Benarkah Jokowi dan Prabowo Capres Favorit Generasi Milenial?

0
239

Nusantara.news- Jakarta – Jumlah masyarakat Indonesia yang disebut generasi milenial usia 15-39 tahun (lahir antara tahun 1980-2000)mencapai sekitar 84,75 juta. Sebuah angka yang sangat bisa menentukan siapa yang dimenangkan dan siapa yang dikalahkan pada pemilihan presiden yang digelar 17 April 2019 mendatang. Berbeda dengan orang muda di era pergerakan kemerdekaan yang berjuang untuk kepentingan umum, generasi milenial bergerak untuk “kepentingan” mereka sendiri.  Oleh sebab itu menjadi pertanyaan benarkah Jokowi atau Prabowo merupakan calon presiden favorit generasi milenial? Tetapi lepas dari itu, calon presiden sangat penting melakukan sesuatu terhadap generasi milenial. Tidak saja untuk kepentingan suara, tetapi yang tidak kurang pentingnya adalah untuk mulai melibatkan mereka dalam politik kenegaraan.

Pilihan Generasi Milenial?

Ada sejumlah survey yang coba melihat siapa presiden pilihan generasi milenial. Nama-nama yang muncul adalah nama-nama yang sudah dikenal secara umum, meliputi Presiden Joko Widodo, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, mantan  Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), politisi muda Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Gubernur Jakarta Anies Baswedan, Ketua Umum Perindo Harry Tanoesoedibjo, Menteri Keuangan Sri Mulyani. Nama-nama ini dilengkapi dengan besaran persentasi pemilihnya.

Nama-nama ini memang populer di Indonesia. Tetapi, benarkan hanya nama-nama ini yang ada di benak generasi milenial? Benarkan hanya nama-nama populer ini saja yang diidolakan oleh generasi milenial jadi presiden? Tidak adakah tokoh lain seperti artis film atau pengusaha atau ilmuan, atau budayawan, atau penggiat sosial media, atau ahli teknolkogi informasi yang menjadi idola generasi milenial?

Matt Britton, penulis buku peringkat delapan paling laris di  Los Angeles, Amerika Serikat tahun 2015, berjudul “Youth Nation: Building Remarkable Brands in a Youth-Driven Culture,”  mengatakan, generasi milenial tidak lagi menjadikan televisi dan media cetak sebagai media komunikasi.  Generasi milenial sudah mulai menggunakan media alternatif yang menghindarkan mereka dari iklan. Banyak dari mereka yang sudah menggunakan Netflix dan Hulu, yang tidak mengganggu mereka dengan iklan.

Di Indonesia, salah satu media alternatif yang digunakan generasi milenial adalah Instagram.  Oleh sebab itu, figur populer menurut generasi milenial adalah figur yang aktif di media sosial sejenis instagram.

Popularitas seseorang di mata generasi milenial dengan demikian tentunya adalah figur yang memiliki pengikut atau follower instagram besar. Semakin besar follower akun instagram seseorang semakin populer dia di mata generasi milenial.

Dalam konteks ini, benarkah nama-nama calon presiden di atas adalah pemilik akun instagram dengan jumlah pengikut besar yang layak membuat mereka dikenal dan diidolakan oleh generasi milenial?

Ternyata tidak. Nama-nama calon presiden yang dikatakan muncul dari hasil survey terhadap generasi milenial, ternyata bukan nama yang memiliki  akun dengan jumlah pengikut besar.

Di Indonesia ada lima pemilik akun instagram yang memiliki pengikut paling besar.  Pertama, penyanyi dangdut Ayu Ting Ting. Dia dinobatkan sebagai pengguna Instagram dengan pengikut alias follower terbanyak di Indonesia dalam acara #DiscoverYourStory di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Rabu (26/7/2017), Tak kurang dari 21,1 juta pengguna Instagram membuntuti keseharian Ayu Ting Ting melalui akun @ayutingting92.

Di posisi kedua ada akun penyanyi Syahrini (@princessyahrini) yang diikuti sekitar 18,7 jutaan netizen.

Di posisi ketiga ada pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina yang menggunakan akun bernama @raffinagita1717. Mereka diikuti sekitar 19 juta netizen.

Posisi ke-4 diduduki artis film dan sinetron Prilly Latuconsina (@prillylatuconsina96) dengan sekitar 17,8 juta netizen mengikutinya. Terakhir, Laudya Cynthia Bella (@laudyacyntiabella) menyabet posisi ke-5 sebagai pengguna Instagram Tanah Air yang paling banyak diikuti. Pemeran utama film Surga Yang Tak Dirindukan itu memiliki 17,5 juta follower.

