Benarkah Suriah Gunakan Senjata Kimia Sarin?

0
75
Ilustrasi (Foto: Getty Images)

Nusantara.news –  Pemerintah Rusia pada Rabu (12/4) menggunakan hak vetonya terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengecam serangan senjata kimia di Surah. Berarti, ini adalah kedelapan kalinya Rusia menggunakan veto terkait masalah Suriah.

Di sisi lain, Amerika Serikat menjadi pendukung utama resolusi tersebut. Wajar saja, sebab AS pulalah yang telah melakukan tindakan militer dengan menyerang pangkalan militer Suriah atas kasus tersebut, pada Jumat (7/4) pekan lalu.

Meski menggunakan hak veto, Rusia tetap berupaya obyektif melihat kasus yang terjadi di Khan Shaykun, Idlib Suriah, dengan mendesak pihak pemerintah Suriah agar bersedia membuka pangkalan-pangkalan militernya untuk diperiksa.

Veto Rusia didukung anggota DK PBB lainnya seperti Bolivia. Sementara Cina, Etiopia, dan Kazakhstan lebih memilih abstain. Sepuluh negara, termasuk AS dan Prancis mendukung resolusi tersebut.

“Keberatan utama terhadap resolusi ini karena didasari tuduhan demi sebuah tujuan di luar investigasi insiden itu,” kata Vladimir Safronkov, wakil utusan Rusia di DK PBB.

Selain menolak resolusi DK PBB itu, Safronkov juga mengkritik anggota DK PBB lainnya, dan berbagai organisasi internasional karena tidak berusaha memeriksa langsung ke kawasan dimana serangan itu terjadi.

Rusia menolak kesimpulan AS bahwa Suriah bertanggung jawab atas serangan senjata kimia yang menewaskan lebih dari 80 orang, yang kemudian mendorong AS melakukan serangan pertama terhadap Suriah dalam konflik enam tahun terakhir. Akibatnya, sejumlah pesawat milik militer Suriah dan infrastruktur di pangkalan udara militer Suriah rusak.

Presiden Rusia Vladimir Putin meyakini bahwa pemerintah Rusia Presiden Bashar Al-Assad tidak bersalah dalam kasus ini. Dia menyalahkan pihak pemberontak yang diyakni memiliki senjata kimia tersebut.

Sebelumnya, PBB telah membentuk tim pencari fakta terkait pelanggaran Senjata Kimia Suriah. Tim ini dibentuk untuk meneliti lebih dalam senjata kimia apakah yang digunakan di Suriah. Tim lain juga dibentuk untuk menentukan siapa yang menggunakan senjata yang telah dilarang oleh hukum internasional itu.

Tim lalu menyimpulkan bahwa Pemerintah Suriah diyakini telah menggunakan senjata kimia yang dilarang. Namun, Rusia menolak kesimpulan ini.

Lantas, apakah benar Suriah menggunakan gas sarin? Jika iya, dari mana Suriah mendapatkan bahan baku untuk memproduksi sarin?

Sarin bukanlah gas yang mudah untuk diproduksi, dan jika salah dalam proses pembuatannya maka akibatnya bisa sangat berbahaya, termasuk bagi penggunanya.

Meskipun sarin bukan sesuatu yang mustahil untuk dibuat, sebab pada tahun 1995 kelompok Aum Shinrikyo di Jepang, konon bisa memproduksi gas sarin di laboratorium miliknya sendiri untuk kemudian melakukan serangan mematikan di metro bawah tanah di Tokyo.

Rezim Suriah sebetulnya secara efektif telah dipaksa untuk menyetujui konvensi internasional tentang pelarangan penggunaan senjata kimia, setelah serangan gas sarin di pinggiran Ghouta pada tahun 2013, ketika itu AS dan Rusia memaksa Presiden Bashar Al-Assad untuk menyerahkan stok senjata kimia yang dimilikinya.

Secara resmi, sebetulnya pemusnahan cadangan senjata kimia di Suriah yang berada di bawah pengawasan internasional itu sudah selesai pada tahun 2014. Sehingga, diduga gas sarin yang digunakan beberapa waktu lalu adalah bagian dari cadangan senjata kimia yang masih tersisa atau memang telah secara sengaja disembunyikan.

Kemungkinan lain, adalah seperti disimpulkan Rusia, dimana gas sarin itu merupakan milik kelompok teroris pemberontak. Menurut Departemen Pertahanan Rusia, insiden itu sebetulnya bukanlah penyerangan dengan senjata kimia, tapi hasil serangan udara pasukan Suriah yang mengenai gudang senjata kelompok teroris yang juga digunakan untuk memproduksi senjata kimia.

