Belum Jelas Siapa Calon yang Direkom, PDIP Mau Sowan ke Kiai Jatim

0
114
Megawati Soekarnoputri

Nusantara.news, Surabaya – Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan dipastikan akan selektif dan berhati-hati menentukan siapa sosok bakal calon yang akan diusung untuk maju di pemilihan Gubernur, Wakil Gubernur Jawa Timur di Pilkada Serentak Juli 2018.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jawa Timur Kusnadi mengatakan, selain konsentrasi pada penjaringan nama-nama bakal calon untuk Pemilihan Gubernur, Wakil Gubernur Jawa Timur yang telah dilakukan.

Tahapan kegiatan yang juga harus dilakukan selanjutnya adalah menyampaikan semua berkas bakal calon ke DPP. Untuk selanjutnya dilakukan pembahasan di internal DPP PDI Perjuangan sebelum pada akhirnya dikeluarkan rekomendasi partai, siapa yang disetujui dan dinyatakan mendapat dukungan partai untuk maju di pemilihan Gubernur, Wakil Gubernur Jawa Timur.

“Berkas semua bakal calon sudah di DPP. Biasanya, sebelum rekomendasi di turunkan, DPP juga akan menanyakan banyak hal terkait nama-nama yang akan maju pilkada,” ujar Kusnadi di sela Penyaringan Bakal Walikota/Wakil Walikota, Bupati/Wakil Bupati, Pilkada Serentak Jawa Timur, di Kantor DPD PDI Perjuangan Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (2/9/2017).

Termasuk di dalamnya juga akan disampaikan hasil survei dari internal DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. Juga kelengkapan data lainnya untuk melengkapinya sebagai pertimbangan yang akan dilakukan oleh DPP.

Termasuk, hasil diskusi di internal partai juga dipastikan akan dibutuhkan oleh DPP untuk bahan kajian sebelum menentukan atau menjatuhkan rekomendasi pada sosok atau nama. “Intinya, semua itu tergantung dari DPP, yang memiliki kewenangan,” tambahnya.

Selain nama-nama yang telah mendaftar, dipastikan sejumlah persyaratan juga menjadi acuan. Termasuk usulan dari cabang terkait munculnya sejumlah nama yang didorong untuk maju di Pemilihan Gubernur Jawa Timur.

Sesuai ketentuan, acuannya adalah mereka yang telah mendaftar di DPD Jatim, untuk maju sebagai bakal calon di pemilihan Gubernur, Wakil Gubernur Jawa timur. Tetapi, Kusnadi tidak menampik sebelumnya memang ada sejumlah cabang yang mengusulkan nama-nama lain. Mereka dinilai layak dan didorong untuk maju di perhelatan pemilihan Gubernur, Wakil Gubernur Jawa Timur.

“Sesuai ketentuan, semua nama termasuk yang diajukan oleh cabang, telah kita kirimi surat. Tetapi, selain ada yang menindaklanjuti dengan datang dan mendaftar, juga ada yang tidak datang dan tidak mendaftar,” urai Kusnadi yang juga Wakil Ketua DPRD Jawa Timur itu.

Seperti Saifullah Yusuf setelah menerima surat, pihaknya menindaklanjuti dengan datang dan mendaftarkan diri ke DPD PDI Perjuangan. Namun, sejumlah nama lain yang juga telah dikirimi surat namun tidak mendaftar, di antaranya Tri Rismaharini, dan Khofifah Indar Parawansa. Termasuk Said Abdullah telah mengambil formulir tetapi kemudian tidak mengembalikan sebagai syarat pendaftaran.

PDIP Sowan ke Kiai Jatim

Kantor DPD PDI Perjuangan Jatim (Foto:Tudji Martudji)

Sebelum rekomendasi dari DPP PDI Perjuangan turun dan diberikan kepada siapa, tidak salah jika ada yang menerka-nerka untuk siapa nantinya rekomendasi akan diberikan. Dipastikan, meski saat ini sejumlah nama telah resmi mendaftar melalui DPD PDI Perjuangan, belum ada jaminan bakal menerima rekomendasi atau persetujuan termasuk dukungan.

Masih terkait pemilihan Gubernur, Wakil Jawa Timur diperoleh keterangan dalam waktu dekat partai berlambang kepala banteng moncong putih itu akan berkunjung ke sejumlah kiai di Jawa Timur.

Ditanya soal itu, Ketua DPD PDI perjuangan yang juga wakil rakyat di DPRD Jawa Timur, Kusnadi membenarkannya. Kepada wartawan dia kemudian mengatakan kalau partainya akan sowan ke para kiai di Jawa Timur. Meski tidak detail, siapa saja kiai di Jawa Timur yang akan didatangi, pihaknya memastikan itu akan dilakukan oleh Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, tepatnya di bulan ini.