Jumah pengikut akun Ayu Tingting dan kawan-kawannya itu jauh lebih besar ketimbang pengikut  akun instagram calon presiden yang disebut-sebut diperoleh berdasarkan survey terhadap generasi milenial.

Dari nama-nama calon presiden yang disebut-sebut di atas,  Presiden Joko Widodo memiliki akun instagram dengan pengikut paling besar mencapai 8,4 juta followers. Kemudian Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (7,8 juta followers), mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok(3 juta followers), politisi muda Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (2,5 juta followers), Gubernur Jakarta Anies Baswedan (1,1 juta followers), Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (993 ribu followers), Menteri kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (400 ribu follower), Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (343 ribu follower), Menteri Keuangan Sri Mulyani (321 ribu follower), Ketua Umum Perindo Harry Tanoesoedibjo (163 ribu follower, dan mantan  Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (3.917 followers).

Memang bisa diajukan pembenaran, bahwa survey yang dilakukan terkait dengan calon presiden, bukan sekadar popularitas. Pembenaran ini juga menjadi pertanyaan, bukankah media komunikasi generasi milenial bukan lagi televisi atau media cetak atau media online yang biasa digunakan para politisi? Bukankah generasi milenial telah bergeser ke media sosial yang salah satunya yang paling populer di Indonesia adalah instagram?

Berdasarkan hal ini, apakah benar nama-nama calon presiden yang disebut-sebut itu saja yang jadi pilihan generasi milenial?  Pertanyaan pertanyaan seperti ini perlu dimunculkan, sebab tidak tertutup kemungkinan pelaksana survey melakukan survey dengan pola pikir lama (pola pikir generasi old) yang berbeda dengan pola pikir zaman now.

Jika pelaksana survey tidak menyodorkan nama untuk dipilih, atau membuka peluang generasi milenial menyebut nama sesuai keinginan mereka sendiri, maka akan muncul nama-nama calon presiden yang bisa jadi “aneh” bagi generasi zaman old. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan pula, figur calon presiden yang diidolakan generasi milenial bukan lagi figur yang muncul dalam survey kecuali mungkin Jokowi, Ridwan Kamil, AHY, Anies Baswedan, Ahok,  yang aktif di instragram dengan jumlah pengukit di atas satu juta orang.

Generasi Pasca Sesat Pikir

Generasi milenial bukankah generasi yang apolitis yang tidak memberikan suaranya dalam pemilu.  Menurut survey yang dilakukan Majalah Femina yang dilansir 17 Jan 2017, 76% responden mengaku selalu menggunakan hak suara mereka tiap kali ada pilpres maupun pilkada.

Hasil penelitian sebuah lembaga  survey lain juga menunjukkan hal sama bahwa sebanyak 73,2 persen respoden memberikan suara pada pemilu legislatif 2014 dan sebagian besar (80%) menunjukkan keinginan besar untuk memberikan suara pada Pemilu Presiden 2019.

Jumlah pemilih dari kalangan generasi milenial mencapai 84,75 juta orang. Lebih banyak ketimbang perolehan suara Jokowi-JK saat memenangi Pilpres 2014 sebesar 70.997.85 suara (53,15 persen).

Tidak heran kalau Matt Britton mengatakan, generasi milenial memiliki pengaruh besar di masa depan untuk mengubah segala aspek mulai dari politik, budaya, hingga bisnis. Dengan kata lain, generasi milenial adalah motor pembangunan yang pengaruhnya semakin lama semakin besar.

Pertanyananya, apakah nama-nama yang muncul dalam bursa calon presiden sekarang sudah melakukan sesuatu yang pada intinya menjadikan generasi milenial sebagai fokus program?

Apakah betul pembangunan jalan tol secara massif sangat diinginkan atau sangat dibutuhkan oleh generasi milenial, mengingat mereka sudah memiliki dunia sendiri yang disebut media sosial, di mana dengan media sosial mereka mudah berkomunikasi dengan sesama mereka di mana pun berada tanpa batas dan jarak?

Apakah betul generasi milenial masih terpengaruh dengan isu-isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) mengingat pertemanan mereka di media sosial sudah melewati batas-batas SARA dan bangsa?

Lebih jauh lagi, jangan-jangan generasi milenial sudah tidak terlalu peduli terhadap apa itu nasionalisme mengingat mereka terikat pada suatu hal yang sama yang disebut dengan tren gaya hidup?