“Fasilitas itu digunakan untuk memproduksi senjata kimia yang dikirim ke pasukan teroris di Irak,” kata Mayjen Igor Konashenkov, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia.

Menurutnya, gudang yang dibom itu telah digunakan untuk memproduksi gas beracun yang kemudian dikirim ke Irak dan digunakan di sana. “Baik pemerintah Irak dan sejumlah organisasi internasional telah mengkonfirmasi penggunaan jenis senjata tersebut oleh teroris yang beroperasi di Irak,” terang Konashenkov.

Konashenkov menambahkan, kelompok teroris menggunakan jenis senjata kimia yang sama di Aleppo, ketika itu para ahli militer Rusia mengambil sampel pada tahun 2016.

Kelompok pemberontak yang disebut sebagai teroris, baik di Suriah maupun di Irak telah membantah klaim Rusia.

Pertanyaannya, jika memang kelompok pemberontak menyimpan senjata kimia, dari mana mereka mendapatkan bahan bakunya? Mengingat bukan hal mudah memproduksi senjata kimia. Apakah mungkin mereka mencurinya dari tentara Suriah?

Seorang pakar senjata kimia di Inggris menyatakan bahwa sulit untuk membuat sarin murni dengan kualitas tinggi, secara aman. Membutuhkan banyak peralatan khusus dan keahlian khusus, serta sejumlah informasi khusus yang tidak mudah ditemukan di situs web atau bahkan di perpustakaan sekalipun.

Inggris pernah jual bahan baku senjata kimia ke Suriah

Soal bahan baku sarin, menjadi persoalan karena Inggris sebagai sekutu tertua AS, merupakan negara yang mengakui pernah mengekspor bahan baku yang bisa digunakan untuk memproduksi gas sarin ke Suriah.

Kelompok hak asasi manusia dan juru kampanye pengawasan senjata di Inggris menyoroti pengakuan pemerintah Inggris, bahwa di tahun 80-an Inggris pernah mengekspor bahan kimia yang diperlukan untuk membuat gas sarin kepada rezim Suriah. Inggris juga menjual peralatan khusus pada milenium berikutnya, yang tampaknya juga digunakan untuk program senjata kimia.

Dugaan bahwa Inggris memasok bahan kimia mematikan ke Suriah pernah diselidiki oleh Komite untuk Kontrol Ekspor Senjata (CAEC) yang pada tahun 2013 yang meminta Menteri urusan Bisnis Inggris, Vince Cable, mengungkapkan nama-nama perusahaan yang diberi lisensi antara 2004 hingga 2012 untuk mengekspor bahan kimia yang dapat digunakan sebagai senjata kimia ke Suriah. Cable dikritik karena menolak mengungkap nama-nama perusahaan tersebut.

Memang data ekspor Inggris tahun 2008 yang dikumpulkan organisasi Kampanye Melawan Perdagangan Senjata tidak membuktikan bahwa Inggris memasok bahan baku senjata kimia ke Suriah dalam sembilan tahun terakhir.

Tapi pada Juli 2014 Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague, menegaskan kepada parlemen bahwa Inggris memang pernah mengekspor bahan kimia yang kemungkinan besar telah disalahgunakan untuk program senjata kimia di Suriah.

Hague ketika itu mengungkapkan bahwa ekspor Inggris ke Suriah termasuk beberapa ratus ton senyawa kimia dimetil fosfit (DMP) pada tahun 1983 dan mengekspor lagi beberapa ratus ton pada tahun 1985; beberapa ratus ton trimetil fosfit (TMP) pada tahun 1986; dan sejumlah hidrogen fluorida (HF) pada tahun 1986 melalui negara ketiga.

Hague juga mengatakan ketika itu, “Semua bahan kimia ini memiliki kegunaan yang sah, misalnya dalam pembuatan plastik dan obat-obatan. Namun, juga dapat digunakan untuk memproduksi sarin.

DMP dan TMP juga dapat digunakan untuk memproduksi racun penyerang saraf VX, seperti yang digunakan untuk membunuh sepupu penguasa Korea Utara Kim Jong-Un, Kim Jong Nam di Malaysia. Itulah sebabnya, di Inggris sebetulnya ekspor barang-barang tersebut mulai dilarang sejak tahun 1980-an.

Dia menambahkan, “Dari informasi yang kami miliki, kita menilai kemungkinan bahwa ekspor kimia oleh perusahaan Inggris yang kemudian digunakan oleh Suriah untuk menghasilkan penyerang saraf, termasuk sarin.”

Jadi, sebetulnya siapa yang memproduksi atau memicu penggunaan senjata kimia sarin di Suriah? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here