Benang Merah Antara Menteri Enggartiasto dan Bowo

0
240
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita diduga memberikan dana Rp2 miliar kepada Bowo Sidik Pangarso untuk kepentingan serangan fajar pada Pilpres 2019.

Nusantara.news, Jakarta – Bagi Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, hari Senin (29/4) adalah hari yang menegangkan. Selain harus menghadiri sidang kabinet di Istana Negara, pada saat yang sama ruang kerjanya harus digeledah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

KPK sendiri menggeledah ruang kerja Enggar terkait dengan kasus suap yang menjerat anggota DPR  Bowo Sidik Pangarso. Dari dalam ruang kerja Mendag, tujuh petugas KPK keluar dari gedung Kemendag sambil membawa dua koper warna hitam dan orange.

Lantas apa hubungan Enggar yang berasal dari Partai Nasdem dengan Bowo yang berasal dari Partai Golkar? Adakah jejaring hubungan yang kuat diantara keduanya?

Ketua KPK Agus Rahardjo menyatakan penggeledahan itu awalnya terkait dengan adanya keterangan dari Bowo. Untuk mendalaminya, Agus mengatakan, tim KPK pun bergerak melakukan penggeledahan.

"Ada keterangan yang membutuhkan (dan) menemukan alat bukti yang lebih. Kan disampaikan salah satunya uangnya dari sana, ya kita dalami, barangkali ada keterkaitannya, barangkali yang disampaikan itu betul," tegas Agus.

Kabiro Humas KPK Febri Diansyah mengatakan penggeledahan ruang kerja Mendag adalah sebagai bagian dari proses penyidikan perkara tindak pidana korupsi dugaan gratifikasi yang berhubungan dengan tersangka Bowo. Atas dasar pengakuan Bowo bahwa dirinya menerima dana Rp2 miliar dari Enggar itulah sehingga ruang Mendag digeledah.

Hasil penggeledahan ruang kerja Menteri Enggar itu, Tim Penyidik KPK berhasil menyita sejumlah dokumen, salah satu dokumen yang disita adalah terkait dengan perdagangan gula.

“Sejauh ini telah diamankan dokumen-dokumen terkait perdagangan gula,” kata Febri kepada wartawan kemarin.

Febri menambahkan penggeledahan itu dilakukan sebagai tindak lanjut dari fakta yang muncul dalam proses penyidikan.

"KPK perlu lakukan penggeledahan hari ini untuk menindaklanjuti beberapa fakta yang muncul selama proses penyidikan. Bukti-bukti yang relevan, seperti dokumen-dokumen terkait, di sana perlu kami cermati. Ini bagian dari proses verifikasi atas beberapa informasi yang berkembang di penyidikan," demikian Febri.

Sementara Menteri Enggar ketika ditemui di kompleks Istana Kepresidenan membantah telah memberi dana Rp2 miliar kepada Bowo, mengingat antara dirinya dan Bowo tidak ada hubungan khusus. "Apa urusannya saya ngasih duit?" ketus Enggar.

Dia menyatakan mengetahui tentang penggeledahan yang dilakukan KPK atas ruang kerjanya. Namun dia mengaku tidak tahu apa yang dicari KPK.

"Belum (dapat kabar)," kata Enggar siingkat. Meski dalam suasana gundah gulana, Enggar berusaha tampil ceria dengan terus menebar senyum kepada wartawan.

Enggar merasa yakin betul dan membantah soal tudingan pengacara Bowo bahwa dirinya memberikan dana Rp2 miliar kepada Bowo. “Dari saya yakin betul nggak ada (memberikan uang kepada Bowo). Dia (Bowo) kan dari Golkar, saya dari Nasdem,” kilah Enggar untuk meyakinkan bahwa tidak ada hubungan di antara keduanya.

Enggar juga membantah saat dimintai konfirmasi soal kepentingan Mendag dalam kasus dugaan suap terkait kerja sama penyedia kapal pengangkut distribusi pupuk. Dia menegaskan, yang memberikan izin perihal kerja sama pengangkut pupuk itu adalah dirinya, sehingga tidak mungkin dia memberikan uang kepada pihak lain untuk mendapatkan izin. 