Generasi milenial atau generasi zaman now jelas tidak sama dengan generasi  sebelumnya, semisal generasi era perjuangan kemerdekaan. Orang-orang muda atau sebut saja generasi “milenial” pada era perjuangan kemerdekaan aktif bergelut dalam masalah-masalah politik, berjuang bukan untuk diri mereka melainkan untuk kepentingan umum, untuk kepentingan bangsa. Karena itu,  orang-orang muda di era perjuangan kemerdekaan itu terlibat dalam gagasan-gagasan umum, mengusung gagasan-gagasan umum dan tunduk pada kehendak umum atau tujuan bersama yakni kemerdekaan Indonesia.

Orang-orang muda sekarang yang disebut generasi milenial, berbeda. Setidaknya demikian menurut Matt B. Britton. Seperti apa generasi milenial?,

Menurut pria kelahiran Pennsylvania, 24 Januari 1975 yang juga pemilik media pemasaran pemuda yang berbasis di New York City ini, ada enam karakter generasi millenial. Pertama, generasi milenial memiliki banyak alternatif media dan saat ini cenderung menggunakan media sosial.

Kedua, hadirnya Instagram, semakin naik pula hasrat generasi millennial untuk membagi pengalaman mereka melalui foto, bahkan dengan cara real-time. Instagram memberikan peluang bagi mereka untuk mengubah kegiatan sehari-hari menjadi foto yang bisa diapresiasi.

Aplikasi ini juga memberikan mereka kesempatan untuk merasakan pengalaman sebagai fotografer atau seniman. Hal ini menjadikan sharing pengalaman begitu diapresiasi. Dengan ini pula, sebuah merek produk yang ingin ditawarkan harus fokus pada pemberian pengalaman, bukan lagi produk dengan argumen yang mencekoki atau argumen yang bersifat menjanjikan.

Ketiga, media sosial menjadi jalur untuk melakukan personifikasi. Penampilan, nada, dan rasa, menjadi suatu yang krusial apabila seseorang ingin diikuti oleh generasi milenial di media sosial sebagaimana para selebriti terkenal.

Keempat, dengan merebaknya informasi dan mudahnya interaksi, generasi milenial dihinggap perasaan takut ketinggalan berita, informasi, atau sekadar update mengenai apa yang sedang menjadi tren. Bukan hanya itu, mereka juga memiliki hasrat untuk menciptakan tren. Mereka tidak mau ketinggalan. Mereka ingin orang-orang mengikuti apa yang mereka lakukan. Inilah sebabnya mengapa mereka secara konstan mencari tempat-tempat makan baru, berlibur ke sudut-sudut negeri yang eksotik, atau sekadar melakukan hal yang dianggap melawan tren.

Kelima, generasi milenial adalah generasi yang menolak terikat dalam jangka waktu lama. Generasi ini ragu menjatuhkan pilihan pada sesuatu yang mengikat. Generasi ini lebih suka dengan cara yang fleksibel yang mana mereka bisa membayar hanya pada saat mereka membeli suatu produk atau menggunakan suatu fasilitas. Fleksibilitas dinilai lebih menggoda karena membebaskan mereka ini dari serangkaian komitmen yang tidak diperlukan.

Keenam, dengan literasi teknologi yang tinggi, generasi ini semakin terlihat bergerak ke arah self-employment atau pekerjaan yang memberikan mereka lebih banyak ruang untuk kebebasan individu.

Dari enam  ciri di atas dapat disimpulkan, bahwa generasi milenial hidup dengan arus kemajuan tekonologi informasi. Perpektif mereka terbentuk berdasarkan apa yang terdistribusi di media sosial, bukan berdasarkan apa yang apa yang ada di televisi atau media cetak atau media online lainnya yang cenderung didominasi oleh kebijakan pemerintah, pendapat ahli dan sejenisnya.

Perspektif mereka terhadap negara bangsa kemungkinan juga berbeda dengan orang-orang muda di zaman perjuangan kemerdekaan. Pemuda di zaman perjuangan “tunduk” pada kehendak bersama dan menyesuaikan diri dengan kehendak bersama itu, sedang generasi milenial cenderung menginginkan kehendak umum menyesuaikan diri dengan hasrat mereka.

Bagi generasi old, karakter generasi milenial ini mungkin tidak atau belum bisa diterima dan oleh sebab itu disebut sesat pikir. Namun, merujuk pada buku Rolf Dobelli berjudul, “The Art of Thinking Clearly,” maka kondisinya justru sebaliknya, di mana generasi old inilah yang berada dalam keadaan sesat pikir yang sesunguhnya.

