Benahi Dunia Pendidikan Sebagai Basis Penguatan Karakter

0
249

Nusantara.news, Jakarta – Melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 tahun 2017  tentang Pendidikan Penguatan Karakter (PPK) Presiden Jokowi menggulirkan program revolusi mental bagi siswa-siswi sekolah di seluruh Indonesia. Tujuannya untuk membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045. Karena satuan pendidkan sebagai basis PPK, maka perlu dilakukan pembenahan terhadap masalah masalah di dunia pendidikan terlebih dahulu.

Revolusi Mental

Dari segi bahasa, karakter diartikan sebagai tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Pengertian ini sejalan dengan pengertian yang diberikan ahli psikologi, yang mengatakan karakter sebagai sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu.  Jika kita mengetahui karakter seseorang maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu.

Karakter seperti apa yang ingin dikuatkan? Ada sebanyak 18 nilai. Seluruh atau 18 nilai tersebut tertuang dalam Pasal 3 Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 tahun 2017 dikatakan, PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meiiputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatit, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungiawab.

Secara teknis, Perpres PPK menggariskan, karakter yang dibangun seperti dikemukakna di atas, dilakukan dengan cara harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga melalui kegiatan intrakurikuier, kokurikuler dan ekstrakurikuler di seluruh sekolah formal mau pun non formal selama masa sekolah yang berlangsung 6 atau 5 hari. Pihak-pihak dilibatkan sebagai pelaksana dalam hal ini adalah kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental

Penyelenggaraan PPk dalam kegiatan intrakurikuler dilakukan penguatan nilai-nilai karakter melalui kegiatan penguatan materi pembelajaran, metode pembelajaran sesuai dengan muatan kurikulum berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan.

Penyelenggaraan PPK dalam kegiatan kokurikuler dilakukan penguatan nilai-nilai karakter yang dilaksanakan untuk pendalaman dan atau pengayaan kegiatan Intrakurikuler sesuai muatan kurikulum.

Sementara penyelenggaraan PPK dalam kegiatan ekstrakurikuler dilakukan penguatan nilai-nilai karakter dalam rangka perluasan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerja sama, dan kemandirian Peserta Didik secara optimal. Kegiatan ekstrakurikuler dalam hal ini meliputi kegiatan krida, karya ilmiah, latihan olah bakat/olah minat, dan kegiatan keagamaan, serta kegiatan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kegiatan keagamaan dilaksanakan paling sedikit melalui pesantren kilat, ceramah keagamaan, katekisasi, retreat, dan/atau baca tulis Al Quran dan kitab suci lainnya.

Kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler dapat dilakukan melalui kerja sama antara satuan pendidikan formal dengan satuan pendidikan nonformal dan antara satuan pendidikan formal dengan lembaga keagamaan atau lembaga lain yang terkait.

Dalam Perpres PPK ditegaskan, apa yang diharapkan dari GRNM yang didanai oleh pemerintah ini adalah, membangun dan membekali peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045 dengan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang baik guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan.

Karakter ke-Indonesia-an

Seluruh nilai atau karakter yang berjumlah 18 sebagaimana tertuang dalam Pasal 3 Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 tahun 2017, pernah diposting oleh Alfiska Oktayati dalam blog “Bahan IPS” tanggal 10 Juni 2013, dengan urut-urutan yang sama. Menurut Alfiska Oktayati yang menulis di blog berpendidikan Universitas Muhammadiyah Sukabumi ini, 18 nilai tersebut adalah karakter bangsa Indonesia.

Walaupun diklaim sebagai karakter bangsa Indonesia, tetapi nilai-nilai itu bukan monopoli bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia malah tidak lebih hebat dalam mewujudkan 18 nilai itu tadi.

