Benarkah Harga Participating Interest Rio Tinto 207% Lebih Mahal?

0
175
Transaksi divestasi 51,23% saham PT Freeport Indonesia dari FreeportMcMoran Inc kepada PT Indonesia Asahan Alumunium diindikasikan 200% lebih mahal dari seharusnya.

Nusantara.news, Jakarta – Uthak athik gathuk divestasi 51,23% saham PT Freeport Indonesia (FI) oleh PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) masih mengundang perdebatan yang tajam. Terutama perdebatan apakah harga beli divestasi saham tersebut senilai US$3,85 miliar sebagai harga yang wajar.

Ada banyak teori dan perhitungan yang disodorkan untuk menentukan harga PI saham Rio Tinto dalam divestasi saham tersebut. Namun Inalum sebagai korporat merasa memiliki perhitungan sendiri dan tidak bisa diganggu gugat. Celakanya cara perhitungan PI Rio Tinto tersebut yang tahu hanyalah para pihak yang ikut dalam perundingan.

Rakyat kebanyakan hanya bisa menonton dan merasa miris, bagaimana mungkin kita harus membeli hak milik kita sendiri hingga US$3,85 miliar atau ekuivalen dengan Rp55,8 triliun. Ironinya, Inalum harus menerbitkan global bond hanya untuk mewakili pemerintah menguasai kembali hak miliknya sendiri.

Sebagai bagai pengingat, pada 2017 Presiden jokowi keluarkan PP Nomor 47/2017 tentang Pengalihan Saham Pemerintah RI ke PT Inalum sebanyak, 21.300 lembar saham dengan harga sebesar US$25,231 per lembar saham.

Saat ini Inalum membeli saham freeport dari FreeportMcMoran Inc. (FCX) dan PT Indocoper Investama sebesar US$3,85 miliar. Ini setara dgn 95.282 lembar saham, sehingga harga setiap lembar menjadi US$40,406. Aneh bin ajaib, belum ada setahun ada lompatan harga saham dari US$25,231 menjadi US$40,406 per lembar saham.

Dalam hitung-hitungan kasar tentu ada pihak-pihak yang diuntungkan sebesar US$15,175 per lembar saham. Dengan kurs hari ini, maka sedikitnya ada pihak-pihak yang diuntungkan sebesar Rp20 triliun hanya dalam satu tahun. Dari mana perhitungannya?

Pemerintah melalui holding industri pertambangan yakni Inalum sudah menyepakati harga divestasi saham FI senilai US$3,85 miliar.

Dengan rincian, nilai PI 40% milik Rio Tinto seharga US$3,5 miliar dan 9,36% saham milik PT Indocopper Investama yang sepenuhnya dimiliki oleh FCX senilai US$350 juta.

Setelah dihitung-hitung, ada perbedaan perhitungan harga antara PI Rio Tinto dengan saham milik Indocoper Investama. Sebagai hitungan sederhana, jika kedua harga itu ditarik menjadi 100% harusnya akan mendapatkan harga yang sama. Namun ini berbeda.

Asumsinya, jika harga 40% PI Rio Tinto senilai US$3,5 miliar, maka harga 100% PI Rio Tinto adalah US$8,75 miliar. Sedangkan, harga 9,36% saham Indocopper senilai US$350 juta jika menggunakan perhitungan 100% maka jadinya US$6,25 miliar.

Ternyata perhitungan kasar tersebut keliru. Head of Corporate Communications Inalum Rendi A. Witular menyatakan, ada cara penghitungan yang berbeda antara PI Rio Tinto dengan saham Indocopper Investama.

Menurutnya, menghitung PI tidak bisa disetarakan sebagai saham terlebih dulu. Lagi pula, dalam klausul perjanjian antara FI dan Rio Tinto telah disepakati, bahwa Rio Tinto baru bisa mengubah PI menjadi saham di tahun 2022.

Jadi hitungannya 40% saja, tidak bisa ditarik 100% karena ini participating interest. Kenapa lebih besar, ya karena perhitungannya adalah proyeksi cash flow dari produksi sampai 2041 itu yang dihitung. Nilai present value 2041 itulah yang membuat harga PI Rio Tinto itu membengkak.

Kalkulasi ini mirip dengan pernyataan Corporate Secretary PT Inalum Rendy Witular menyatakan diberbagai media (13/7) “Hitung-hitungan Participating Interes Rio Tinto dan Saham Freeport Ternyata Beda ” bahwa valuasi Rio Tinto berdasarkan proyeksi cash flow produksi sampai akhir tahun 2041.