Rolf Dobelli adalah seorang penulis dan pengusaha kelahiran Swiss  15 Juli 1966. Ia memulai karir menulisnya sebagai seorang novelis pada tahun 2002.  Berkat buku “The Art of Thinking Clearly,” yang terbit 2011 membuatnya terkenal secara internasional. Pria yang meraih gelar PhD bidang filsafat ekonomi dari Universitas St. Gallen ini berhasil merangkum 99 cara berpikir sesat karena memiliki kecenderungan untuk mengikuti otoritas, pihak yang berkuasa, atau cara berpikir yang oleh filsuf Jerman Friedrich Nietzsche sebagai mental budak, mental gerombolan, pengikut yang berkuasa.

Mengapa cara berpikir manusia sesat seperti ini? Rolf Dobely mengatakan, hal itu karena manusia ingin cari selamat dan berubah  (maju). Dalam evolusi yang berlangsung selama jutaan tahun, manusia dan makhluk hidup lainnya senantiasa berusaha untuk bertahan hidup dan berubah. Untuk bertahan hidup dan berubah, manusia dan banyak makhluk hidup lainnya hidup dalam kelompok dan menunjuk pemimpin kelompok. Pemimpin kelompok (yang tentunya sebagai pihak yang memiliki otoritas) dipatuhi, diikuti dan dijadikan pedoman. Sifat ini, sampai saat ini, masih berlangsung karena memang terbukti mampu membuat manusia dan makhluk hidup lainnya lolos dalam seleksi alam.

Dalam dunia informasi situasi seeprti itu masih hidup sampai sekarang. Sampai sekarang masyarakat masih menjadikan media utama sebagai sumber informasi seperti televisi, radio, media cetak dan media online lainnya. Sumber-sumber informasi yang dimunculkan di media itu adalah sumber-sumber yang berasal dari pihak yang berwenang atau tokoh yang dianggap ahli atau berkompeten. Media massa juga masih patuh pada jargon name make news.  Orang yang keluar dari pakem ini disebut orang yang berpikir sesat karena tidak mengikuti kecenderungan umum.

Namun, bagi Rolf Dobely justru cara berpikir seperti ini-lah yang sesat. Jargon name make news tadi adalah indikasi dari alam bawah sadar manusia tentang adanya keinginan untuk bersama kelompok, patuh pada pemimpin kelompok. Padahal, belum tentu semua berita dari sumber yang berwenang dan berkompeten tadi ada berita benar, karena sebagian sesungguhnya adalah berita hoax atau bohong. Anehnya lagi, banyak yang menikmati berita hoax ini dengan menjadikannya bahan untuk bergosip dan berkumpul bersama teman, keluarga, dan lainnya.

Karena itu, bagi Rolf Dobely cara berfikir ini adalah cara berfikir sesat. Sebaliknya, cara berfikir generasi milenial yang mengacu pada media sosial, termasuk yang dibuat olehnya sendiri, adalah cara berpikir tidak sesat.

Mengacu pada enam karakter generasi milenial yang dikemukakan Matt Britton, maka dapat dikatakan, generasi milenial sudah mulai meninggalkan mental budak, mental gerombolan, pengikut yang berkuasa tadi. Mereka tidak ingin mengikuti, sebaliknya justru ingin diikuti. Dalam hal pekerjaan, dengan literasi teknologi yang tinggi, generasi milenial semakin terlihat bergerak ke arah self-employment atau pekerjaan yang memberikan mereka lebih banyak ruang untuk kebebasan individu.

Oleh sebab itu, ada dua situasi yang aktual sekarang ini, yakni situasi di mana generasi old yang mungkin menganggap generasi milenial yang ingin diikuti tadi sebagai generasi sesat pikir, sementara generasi milenial mungkin mengganggap generasi zaman old sebagai generasi  yang masih terkungkung oleh cara berpikir sesat.

Sayangnya, generasi milenial ini tidak memiliki keinginan untuk mengemukakan siapa jati dirinya. Mereka tidak berusaha menggambarkan sosok atau karakter mereka, dan menyosialisasikannya agar  dipahami oleh orang lain. Mereka diam dan terus berjalan dengan pikiran mereka sendiri.

Dalam perspektif inilah even pemilihan presiden yang digelar 17 April 2019 mendatang, dinilai perlu melakukan suatu terhadap generasi milenial. Tidak saja dalam upaya merayu mereka untuk kepentingan suara, tetapi yang tidak kurang pentingnya adalah untuk mulai melibatkan mereka dalam politik untuk kepentingan bersama, mengingat mereka adalah motor pembangunan yang bergerak pasif.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here