Bencana Lombok dan Kemegahan Pesta Asian Games

0
136
Gempa yang melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat, telah meluluhlantakkan hunian warga. Tampak seorang bapak tengah menyelamatkan sepeda cucunya.

Nusantara.news, Jakarta – Sudah banyak yang mengusulkan agar bencana yang menimpa masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat, menjadi bencana nasional. Belakangan Habib Rizieq Shihab yang mengumumkan bahwa bencana Lombok sebagai bencana nasional, sebuah sindiran halus namun keras di tengah kemegahan pesta Asian Games 2018.

Gempa berulang-ulang dengan skala beragam, tertinggi 7,00 skala Richter, yang melanda tanah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), benar-benar memprihatinkan. Sedikitnya 469 orang meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan, 400.000 warga mengungsi karena rumahnya hancur dan luluh lantak diterpa gempa.

Sementara itu, korban cedera mencapai 1.353 orang, dengan 783 di antara mereka mengalami luka berat. Belum lagi hampir semua bagunan rumah dan gedung hancur, diperkirakan telah merugikan aset warga dan pemerintah setempat hingga Rp5 triliun.

Berdasarkan data dari Posko Tanggap Gempa Lombok, jumlah pengungsi mencapai 352.793 orang. Sebaran pengungsi terdapat di Kabupaten Lombok Utara 137.182 orang, Lombok Barat 118.818 orang, Lombok Timur 78.368 orang, dan Kota Mataram 18.368 orang.

Karuan saja Lombok lumpuh, bangunan luluh lantak, infrastruktur rusak, jalan-jalan macet, Lombok membutuhkan rekonstruksi besar. Namun ironya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam jumpa pers menyatakan pemerintah telah mencairkan anggaran Rp38 miliar. Dalam perjalanan (on call) senilai Rp700 miliar.

Itu sebabnya jika banyak kalangan meminta agar musibah yang menimpa Lombok dijadikan sebagai bencana nasional. Bahkan DPRD Provinsi NTB mengirim surat Permohonan Status Bencana Nasional. MPR sendiri meminta musibah NTB ditetapkan sebagai bencana nasional.

Namun sikap Pemerintah Jokowi seperti mengabaikan, mengacuhkan dan seoleh tak berempati. Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan status bencana nasional untuk NTB lebih banyak ruginya. Sementara Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan kalau dibuat status bencanan nasional, banyak turis yang lari.

Bahkan di luar dugaan Gubernur NTB TGB Muhammad Zaenul Majdi mengatakan status bencana nasional berdampak buruk bagi Lombok dan Sumbawa. Alasannya, penanganan gempa Lombok sudah mendapatkan penanganan berskala nasional. Sesuatu yang sulit dipercaya.

Kemeriahan Asian Games

Di sela-sela sedu sedan korban bencana gempa Lombok, tagis dan ratapan anak-anak korban gempat, di Jakarta sedang berlangsung kemeriahan berskala Asia, yakni Asian Games 2018.

Jumlah bantuan yang disisihkan Menkeu untuk Lombok sangat konras jika dibandingakan dengan biaya untuk pembangunan infrastruktur Asian Games 2018 yang mencapai Rp30 triliun.

Anggaran tersebut menurut Wapres Jusuf Kalla meliputi biaya penyelenggaraan, pembangunan infrastruktur, dan sarana transportasi pendukung Asian Games 2018. Biaya untuk infrastruktur hampir Rp7 triliun, perbaikan di Palembang dan DKI Jakarta hampir Rp3 triliun. Keseluruhannya menjadi Rp10 triliun

Selain itu biaya infrastruktur jangka panjang, seperti transportasi di Palembang yakni Rp7 triliun dan di Jakarta Rp10 triliun. Ditambah biaya lain-lain, diperkirakan semua mencapai Rp30 triliun.

Bahkan khusus pembukaan Asian Games, menurut Kepala Inasgoc Erick Thohir memakan biaya hingga US$52 juta (ekuivalen Rp758 miliar). Namun belakangan, menurut Direktur Media dan Public Relations Inasgoc, Danny Buldansyah rencana anggaran pembukaan itu dipangkas menjadi US$32 juta (ekuivalen Rp467 miliar).

Bandingkan dengan biaya pembukaan Olimpiade di Sydney pada tahun 2000 yang hanya Rp258 miliar. Atau biaya pembukaan ollimpiade di Rio de Janeiro, Brasil, yang hanya Rp306 miliar.

Jauh lebih mahal dari biaya pembukaan Asian Games di Korsel 2016 yang hanya sebesar Rp95 miliar. Atau jauh lebih mahal dari biaya Asian Indoor and Martial Art Games (AIMAG) 2017 di Baku, Azerbaijan sebesar Rp1,7 miliar.

Tentu saja biaya Asian Games secara keseluruhan jika dikontraskan dengan anggaran yang digelontorkan untuk gempa Lombok sangat jauh dan terasa aroma ketidakadilannya.

Belum lagi jika dikomparasikan dengan biaya Annual Meeting IMF-World Bank di Bali pada Oktober 2018 sebesar Rp850 miliar.

Itu sebabnya kita patut bersyukur belakangan Menkeu Sri Mulyani bertekad menaikan biaya rekonstruksi dampak gempa Lombok menjadi Rp4 triliun. Walaupun estimasi biaya rekonstruksi Rp5 triliun, namun dalam perjalanan tentu saja ada berkah lain yang datang setelah rekonstruksi dilakukan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here