“Untuk tepatnya kita belum tahu, yang jelas Sekjen DPP akan melakukannya bulan ini. Ke para kiai siapa saja, itu juga belum kita ketahui. Kita dari DPD siap menunggu perintah,” urai Kusnadi.

Ditambahkan, rencana tersebut sebelumnya telah dilakukan pembahasan di internal partai. Dikatakan, masih terkait pemilihan Gubernur, Wakil Gubernur Jawa Timur partainya sangat menghormati kultur di Jawa Timur yang merupakan basis Nahdliyin. Dan, terkait itulah partainya juga tidak lupa untuk melakukan komunikasi kepada para kiai.

“Semua tergantung DPP. Seperti dari hasil diskusi kemarin dengan Sekjen DPP. Karena Jawa Timur adalah ‘rumah Nahdliyin’ diperoleh kesepakatan kita akan bekerja sama dengan Nahdlatul Ulama, dan PDI Perjuangan akan sowan ke para kiai di Jatim,” jelasnya.

Ditambahkan, rencana akan bertandang ke para kiai di Jawa Timur itu oleh Sekjen DPP disampaikan lisan. Untuk waktunya DPD PDI Perjuangan Jawa Timur dikatakan masih menunggu perintah atau penugasan tertulis.

“Untuk kapannya kita belum tahu kepastian, kita menunggu perintah saja. Termasuk ke kiai siapa saja yang akan dikunjungi, kita dari DPD juga belum tahu,” tegas Kusnadi.

Khofifah Bisa Langsung Lewat DPP

Khofifah Indar Parawansa

Seperti diberitakan, sejumlah nama telah mendaftar melalui DPD PDI Perjuangan untuk maju menjadi Bakal Calon Gubernur (Bacagub) atau Bakal Calon Wakil (Bacawagub) Jawa Timur, mereka mengambil dan mengembalikan formulir sendiri atau ada juga yang diwakilkan. Ada Saifullah Yusuf, Kusnadi, Suhandoyo, Abdullah Azwar Anas, Budi ‘Kanang’ Sulistyono dan lainnya.

Sesuai ketentuan partai, nama-nama tersebut telah disetor ke DPP PDI Perjuangan. Selanjutnya pembahasan dan lainnya menjadi kewenangan DPP, siapa yang akan menerima rekomendasi untuk maju menjadi bakal calon.

Bagaimana untuk nama lain, yang belum mendaftar atau yang sudah mengambil formulir tetapi tidak mengembalikan. Ketua DPD itu menegaskan, sudah menjadi ketentuan partai semua harus mengikuti ketentuan. Mengambil formulir dan mengembalikannya sebagai tanda resmi mendaftarkan diri melalui DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. Tetapi, lanjut Kusnadi, bisa saja DPP PDI Perjuangan kemudian melakukan langkah lain.

Pihaknya mengakui ketentuan itu bisa dilakukan dengan melalui DPP. DPD biasanya juga mendapat tembusan jika ada nama yang mendaftar melalui pusat atau DPP. Kemudian, jika rekomendasi dari DPP turun, dipastikan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur akan menerima tembusannya. Kemudian dari DPD diteruskan kepada nama yang bersangkutan.

“Bisa saja, kemungkinan ada yang langsung ke DPP, contohnya Mundjidah Wahab dia langsung mendaftar ke DPP untuk maju di Pilkada Jombang,” jelasnya.

Sementara untuk hari ini, masih kata Kusnadi adalah tes lanjutan dari tahapan pelaksanaan tes yang dilakukan di tahap pertama yang diikuti oleh para kandidat sebagai bakal calon di pemilihan kepala daerah di daerahnya masing-masing.

“Ini lanjutan tes lisan, dari sisa yang telah mengikuti tes sebelumnya untuk bakal calon Bupati/Wakil Bupati yang akan maju pilkada,” tambahnya.

Hasil tes dan semua catatan yang didapat oleh DPD dari bakal calon sesuai mekanisme akan diteruskan ke DPP PDI Perjuangan. Sementara untuk hasilnya atau rekomendasi menjadi kewenangan DPP PDI Perjuangan.

“DPD hanya menjalankan ketentuan, mengumpulkan semua bahan yang perlu digali dari para calon. Selanjutnya itu dikirim sebagai ke DPP,” tambahnya.

Ditanya target PDI Perjuangan di pemilihan kepala daerah di Jawa Timur ini, Partainya akan sangat berhati-hati. Tidak mau terulang seperti kekalahan, di Pilkada Kabupaten Lamongan. Harapannya, meski tidak memiliki 20 kursi, partainya berharap dengan menggandeng partai yang cocok akan didapat kemenangan.

