Tembok Perbatasan Meksiko

Benih-benih Perlawan dari ‘Negeri Halaman Belakang’ AS

0
155
Foto: Reuters

Nusantara.news, Meksiko – Sejak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan perintah eksekutif untuk segera membangun tembok batas selatan AS dengan Meksiko, benih-benih perlawanan terhadap presiden baru AS mulai tumbuh di negeri yang dijuluki sebagai ‘halaman belakan AS’ itu. Hubungan AS-Meksiko memanas, setelah pemimpin Meksiko menggagalkan pertemuan secara sepihak dengan Trump.

Inti persoalan ketegangan AS-Meksiko adalah soal imigrasi, tepatnya rencana pembangunan tembok perbatasan yang akan memperketat masuknya imigran ilegal ke AS lewat Meksiko. Meksiko keberatan dengan rencana pembangunan tembok perbatasan sepajang sekitar 3000-an kilometer yang bakal menghabiskan dana sedikitnya USD 12 miliar.

Masalahnya, dana pembangunan sebagian akan dibebankan kepada Meksiko dengan berbagai skema, salah satunya menaikkan pajak impor. Terang saja, Meksiko menolak rencana tersebut. Otoritas Meksiko menyatakan sedikit pun tidak akan mau membiayai pembangunan tembok perbatasan. Namun, Trump mengancam dengan akan akan melakukan renegosiasi ulang perjanjian perdagangan dengan negara tersebut.

Trump sudah menjadi momok, bukan saja untuk pemerintah Meksiko tetapi juga bagi rakyat Meksiko yang banyak menggantungkan hidupnya dari Amerika, baik sebagai imigran atau menerima pekerjaan dari negeri Paman Sam itu.

Ekspresi protes dan kekecewaan rakyat Meksiko terhadap presiden AS yang baru, ditunjukkan dengan aksi unjuk rasa pada Minggu (12/2) lalu, yang melibatkan sekitar 30 ribu orang di pusat-pusat kota di Meksiko.

Rakyat Meksiko turun ke jalan-jalan ibukota untuk mengecam Presiden Trump yang mereka anggap sebagai pemerkosa dan perampok, serta menuntut agar Trump menghormati Meksiko sebagai sebuah negara berdaulat.

Tidak hanya Trump yang menjadi sasaran kemarahan rakyat Meksiko yang tumpah ruah di jalan-jalan. Mereka juga memprotes sikap presiden mereka sendiri Enrique Pena Nieto, yang terkesan tidak mau mengambil sikap tegas terhadap Trump.

Sambil melambaikan bendera Meksiko dan mengangkat poster anti-Trump dalam bahasa Spanyol dan  Inggris, para demonstran mencaci Nieto sebagai pemimpin yang lemah dan penuh korupsi.

Trump dan Nieto terjerembab dalam krisis hubungan yang mendalam selama berbulan-bulan, bahkan sebelum Trump menjadi presiden karena janji-janjinya untuk melakukan kebijakan yang keras terhadap masalah imigrasi dan perdagangan dengan Meksiko.

Nieto takut kebijakan Trump bisa membuat negara dengan  ekonomi terbesar kedua di Amerika Latin itu jatuh ke dalam krisis.

Di sisi lain, kemarahan rakyat Meksiko kepada Pemerintah AS dan Presiden Meksiko sendiri,  telah membuat tokoh populis Meksiko punya peluang besar untuk meraih kursi kepemimpinan di negara tersebut. Meksiko akan mengadakan pemilu presiden pada tahun 2018 mendatang.

Adalah Andrés Manuel López Obrador (AMLO), pemimpin Gerakan Regenerasi Nasional berhaluan kiri, yang rencananya akan mencalonkan diri sebagai calon presiden Meksiko. Dia sekarang dianggap punya momentum untuk menjadi pemimpin populis di Meksiko karena sikapnya yang keras terhadap Trump dan presiden Nieto.

“AMLO adalah satu-satunya orang yang bisa melakukan apa saja untuk melindungi Meksiko,” kata salah seorang pemimpin kelompok buruh di Meksiko.

Kemarahan rakyat Meksiko terhadap perilaku Trump dan presiden mereka, telah mengangkat kembali politisi lama dengan pandangan nasionalis dan retorika kiri, AMLO.

Di Meksiko AMLO kerap dibanding-bandingkan dengan Hugo Chavez, orang kuat yang mengarahkan Venezuela menuju ke arah sosialisme. Tapi, ada juga kekhawatiran dari sebagian kalangan bahwa sikapnya yang keras bisa memprovokasi konfrontasi antara AS dengan Meksiko.

AMLO belum secara resmi mengumumkan pencalonannya sebagai capres Meksiko, tapi setidaknya nama dia diunggulkan rakyat Meksiko belakangan ini.

