Benarkah Kunjungan Obama ke Jokowi Demi Uranium Freeport?

0
365
Tambang Freeport memasuki periode akhir kontrak pada 2021, tarik ulur apakah kontrak akan diperpanjang atau tidak, semua tergantung pada keberanian Presiden Jokowi

Nusantara.news, Jakarta – Dalam sepekan terakhir headline media massa dan berita utama televisi dan radio menyoroti kunjungan mantan Presiden AS Barrack Obama ke Indonesia. Awal kunjungan berita yang mencuat adalah soal liburan keluarga Obama di Pantai Ubud, Bali.

Tapi berita terus berkembang liburan keluarga Obama ke pelosok-pelosok Bali, bahkan mampir ke Malioboro, Yogyakarta. Salah satu jadwal penting lainnya adalah ketika Obama memberikan speech pada acara Kongres Diaspora Indonesia sambil mengatakan bahwa Indonesia merupakan negeri yang sangat toleran.

Tapi sebelum ke acara tersebut, sehari sebelumnya Obama sempat mampir di Istana Bogor menemui Presiden Jokowi. Tak diketahui apa yang dibicarakan keduanya, tidak juga ada pernyataan pers bersama.

Banyak tafsir atas kunjungan tersebut, salah satu tafsir paling kritis adalah soal lobi tingkat tinggi Obama kepada Presiden Jokowi soal uranium PT Freeport Indonesia. Benarkah?

Menurut Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, kunjungan Obama ke Indonesia khusus berlibur dan bernostalgia. Tidak ada agenda politik apapun, apalagi mengingat pemerintah negara adikuasa AS sekarang ini didominiasi oleh Partai Republik, sehingga tidak ada pesan politik apapun dari Obama yang berada di Partai Demokrat.

Hikmahanto mengatakan tidak ada agenda resmi, hal itu terlihat dari pakaian Obama yang releks mengenakan kaos, bahkan menelusuri sungai untuk rafting di Bali. Dia meyakinkan tidak ada pengaruh yang signifikan di AS dari kunjungan tersebut. Sesimpel itukah?

Resminya, Obama jadi pembicara kunci di Kongres Diaspora Internasional yang diselenggarakan Dino Pati Djalal dkk. Tapi fatsir yang berkembang bahwa Obama menjadi perantara tingkat tinggi buat PT Freeport ke Indonesia. Tafsir ini bukan tanpa alasan, seperti Bill Clinton jadi perantara Chevron ke Senegal.

Hal itu terkait dengan spekulasi perusahaan tambang Cina Zijin Mining Group Company Limited yang siap mengambil alih Freeport dari Amerika Serikat.

Jika informasi ini benar, sangat masuk akal jika Obama diterjunkan sebagai perantara tingkat tinggi, untuk mematahkan manuver Cina. Melalui  mission impossibel liburan dan bernostalgia dengan becak, bajaj, dan bakso.

Beredarnya kabar mengenai kemungkinan perusahaan Cina mengambilalih kepemilikan PT Freeport Indonesia dari tangan Freeport McMoran Amerika Serikat semakin beralasan setelah Freport McMoran menjual saham mayoritasnya di tambang perunggu Tenke Fungurume di Republik Demokratik Kongo kepada Molybdenum Tiongkok senilai US$2,65 miliar (ekuivalen dengan Rp35,25 triliun).

Selain itu, Barrick Gold milik Aaron Regent yang juga tangan kanan Li Khai Shing dan Tambang di Tenke Fungurume di Republik Demokratik Kongo oleh Molybdenum Tiongkok, juga telah membeli saham kepemilikan Freeport yang beroperasi di Chili.

Sehingga, merebaknya kabar bahwa sebuah konsorsium Cina akan membeli kepemilikan saham PT Freeport Indonesia menjadi semakin memiliki sandaran historis mantan-mantan Presiden AS. Pada Februari 2017 lalu, Jaringan Pro Demokrasi sempat menaruh kekhawatiran terhadap kemungkinan Freeport Indonesia diambilalih oleh perusahaan Cina.

Kekhwatiran Jaringan Pro Demokrasi jika Cina berhasil merebut kepemilikan saham Freeport, Cina kemungkinan akan membawa para pekerjanya dari negeri Cina untuk mengisi seluruh struktur manajemen Freeport di semua tingkatan, mulai dari manajemen tingkat atas hingga menengah serta bawah.

Yang jelas, Freeport mengeruk keuntungan besar-besaran dari pertambangan di Indonesia, khususnya Papua. Para aparat intelijen ekonomi Cina pasti mengetahui bahwa pertambangan Indonesia benar-benar tambang emas bagi Freeport. Betapa Indonesia telah menyumbang sebesar 93,6 % penjualan emas Freeport selama ini. Dengan kata lain, Indonesia merupakan pertambangan emas terbesar bagi Freeport McMoran.

Pertambangan di Indonesia telah memberi sumbangan terhadap cadangan tembaga sebesar 29 miliar lbs (konversi pound ke kilogram) atau sebesar 28% dari total cadangan tembaga Freeport sebesar 103.5 miliar lbs di seluruh dunia. Namun Indonesia menyumbangkan sebesar Au 28.2 juta ozs (ounce) atau mencapai 98,9% dari cadangan emas Freeport di seluruh dunia sebesar Au 28,5 juta ozs.