Megawati ke Jatim Peta Pilgub Bisa Berubah 

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri akan datang ke Jawa Timur. Apa ada kaitannya dengan menjelang pelaksanaan pemilihan Gubernur Jawa Timur? Soal itu, Kusnadi menyebut hal itu sebagai peristiwa biasa yang dilakukan untuk konsolidasi partai.

“Itu untuk konsolidasi, tepatnya nanti tanggal 10 September ibu Mega akan meresmikan kantor DPC di Malang. Yang jelas saat itu juga mengundang DPC se Jatim,” terangnya.

Masih soal PDI Perjuangan dan jelang Pilgub Jawa Timur, pengamat politik Mochtar W Oetomo dosen Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Trunojoyo menyebut Pilgub Jawa Timur sinyalnya sangat kuat untuk menarik perhatian pusat atau Jakarta. Kemungkinan apa pun bisa saja terjadi, termasuk perubahan yang sebelumnya tidak diperkirakan orang.

“Sejauh ini sinyal kuat, seperti beberapa kali dilontarkan oleh Sekjen PDIP, akan diberikan ke Gus Ipul. Tetapi bisa saja peta berubah kalau dalam waktu dekat Khofifah deklarasi, dan bisa saja PDIP mengubah skenario,” terang Mochtar Oetomo, Sabtu (2/9/2017).

Termasuk jika, tiba-tiba Risma ternyata juga maju Pilgub Jawa Timur. Dia menyebut, dengan mengusung Tri Risma ada kemungkinan besar untuk mencuri kemenangan di tengah rivalitas sengit antara Gus Ipul vs Khofifah. “Itu bisa saja terjadi, Risma akan melaju meninggalkan dua nama tersebut, itu soal cagub,” tambahnya.

“Kalau soal cawagub menurut saya peluang terbesar ada di 3 nama, yakni Abdullah Azwar Anas, Kusnadi dan Kanang. Soal siapa yang dipilih sangat bergantung pada apa tujuan dan orientasi utama PDIP dalam Pilgub Jatim ini,” tambahnya.

Disebutkan, jika tujuan dan orientasinya adalah marwah partai, kesolidan partai dan kestabilan dalam menghadapi Pileg dan Pilpres 2019 maka pilihan logisnya adalah Kusnadi.

“Karena sebagai Ketua DPD PDIP Jatim, Kusnadi adalah representasi dari partai, membawa marwah partai, memegang kendali mobilitas hingga ke akar rumput dalam menghadapi Pileg dan Pilpres 2019 nantinya,” terangnya.

Sejauh ini, masih menurut dia, tidak ada komunikasi politik yang cukup memadai baik yang dilakukan DPD maupun DPP PDIP ke Khofifah. Khofifah juga tidak mendaftar penjaringan PDIP, kecil sekali kemungkinan PDIP mengusung Khofifah. Apalagi sejauh ini bola Khofifah lebih banyak dimainkan oleh Golkar, PPP, Nasdem dan Hanura. “PDIP sebagai partai kedua di Jatim tentu tidak mau hanya menjadi partai pendukung,” tegasnya.

Jokowi Jilid Dua

Pengamat Politik Mochtar W Oetomo

Sementara, jika Saifullah Yusuf atau Gus Ipul jadi diusung oleh PKB-PDI Perjuangan, itu juga bentuk pengamanan Jokowi dua periode. Karena, PKB dan PDI Perjuangan juga partai pendukung pemerintah. Dan jika Khofifah jadi diusung oleh Partai Golkar, PPP, Nasdem dan Hanura yang notabene juga partai politik pendukung pemerintah maka skenario Jokowi dua periode untuk Jatim bisa dibilang aman.

“Karena siapa pun yang menang baik Gus Ipul atau Khofifah, maka masih dalam kendali Jokowi,” terang Mochtar W Oetomo.

Sementara, kalau tujuannya koalisi tersebut untuk menutup lubang suara Gus Ipul pada basis nasionalis dan Mataraman. Maka Budi Kanang-lah yang paling logis. Mengingat Kanang cukup populer di wilayah Mataraman, itu terkait posisinya sebagai Bupati Ngawi.

“Budi Kanang bukan hanya memiliki modal sosial politik yang bisa menutup lubang Gus Ipul, tetapi lebih dari itu,” katanya.

Tidak mustahil, selain sebagai kepala daerah, Budi Kanang kabarnya juga memiliki modal kapital yang memadai. Tetapi kalau tujuannya kemenangan Jawa Timur, yang lebih meyakinkan logikanya Anas yang dipilih, karena popularitas dan elektabilitas Anas di berbagai survei cukup tinggi. Sebagai tokoh muda, Anas yang banyak dipandang memiliki harapan cerah untuk memajukan Jawa Timur karena keberhasilannya memimpin Banyuwangi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here