Sebuah jajak pendapat terbaru koran El Financiero telah AMLO telah memperoleh dukungan 33 persen dari pemilih. Dia juga sudah secara tidak langsung berkampanye dan menggalang dukungan orang-orang Meksiko di AS.

Saat dia berbicara di Plaza Olvera di Los Angeles, Minggu (12/2), AMLO mengibaratkan Trump di AS seperti Hitler di Jerman, tapi dia tetap menyerukan agar rakyat Meksiko tetap tenang.

“Kita harus melawan strategi Trump dan penasihatnya tidak dengan teriakan dan penghinaan…, tapi dengan kecerdasan, kebijaksanaan dan martabat,” kata AMLO.

Sementara, inkumben Presiden Nieto saat ini menjadi sangat tidak populer karena perekonomian Meksiko yang lesu, skandal korupsi dan persepsi bahwa sang presiden tidak berani melawan Trump. Nieto dan timnya terkesan berhati-hati untuk tidak memusuhi Trump, karena takut merusak hubungan dengan mitra dagang nomor satu bagi Meksiko itu.

Protes Meksiko atas kebijakan imigrasi Trump, diselenggarakan oleh lebih dari 70 kelompok sipil, universitas dan organisasi non-pemerintah.

Sejumlah pengunjuk rasa membawa poster yang membandingkan Trump dengan Hitler. Mereka meneriakkan, “Tidak ada dinding!” Sementara yang lain berteriak, “Pena Out!”, merujuk pada presiden Meksiko yang popularitasnya anjlok hanya tinggal 12 persen.

“Meksiko marah karena banyak hal. Kami marah dengan kemiskinan, marah dengan ketidakadilan, marah dengan impunitas,” kata Enrique Graue, rektor Universitas Otonomi Nasional Meksiko, universitas terbesar di negara itu.

“Intinya adalah, apa yang paling membuat kita murka? Pada saat ini, kita sangat marah dengan perlakuan yang telah diterima Meksiko dari presiden AS.”

Namun sebagian besar orang mengatakan bahwa mereka anti-Trump tapi tidak anti-Amerika.

“Kami berbicara menentang Trump,” kata Mario Silvan, seorang pengacara, “dan bukan anti orang-orang Amerika.”

Pejabat lokal memperkirakan total demonstran berjumlah sekitar 30 orang yang berbaris di dua kota terbesar di negara tersebut, Mexico City dan Guadalajara.

Di ibukota Meksiko, massa berkumpul di Monumen Kemerdekaan di kota Paseo de la Reforma avenue.

Tembok batas Meksiko mulai dibangun pada 1990-an dengan dana dari pemerintah federal. Empat belas mil pagar dibangun di sepanjang perbatasan California selama pemerintahan George W Bush dan Bill Clinton. Tembok tersebut diharapkan menghambat pelintas batas antara Tijuana, Meksiko, dan San Diego.

Perbatasan Barat Daya AS

Pada 2006, George W. Bush menandatangani Secure Fence Act, yang membuahkan pembangunan 653 mil pagar di sepanjang perbatasan AS-Meksiko. Departemen Keamanan Dalam Negeri telah selesai membangun sebagian besar pagar pada saat Presiden Barack Obama mulai menjabat di tahun 2009, tapi masih memiliki sekitar 47 mil pagar yang belum selesai dibangun. Presiden AS yang baru Donald Trump, merujuk Secure Fence Act sebagai otoritas hukum untuk memulai kembali pembangunan tembok perbatasan.

Meski demikian, dalam jajak pendapat kebanyakan orang Amerika tidak mendukung pembangunan tembok perbatasan itu. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan bulan Agustus 2016 oleh Pew Research menunjukkan 61 persen orang Amerika menentang  pembangunan tembok sepanjang seluruh perbatasan dengan Meksiko, 36 persen mendukung.

Di sisi lain, pendanaan pembangunan juga ternyata bukan sesuatu yang mudah, mengingat besarnya dana yang harus dikeluarkan. Trump meminta Kongres untuk mengalokasikan anggaran bagi pembangunan tembok Meksiko, yang hingga saat ini masih menjadi perdebatan.

Baru-baru ini, Sekretaris Pers Gedung Putih Sean Spicer mengatakan bahwa AS bisa dengan mudah membayar pembangunan dinding, yakni dengan memberlakukan pajak penyesuaian 20 persen ekspor Meksiko ke AS, meskipun itu hanya salah satu alternatif saja. Tapi jika itu benar-benar diterapkan, bisa jadi rasa “permusuhan” AS dan Meksiko akan semakin meningkat, dan yang pasti akan menimbulkan gejolak yang tak mudah untuk diprediksi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here