Artinya, pertambangan Indonesia memang benar-benar merupakan tambang emas bagi Freeport. Nampaknya, fakta-fakta tersebut sudah berada dalam radar pengawasan dan pengkajian dari Zijin Mining Group Company Limited. Jika perusahaan Cina, yang tentunya juga atas persetujuan dan dukungan dari Konsorsium Cina, memang benar-benar serius merebut kepemilikan Freeport Indonesia dari tangan Freeport McMoran Amerika Serikat.

Namun, benarkah Freeport hanya sekadar menambang emas? Berdasarkan informasi dan penelitian yang dilakukan perusahaan bernama Gladian mengenai Gunung Es Jaya Wijaya ternyata gunung es murni yang mengandung mas murni yang tidak terilai.

Jadi rupanya, di samping hasil tambang yang sesuai dengan kontrak, mereka menggali uranium yang merukan bahan baku nuklir. Amerika sangat tertarik karena uranium ini. AS tahu persis  bahwa uranium bisa digunakan untuk membuat nuklir. Berdasarkan riset dan penelitian perusahaan Gladian tersebut, yang disasar Freeport McMoran justru uraniumnya, dan bukan emasnya.

Celakanya, PT Freeport Indonesia tidak punya akses untuk mengetahui data hasil penambangan yang sesungguhnya, dan berapa dana yang yang didapat dari hasil penjualannya. Freeport McMoran lah yang mengetahui persis data hasil penambangan yang sesungguhnya, demikian juga berapa kadar tembaga dan berapa perak serta berapa uranium dan lain sebagainya.

Padahal berdasarkan kontrak awal sesungguhnya, yang dieksplorasi adalah tembaga, bukan uranium, emas atau lainnya.  Uranium inilah yang dicecar Amerika untuk membuat lebih banyak lagi hulu ledak nuklir. Karena Indonesia mempunyai kualitas uranium yang terbaik di dunia. Selain fakta bahwa hasil tambang di Grasberg juga ada kandungan emas-nya.

Apakah pemerintah Indonesia tidak tahu adanya kandungan uranium di area Freeport? Berdasarkan penelitian dan riset perusahaan Gladian dari udara untuk foto Gunung Es Jaya Wijaya, kemudian dilakukan  pemotretan udara dengan sistim 3 dimensi diketahui ada uranium.

Hal ini juga yang menjelaskan mengapa ketika Rizal Ramli menjabat sebagai Menko Maritim dan Sumber Daya berani menggertak tak akan memperpanjang kontrak Freeport, yang membuat pemilik sekaligus Presiden Komisaris Freeport McMoran, James Mofet kelimpungan.

Mengapa Rizal berani berhadapan dengan Mofet? Karena Rizal paling tidak memiliki catatan kesalahan Freepot Indonesia. Kesalahan pertama,  sejak 1967-2014, Freeport Indonesia hanya menyetorkan royalti dari kekayaan alam yang dikeruk sebesar 1% untuk emas dan tembaga nol koma sekian persen. Sementara perusahaan tambang di dunia, rata-rata membayar royalti emas 6%-7% dan tembaga sekian persen.

“Kenapa begitu, mohon maaf karena ada Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Setiap perpanjangan kontrak terjadi KKN. Saat awal orde baru tidak apa-apa, mungkin belum ada investor yang masuk, dan seharusnya sejak 1980-an, kita bisa diuntungkan dari setiap perpanjangan kontrak, tapi term tidak berubah karena pejabatnya mudah disogok,” tegas Rizal.

Kesalahan kedua,  Freeport Indonesia telah membuang limbah beracun dan berbahaya atau limbah tailing ke Sungai Amunghei di Papua tanpa dilakukan pemrosesan. Akibat dari kesengajaan itu, diakui Rizal, kesehatan warga memburuk dan banyak ikan mati bergelimpangan.

“Perusahaan tambang di AS saja tidak berani melanggar UU Lingkungan Hidup. Seperti perusahaan BP yang menumpahkan minyak di Teluk Meksiko, dihukum US$30 miliar. Tapi perusahaan di Indonesia seenaknya saja, itu karena pejabat kita mudah disogok dan dilobi, semua bisa diatur,” demikian argumen rizal.

Kesalahan ketiga,  Freeport mencla-mencle melakukan divestasi saham. Padahal divestasi saham masuk dalam poin perpanjangan kontrak antara pemerintah dan Freeport Indonesia. Sementara PT Newmont Nusa Tenggara dan perusahaan lain sanggup memenuhi syarat tersebut.

“Freeport Indonesia paling mencla mencle soal divestasi. Divestasi ini penting supaya BUMN kita bisa masuk. Kalau kita kompak dan ngotot dan sulit dilobi, Freeport pasti akan menyerah dengan mengembalikan kontraknya kepada pemerintah,” pungkas dia.

Dari bahasa tubuh Obama, dan argumentasi Rizal, terlihat jelas betapa ada kepentingan yang lebih besar ketimbang mengeksplorasi tambang emas maupun tembaga, yakni adanya uranium dengan kualitas terbaik di dunia. Apakah diplomasi tingkat tinggi Obama kepada Jokowi akan tembus? Atau justru Jokowi berpindah ke lain hati, yakni memilih Cina?

Jawabnya akan terlihat setelah 2021, apakah kontrak Freeport Indonesia diperpanjang atau akan berpindah ke investor Cina. Mari kita saksikan bersama.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here