Benarkah Pemerintah Hanya Dapat 11% Saham Freeport?  

0
178
Secara riil sebenarnya Pemerintah Indonesia lewat Inalum hanya menguasai 11% saham di PT Freeport Indonesia, menurut Achmad Takari Pribadi, eks karyawan Freeport.

Nusantara.news, Jakarta – Gonjang-ganjing divestasi saham PT Freeport Indonesia (PFTI) membahana kembali, namun hampir semua mendasarkan pada pemahaman yang tidak sebenarnya. Sehingga argumentasi dan penyimpulan pendapat yang disampaikan menyimpang dari kenyataan.

Bahkan penyimpulan yang keliru itu terjadi di level RI-1 yakni Presiden Jokowi dan para menterinya. Dinyatakan bahwa Republik Indonesia telah menguasai 51% saham PTFI, padahal jauh panggang dari api. Begini penjelasannya.

Presiden Jokowi sempat menyatakan negosiasi pemerintah untuk merebut 51% saham PTFI‎ telah melalui proses yang panjang. Dengan begitu, hasil positif dari negosiasi tersebut patut disyukuri lantaran memiliki kemajuan.

“Alot sekali, kalau‎ kemajuan alhamdulilah, patut kita syukuri, jangan malah sudah ada kemajuan, jangan dibilang miring-miring,” kata Jokowi di Jakarta belum lama ini.

Menurut Prsiden, proses penguasaan 51% saham Freeport oleh PT Inalum akan memasuki babak baru dengan penandatanganan Head of Agreement (HoA), yang nantinya ditindaklanjuti ke tahap berikutnya.

“Kesepakatan itu perlu saya sampaikan, ini proses panjang hampir 3,5 tahun sampai 4 tahun, kita lakukan dan alot sekali, kalau sudah bisa masuk ke HoA, sebuah kemajuan yang amat sangat,” demikian penjelasan resmi Presiden Jokowi.

Pernyataan Jokowi dikuatkan oleh pernyataan Menteri BUMN Rini Soemarno. Menurutnya, pemerintah telah berhasil melakukan divestasi 51% saham PT FI. Seperti ditandai dengan ditandatanganinya penandatanganan pokok-pokok perjanjian atau head of agreement atas penjualan saham Freeport McMoRan di Indocooper dan hak partisipasi Rio Tinto di PTFI ke PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) selaku kepala holding BUMN tambang.

Rini menyebutkan nilai pembelian saham Rio Tinto adalah sebesar US$3,85 miliar (ekuivalen Rp55,44 triliun). “Jadi kita mengambil alih saham. Inalum itu akan mengambil alih interest dari Rio Tinto dan 100% dari Indocopper yang ditambah milik negara jadi 51,38%. Nah total nilainya US$3,85 miliar,” Rini menerangkan.

Fakta sebenarnya

Seorang profesional dibidang pertambangan, Achmad Takari Pribadi, yang juga pernah menjadi karyawan PTFI membedah jeroan transaksi rumit tersebut.  Ia menjelaskan inti joint venture agreement (JVA) antara Freeport McMoRan dengan Rio Tinto, dan kalkulasi harga penjualan hak partisipasi (participating interest–PI) Rio Tinto di PT Freeport Indonesia.

Takari terdaftar sebagai karyawan PTFI, dimana sebagian besar pekerjaannya menangani capital and joint venture accounting. “Saya melapor langsung ke Site Controller. Sementara Site Controller melapor ke CFO (Chief Financial Officer),” jelas Takari dalam pernyataannya yang viral di media sosial.

Ia mengilustrasikan, ibarat kisah Pak Fuad sudah pernah menjual 9 ekor sapi ke Pak Joko, dan kini dia hendak  menjual lagi 2 ekor sapi ke Pak Joko. Pak Fuad menawarkan 2 ekor sapi bersama-sama Pak Rio yang menawarkan 40 ekor kambing ke Pak Joko.