Begitu juga seperti dijelaskan dalam dokumen resmi dari PT Inalum 22/12/2018 bahwa Inalum telah menunjuk Danareksa, PwC dan Morgan Stanley untuk melakukan kajian keuangan, pajak, dan valuasi harga saham dan hak partisipasi Rio Tinto melalui metode ”discounted cash flow (DCF)“, kerjasama juga dilakukan dengan Behre Dolbear Australia dan Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia (LAPI) ITB untuk mengkaji cadangan , lingkungan dan opersional tambang FI. Valuasi 40% Hak PI Rio Tinto (ekuivalen dengan 30% dari 100% saham FI).

Valuasi hingga tahun 2041 didasari “Framework Agreement” yang telah disepakati antara FCX dengan Pemerintah pada bulan Agustus 2017, kesepakatan perpanjangan operasi maksimal 2 X 10 tahun hingga 2041 akan diberikan apabila syarat divestasi 51% PTFI sudah dilakukan, tegas bukan berdasar ketentuan didalam Kontrak Karya

Pertanyaannya, mengapa nilai PI Rio Tinto harus dibayar semahal itu? Di sinilah nilai ketidakadilan tersebut.

Adalah Ahmad Takalar Pribadi, mantan karyawan FI dengan jabatan terakhir Capital & Joint Venture Accounting. Sejak April 1996 sampai akhir 2003 ia terdaftar sebagai karyawan FI dimana sebagian besar pekerjaannya menangani Capital & Joint Venture Accounting. Dalam pekerjaannya ia melapor langsung ke Site Controller. Sementara Site Controller melapor ke CFO.

Artinya uraian Takalar benar-benar representatif, ia sangat menguasai perhitungan tersebut. Dalam berbagai medsos ia memaparkan bagaimana harga PI nya Rio Tinto hingga US$3,85 miliar.

Dari penjelasan di atas, inti asal mula PI Rio Tinto adalah setoran dana USD 400 Juta pada 20 tahun lalu, dan sekarang disepakati untuk dijual ke Inalum senilai US$3,5 miliar.

Kalau menurut matematika SD, maka harga jual tersebut kelewat mahal, karena nilai jualnya 87,5 kali modal saat beli. Nilai pelipatgandaan keuntungan ini bisa menjadi lebih dari seratus jika mempertimbangkan depresiasi aset.

Kalau menurut perhitungan ekonomi, mendasarkan pada konsep nilai waktu dari uang, yang rumus dasarnya: F = P * (1+i)^n

Dimana:
F = Nilai di masa datang

P = Nilai di masa sekarang

i = Suku Bunga per tahun

n = waktu pinjaman

Nilai uang yang diinvestasikan Rio Tinto sebesar US$400 juta,_ untuk mendapatkan PI 20 tahun lalu, kalau sekarang dijual dengan harga US$3,5 miliar, ibarat pinjaman dengan suku bunga 11,4552172275305% per tahun.

Suku bunga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan LIBOR yang diterapkan pada dana talangan PI-nya Freeport,  padahal yang dikeluiarkan hanya US$400 juta yang dikeluarkan Rio Tinto dua puluh tahun lalu.

Seharusnya pemerintah meminta Rio Tinto memberlakukan perhitungan yang sama antara “pinjaman dana” ke Feeport dengan perhitungan harga jual PI ke Inalum.

Perkembangan sejarah suku bunga LIBOR dalam kurun waktu 30 tahun terakhir (Sumber: https://www.macrotrends.net/1433/historical-libor-rates-chart).

Sejak 1995, LIBOR Rate selalu di bawah 8%.

Misal, kita menggunakan nilai suku bunga 8%, maka nilai sekarang dari dana US$400 juta yang dikeluarkan Rio Tinto untuk mendapatkan PI adalah:

= US$400.000.000 * (1+8%)^20
= US$1.864.382.857,54

Nilai ini akan turun lagi, jika kita menggunakan nilai rata-rata LIBOR selama 20 tahun. Terlihat bahwa nilai perhitungan Takalar 207% lebih murah dari harga deal antara Inalum dan FCX US$1,86 miliar berbanding dengan US$3,85 miliar.

Tentu saja perhitungan dan analisis tersebut dibuat Takalar dengan niat untuk menghindarkan kerugian Pemerintah Indonesia atau BUMN Inalum dalam proses pembelian PI Rio Tinto dan sebagian saham Freeport. Karena, secara hakiki Pemerintah Indonesia dan Inalum adalah milik seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI). Kerugian Pemerintah dan Inalum adalah kerugian seluruh Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Perhitungan itupun terbuka untuk dikritisi dan dievaluasi sebagai bentuk pertanggungjawaban profesional dan rasional. Tinggal bagaimana kita bisa memahami bahwa perhitungan harga PI Rio Tinto itu masuk akal atau tidak?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here