Bangsa Jepang misalnya, dikenal sebagai bangsa yang sangat disiplin, sangat rajin membaca dan juga bangsa yang sangat pekerja keras. Bushido (kesatria atau nasionalis), Makoto dan Ganbatte Kudasai (jujur dan tulus), Keishan (kreatif, inovatif, dan produktif), Kaizen (gesit atau cekatan), dan tak pernah meremehkan pekerjaan sekecil apapun, adalah prinsip prinsip yang menjadi karakter yang membawa kemajuan bangsa Jepang.

Dalam hal nilai-nilai relijius, menurut penelitian Wordatlas, Indonesia hanya salah satu dari tujuh negara paling relijius di dunia. Enam lainnya adalah Armenia, Thailand, Yaman, Malawi (Afrika Selatan), Sri Langka dan Nigeria sebagai negera paling relijius di dunia.

Dalam hal toleransi, Indonesia bahkan tidak masuk dalam lima negara paling toleran di dunia seperti yang dirangkum iyaa.com. Negara paling toleran itu adalah  Islandia, Kanada, Irlandia, Selandia Baru dan Finlandia sebagai bangsa paling toleran di dunia.

Oleh sebab itu, jika GNRM berhasil mengadopsi atau memperkuat 18 karakter tadi menjadikarakter ke-Indonesia-an, maka akan menjadi bekal yang sangat cukup bagi peserta didik sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045 guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan.

Perpres PPK itu sendiri patut mendapat apresiasi, karena pelibatan seluruh sekolah di Indonesia, dan pendanaan yang sudah diatur dibiayai oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah dan sumber pendanaan lain, maka PPK ini menjelma menjadi gerakan nasional.

Dunia Pendidikan

Masalahnya sekarang adalah bagaimana teknis menginternalisasi atau memperkuat atau mengadopsi 18 karakter bangsa tadi. Sebab menginternalisasi karakter terkait dengan cara berfikir.  Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran. Dalam pikiran terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidup seseorang. Program ini yang membentuk sistem kepercayaan yang akhirnya membentuk pola berpikir yang mempengaruhi perilaku, atau menjadi karakter.

Masalahnya adalah bahwa hal-hal yang terkait dengan upaya menginternalisasi sesuatu ke dalam pikiran, tentulah bukan pekerjaan sederhana. Sebab tidak semua kegiatan yang dilakukan seseorang dapat diterima oleh sistem kepercayaan dan memprogram atau membentuknya menjadi karakter.

Internalisasi dalam negara totaliter menurut Avram Noam Chomsky,  seorang profesor linguistik dari Institut Teknologi Massachusetts, memang mudah dilakukan. Tetapi dalam masyarakat bebas, proses internalisasi jelas tidak semudah yang dibayangkan.

Pertanyaannya, siapkah guru-guru membuat program internalisasi dalam masyarakat bebas seperti Indonesia?

Pertanyaan ini semakin penting dikemukakan karena di dunia pendidikan di Indonesia itu sendiri, ada sejumlah masalah. Antara lain soal gaji guru yang masih rendah, fasilitas sekolah yang kurang memadai dan lain sebagainya.

Peristiwa tauran yang menggejala di kalangan siswa sekolah setingkat SMP dan SLTA merupakan salah satu ujung dari masalah-masalah di dunia pendidikan tadi.

Persoalan ini harus dikemukakan secara dini, mengingat gerakan revolusi mental yang diperintahkan oleh Perpres PPK menggunakan dana negara yang jumlahnya tidak kecil karena dilakukan secara masif.

Karena dunia pendidikan diletakkan sebagai pelaku utama penguatan atau pembentukan karakter, maka masalah-masalah yang masih menggelayuti dunia pendidikan perlu dibenahi terlebih dahulu.

Pembenahan ini penting, agar program penguatan karakter tadi tidak sekadar seremoni tanpa pertanggungjawaban terhadap hasil yang diperoleh. Pembenahan masalah di dunia pendidikan juga penting agar penguatan atau pembentukan karakter berlangsung secara kualitatif sehingga kuat dan tidak tergerus oleh teladan-teladan negatif yang begitu banyak muncul di media massa, baik dari para pemimpin dan tokoh masayarakat lainnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here