Pak Fuad mengumumkan proses awal rencana jual beli ini, bahwa dia, Pak Joko, dan Pak Rio telah sepakat dengan harga rencana jual beli ini. Jika jual beli 40 ekor kambing seharga US$3,5 miliar dan 2 ekor sapi seharga US$350 juta ini terjadi, maka Pak Joko yang saat ini memiliki 9 ekor binatang ternak, akan memiliki 51 ekor binatang ternak.

Namun entah bagaimana, berbagai media memberitakan bahwa Pak Joko mengumumkan rencana membeli 41 ekor sapi dengan harga US$3,85 miliar, sehingga Pak Joko yang saat ini memiliki 9 ekor sapi, akan memiliki 51 ekor sapi.

Dari kisah di atas, karena anda paham apa itu kambing, apa itu sapi, dan apa itu binatang ternak. Menurutnya, kisruh itu bermula dari salah persepsi jual beli saham dan hak penerimaan dana. Pernyataan di bawah ini menjelaskan hal tersebut.

Earlier in Jakarta, Freeport and the Indonesian government announced a deal that confirms the price-tag to cede majority control of the Grasberg mine. Under the agreement, state-owned PT Indonesia Asahan Aluminium, or Inalum, would pay $3.85 billion to increase the nation’s stake in the asset to 51 percent from just over 9 percent now.

The deal is part of a series of complex discussions that would see Rio Tinto Group cash out on its interest for $3.5 billion, leaving Freeport’s share of the payment at $350 million.

Takari mencoba mempertajam ke bagian kalimat berikut ini di paragraf pertama, “to increase the nation’s stake in the asset to 51 percent from just over 9 percent now”

Untuk paragraph kedua pada bagian kalimat: “Rio Tinto Group cash out on its interest for U$3.5 billion, leaving Freeport’s share of the payment at U$350 million”

Dari uraian di atas, ada dua hal berbeda antara “Participating Interest” dan “Share” walau kedua hal tersebut merupakan “Stake in the Asset”. Lantas, apa yang dimaksud PI?

Di awal tahun 90 an, PTFI membuat rencana meningkatkan produksinya dari 115.000 ton bijih tambang sehari (115 Thousand Ton Per Day = 115K TPD) menjadi 190.000 TPD. Rencana ekspansi tersebut membutuhkan dana US$1 miliar. Setelah mencari pinjaman ke berbagai bank, tidak ada bank yang bersedia memberikan kredit dengan bunga rendah atau ekonomis.

Maklum saat itu Indonesia dikelompokkan oleh bank-bank internasional termasuk negara dengan country risk tinggi. Akhirnya Freeport membuat JVA dengan Rio Tinto. JVA ini merupakan kerja sama bagi hasil atas sharing pembiayaan pengadaan aset dan biaya operasi untuk memproduksi bijih tambang di atas 115.000 TPD, dengan rasio pembagian 40% Rio Tinto dan 60% Freeport. Untuk biaya pengadaan aset, Rio Tinto menalangi terlebih dahulu kewajiban Freeport, sebagai pinjaman dengan suku bunga sama dengan LIBOR (London Interbank Offered Rate).

Pinjaman ini dilunasi  dengan cicilan senilai hak Freeport 60% dari pemasukan hasil produksi di atas 115.000 TPD. Transaksi Joint Venture (JV) ini dilakukan melalui monthly cash call, berdasarkan produksi aktual bulanan dan forecast cash out 3 bulan ke depan untuk capital cost dan operational cost.

Contoh menghitung Nilai PI Rio Tinto. Misal saat ini Freeport memproduksi bijih tambang 150.000 TPD dan mendapatkan pemasukan dana senilai P. Maka menurut JVA hak Rio Tinto atas pemasukan dana BUKAN 40% dikalikan P (40%*P), tetapi 40% dikalikan (150-115)/150  baru dikalikan P

=40%*(150-115)/150*P
=40%*23,33%*P
=9,33%*P

Sekali lagi Takari mengingatkan 40% dari produksi di atas 115.000 TPD, bukan 40% dari total produksi.

