan memberikan andil besar bagi pemenuhan kebutuhan daging nasional.

Sapi Belgian Blue sendiri merupakan salah satu sapi jenis unggul di dunia yang bobotnya bisa mencapai 1,5 ton dalam waktu dua tahun. Jumlah ini lebih besar dari sapi jenis Limosin yang beratnya sekitar 600-700 kg dalam waktu yang sama.

Bahkan dua bobot sapi Belgian Blue dalam waktu dua tahun, mencapai 10 kali lipatnya bobot sapi lokal dalam waktu yang sama. Namun memang, penanganan sapi jenis ini harus lebih ekstra, karena genetiknya yang berbeda dengan jenis sapi-sapi lainnya.

Sapi ini, lanjut Syukur pertumbuhan beratnya jauh jauh lebih besar dibandingkan sapi jenis lainnya yang ada di Indonesia. “Pertumbuhan per harinya itu bisa 1,7-2 kg per hari. Kalau sapi Indonesia kan 0,7 kg. Australia 1,5-1,6 kg per hari. Karkasnya juga 73%. Kalau Indonesia kan 54-55%, Australia 62%. Berarti tulangnya kecil, dagingnya banyak, karena kadar lemaknya juga rendah,” jelasnya

Pemilihan sapi Belgian Blue merupakan upaya pemerintah mencapai swasembada daging, yakni dengan mencari bibit sapi unggul, yang tingkat pertumbuhannya per hari itu bisa mencapai berat yang maksimal.

Lebih jauh Alumni IPB ini, mengatakan cara-cara seperti ini akan terus dilakukan Kementerian Pertanian sambil mengupayakan berbagai langkah lainnya agar swasembada sapi dapat diwujudkan. “Untuk mencapai itu, ada hal lainnya yang perlu diperkuat agar swasembada daging bisa terpenuhi,” katanya.

Yaitu dengan cara, pertama menjamin ketersediaan pakan yang berkualitas dan berkelanjutan serta murah harganya. “Untuk pakan harus berkualitas dan murah. Kalau berkualitas tapi mahal pasti susah juga, dagingnya pasti mahal kan. Itulah kondisi yang ada di kita sekarang. Jadi daging kita itu mahal bukan hanya karena pasokan, tapi mahalnya harga pakan,” ujar putera asli kota soto, Lamongan..

Yang ke dua adalah melalui pencarian bibit unggul, yang tingkat pertumbuhan per harinya maksimal, seperti Belgian Blue yang saat ini juga tengah dikembangkan. BET Cipelang sendiri juga tengah melakukan pengembangan teknologi lainnya pada sapi bibit unggul jenis lainnya yang berasal dari Spanyol dan Meksiko.

“Kita ini mencari bibit-bibit unggul yang mampu menghasilkan daging yang banyak, kami tidak perlu memuliakan lama, yaitu dengan melakukan transfer teknologi. Salah satunya yang menghasilkan daging yang banyak adalah Belgian Blue, Galician Blond dari Spanyol dan Zebu dari Mexico (sedang dirintis),” paparnya.

Hal lainnya yang tak kalah penting dalam menjaga ketersediaan daging dengan harga yang terjangkau adalah rantai pasok atau distribusi. “Transportasi dan distribusi atau rantai pasok yang efisien itu penting,” tegas Syukur.

Dan terakhir adalah ketersediaan investor yang menjadi motor penggerak percepatan bibit-bibit unggul ini. Pengembangan teknologi seperti ini membutuhkan biaya yang cukup besar. Mulai dari survei bibit unggulnya, pembelian sampel, pengiriman hingga pengembangannya.

“Makanya dari awal kami menggunakan investor swasta dulu, kemudian pengembangannya kita kerjasamakan dengan BET. Nanti hasilnya sebagian untuk BET, sebagian ke pengusahanya,” jelasnya

Untuk mensuksekan rencana pemerintah yang ingin mengembangkan bibit-bibit sapi unggulan ini, Syukur mengatakan pihaknya tengah menjajaki adanya peluang kerja sama transfer teknologi antara Indonesia dan Belgia dalam mensukseskan pelaksanaan ini

“Ini kan dipengaruhi oleh jenis spesiesnya, skill yang ada di sini juga, metodenya, alatnya. Untuk bisa meningkatkan ini, tadi pak Dubes Belgia akan meningkatkan succes story dengan cara kawan-kawan di sini akan dilatih di sana. Termasuk expert di sana juga akan datang ke sini,” ujarnya

“Tadi kita sudah sepakati akan segera ditindaklanjuti, untuk meningkatkan skill, sekaligus belajar metodologinya, dan expert dari sana juga akan datang ke sini untuk melakukan pendampingan di sini. Kami harapkan alat-alat yang kurang juga nanti bisa dibantu dari Belgia,” tukasnya

Syukur mengatakan bahwa pemerintah memilih cara kawin silang bibit unggul dari negara lain yang terbukti baik kualitasnya ini karena prosesnya yang bisa lebih cepat. Namun tentunya diperlukan penanganan yang lebih baik, disertai pengetahuan dan teknologi yang maksimal agar produksinya bisa masif dan berkelanjutan.

Sebagai informasi, embrio transfer adalah teknik yang dapat meningkatkan jumlah keturunan dari sapi betina yang memiliki nilai genetika unggul. Sapi yang dijadikan sebagai donor harus memiliki nilai genetik superior, dengan siklus berahi yang normal dan bebas dari penyakit menular.

Semoga langkah ini bisa memantapkan langkah kita menuju swasembada pangan terutama sapi, agar kita benar-benar berdaulat. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here