Yang memberikan izin saya, kan? Apa urusannya dia? Kenapa saya harus mengasih uang kepada orang lain? Saya yang memberi izin, kecuali dia yang memberi izin," katanya.

Seperti diketahui Bowo menjadi tersangka di KPK karena diduga menerima suap dari Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasti lewat seorang bernama Indung. KPK juga telah menetapkan Asty dan Indung menjadi tersangka.

Asty diduga memberi Bowo dana Rp1,5 miliar lewat 6 kali pemberian serta Rp89,4 juta yang diberikan Asty kepada Bowo lewat Indung saat operasi tangkap tangan terjadi. Suap itu diduga agar Bowo membantu PT HTK dalam proses perjanjian dengan PT Pupuk Indonesia Logistik.

Selain suap, KPK menduga Bowo menerima gratifikasi Rp6,5 miliar dari pihak lain sehingga total penerimaan Bowo berjumlah Rp8 miliar. Total Rp8 miliar itu kemudian disita dalam 400 ribu amplop di dalam puluhan kardus. Menurut KPK, uang itu diduga hendak digunakan sebagai serangan fajar untuk Pemilu 2019.

Nah, pihak lain yang memberikan gratifikasi kepada Bowo itu salah satunya disebut dari Direktur Utama PT PLN nonaktif Sofyan Basir, meski kemudian dibantah pengacara Sofyan. Selain itu, ada keterangan dari pengacara Bowo bahwa ada menteri pula yang memberikan uang ke Bowo.

Persoalannya kemudian, dimana benang merah antara Bowo dengan Enggar? Apa urusannya KPK sampai berani menggeledah ruang Mendag? Tentu KPK punya dasar hukum yang kuat dan tidak main-main dibalik penggeledahan tersebut, setidaknya ada bukti awal yang menguatkan.

Kepada penyidik saat diperiksa, Bowo mengungkapkan uang Rp 2 miliar yang ia  terima dari Enggar agar dia bisa mengamankan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 16/M-DAG/PER/3/2017 tentang Perdagangan Gula Kristal Rafinasi Melalui Pasar Lelang Komoditas, yang berlaku akhir Juni 2017. Saat itu Bowo merupakan pimpinan Komisi VI DPR yang salah satunya bermitra dengan Kementerian Perdagangan dan Badan Usaha Milik Negara.

Enggar diduga meminta Bowo mengamankan Permendag itu karena adanya penolakan dari sebagian besar anggota dewan dalam rapat dengar pendapat yang berlangsung awal Juni 2017. Dewan beranggapan gula rafinasi yang masuk pengawasan pemerintah tak seharusnya dilelang secara bebas dalam kendali perusahaan swasta.

Kepada penyidik, Bowo mengatakan pada masa istirahat Rapat Dengar Pendapat, Enggar menghampirinya lalu mengatakan bahwa nanti akan ada yang menghubunginya.

Beberapa pekan kemudian, orang kepercayaan Enggar menghubungi Bowo mengajak bertemu di Hotel Mulia, Jakarta Selatan pada pertengahan Juni 2017. Saat itulah, Bowo menerima uang Rp2 miliar dalam pecahan dolar Singapura.

Menurut pengacara Bowo, Saut Edward Rajagukguk, kliennya kemudian menyimpan uang itu dalam tabungan untuk persiapan dana Pemilu 2019. “Si menteri (Enggar) tidak mengetahui uang ini kemudian ditaruh ke dalam amplop,” ungkap Saut.

Tentu saja dua koper  yang dibawa oleh Tim Penyidik KPK akan membuka selebar-lebarnya kotak pandora yang akan menyingkap secara terang benderang benang merah hubungan antara Enggar dan Bowo. Bahwa kemudian dalam penggeledahan itu KPK menemukan modus kejahatan baru terkait impor gula atau lainnya, itu adalah bonus yang harus disyukuri.

Karena selain terkait urusan dengan Bowo, sebelumnya ekonom senior Rizal menuntut ke KPK soal pelanggaran impor pangan sejak Enggar memimpin Kemendag. Pada bagian lain ekonom Faisal Basri dengan tegas menyebut Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Enggar adalah lemak dalam kabinet Jokowi.

Kita mendukung KPK membuka lebih lebar lagi hubungan Enggar dan Bowo, sehingga kita bisa menangkap benar benar yang melatarinya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here