PI  Rio Tinto bukan saham (bukan share), karena hanya terkait hak penerimaan dana, bukan hak suara dalam rapat pemegang saham, dalam menetapkan direksi atau kebijakan strategis perusahan.

Jadi, jika HoA dieksekusi hari ini, maka saham Pemerintah Indonesia hanya bertambah dari 9,36% menjadi 11% dan Pemerintah Indonesia memiliki PI 40% atas penghasilan dari bijih tambang yang diproduksi di atas 115.000 TPD. “Jadi Pemerintah Indonesia belum mayoritas di PT Freeport Indonesia,” jelas Takari.

Pembentukan harga

Lantas bagaimana harga PI Rio Tinto bisa senilai US$3,5 miliar? Apakah itu harga yang wajar atau kemurahan, atau bahkan kemahalan?

Dari penjelasan di atas, inti asal mula PI Rio Tinto adalah setoran dana US$400 Juta pada 20 tahun lalu, dan sekarang disepakati untuk dijual ke Inalum senilai US%3,5 miliar.

Kalau menurut matematika SD, maka harga jual tersebut muahaaal buaanget, menurut Takari, karena nilai jualnya 87,5 kali dari modal saat beli. Nilai pelipatgandaan keuntungan ini bisa menjadi lebih dari seratus jika mempertimbangkan depresiasi aset.

Kalau menurut perhitungan ekonomi, mendasarkan pada konsep nilai waktu dari uang, yang rumus dasarnya

F = P * (1+i)^n
Dimana:
F = Nilai di masa datang
P = Nilai di masa sekarang
i = Suku Bunga per tahun
n = waktu pinjaman

Nilai uang yang diinvestasikan Rio Tinto US$400 juta untuk mendapatkan PI 20 tahun lalu, kalau sekarang dijual dengan harga US$3,5 miliar, ibarat pinjaman dengan suku bunga 11,4552172275305% per tahun.

Suku bunga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan LIBOR yang diterapkan pada dana talangan PI nya Freeport,  USD 600 Juta yang dikeluarkan Rio Tinto dua puluh tahun lalu.

Seharusnya pemerintah meminta Rio Tinto memberlakukan perhitungan yang sama antara “pinjaman dana” ke Feeport dengan perhitungan harga jual PI ke Inalum.

Jika mengacu ke LIBOR Rate Historical Data di gambar terlampir, sumbernya:
https://www.macrotrends.net/1433/historical-libor-rates-chart

Sejak 1995, LIBOR Rate selalu di bawah 8%. Misal, kita menggunakan nilai suku bunga 8%, maka nilai sekarang dari dana US$400 juta yang dikeluarkan Rio Tinto untuk mendapatkan PI adalah:
= US$400.000.000 * (1+8%)^20
= US$1.864.382.857,54

Nilai ini akan turun lagi, jika kita menggunakan nilai rata-rata LIBOR selama 20 tahun. Jadi pembelian saham Rio Tinto sebesar US$3,5 miliar terlalu mahal, seharusnya hanya US$1,86 miliar.

Perhitungan Takari tersebut sengaja dibuat dengan niat untuk menghindarkan kerugian Pemerintah Indonesia atau BUMN dalam proses pembelian PI Rio Tinto dan sebagian saham Freeport. Karena, secara hakiki Pemerintah Indonesia dan BUMN adalah milik seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Itu sebabnya, agar tidak menimbulkan syak wasangka yang terlalu luas, pemerintah perlu transparan mengenai detil isi HoA dan perhitungan teknis sebagaimana dijabarkan Takari. Ini adalah pembuka diskusi yang menarik mengenai perhitungan riil divestasi saham PTFI.

Sejauh ini belum ada sanggahan ataupun pembenaran dari pihak pemerintah terkait analisis Takari tersebut di atas.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here