Beranak-pinak ala BUMN, IMS Resmi Jadi Cucu INKA

0
407

Nusantara.news, Madiun – Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2013 tentang badan Usaha Milik Negara (BUMN), salah satunya menegaskan fungsi sebagai pelaku kegiatan perekonomian nasional dengan dasar demokrasi ekonomi. Hanya saja ruh untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat seperti yang tercantum pada UUD 1945 Pasal 33 belum optimal.

Kekhawatiran serupa pun muncul ketika PT Industri Kereta Api (INKA) sebagai BUMN satu-satunya yang menguasai pembuatan moda transportasi massal di Indonesia, melebarkan jenis usahanya dengan melahirkan PT INKA Multi Solusi Consulting (IMSC). Pendirian IMSC merupakan anak perusahaan PT INKA Multi Solusi (IMS), sebagai salah satu jaringan yang diharapkan bisa permudah target INKA raih pendapatan Rp7 triliun pada 2022.

Tujuan pendirian IMSC dalam rangka pengembangan rekayasa teknologi. Jadi, pekerjaan di PT INKA adalah pekerjaan padat teknologi yang harus dikelola dengan serius. “Dengan pendirian PT IMSC ini diharapkan akan mampu menjadikan rekayasa teknologi sebagai salah satu core business INKA Group,” ujar Komisaris Utama PT IMS Mohamad Nur Sodiq seusai penandatangan akta pendirian PT IMSC di Kota Madiun, Rabu (22/3/2017).

Menurut Sodiq, dengan hadirnya PT IMSC, maka PT IMS saat ini memiliki tiga anak perusahaan. Dua anak perusahaan yang telah lahir lebih dulu adalah PT INKA Multi Solusi Service (IMSS) dan PT INKA Multi Solusi Trading(IMST). “Core business PT IMSC untuk mengembangkan riset dan teknologi yang nantinya dijual ke PT INKA,” terangnya.

Direktur Keuangan dan SDM PT INKA (Persero) tersebut mengatakan, anak perusahaan harus mampu tumbuh dan berkembang untuk memwujudkan INKA Group yang semakin maju. Apalagi Direktur Utama PT INKA (Persero) R. Agus Purnomo, sudah beberkan target penjualan PT INKA (Persero) pada tahun 2022, mencapai Rp7 triliun. “Diharapkan, minimal yang 20 persennya disumbang dari INKA Group, dalam artian anak perusahaan dan cucu perusahaannya,” tuturnya.

Sementara, Direktur PT IMS Edi Winarno berharap PT IMSC dapat tumbuh menjadi perusahaan yang besar dalam mendukung tugas dan pekerjaan perusahaan induknya. “Saya berharap PT IMSC ini menjadi anak yang soleh dari PT IMS. Sehingga menjadi satu bagian dengan INKA Group yang dapat menambah kekuatan untuk mewujudkan kesuksesan PT INKA (Persero),” imbuh Edi.

Dalam acara pendirian PT IMSC tersebut juga dilakukan penandatanganan akta pendirian perusahaan oleh Direktur PT IMSC yang ditunjuk yakni Antonius Wishnudartha Pagehgiri dan sejumlah pejabat PT IMS dengan disaksikan oleh jajaran direksi PT INKA (Persero).

Target Rebut Pasar Cina

Sepanjang 2016, PT INKA memperoleh pendapatan Rp1,8 triliun. Tahun berikutnya, pendapatan itu ditarget meningkat. Bahkan pada 2019, perolehan rencana penjualan digenjot hingga Rp5 triliun. Agus Purnomo merasa optimistis meraih target tersebut seiring dengan pengembangan teknologi yang terus dilakukan pada produknya, baik di pasar dalam negeri maupun ekspor.

“Target itu bisa diraih dengan terus bekerja keras di pasar dalam negeri dan ekspor. Market Asia Selatan dan Afrika masih menjadi peluang besar. Belum lagi, jika kita mampu merebut pasar Cina,” ujar Agus Purnomo.

Pihaknya berani membidik target tinggi mengingat perolehan penjualan pada tahun 2016 mencapai angka Rp1,8 triliun. Jumlah tersebut melebihi dari target yang ditetapkan sebesar Rp1,6 triliun. Bahkan, pada tahun 2017 pihaknya menarget bisa tembus hingga Rp2,6 triliun. Untuk mencapai target tersebut, baik pada tahun ini maupun tahun-tahun mendatang, INKA terus meluncurkan berbagai produk baru, seperti kereta bandara dan light rail transit (LRT).

Tidak hanya itu, INKA juga mulai merambah pembuatan alat trasportasi di luar kereta api, seperti bus gandeng dan komponen kecil kereta. Sisi lain, INKA juga menggarap proyek kereta Bandara Soekarno Hatta dan kerja sama dengan PT KAI untuk peremajaan ratusan kereta serta pesanan dari dalam negeri untuk menunjang angkutan Lebaran.

Hal lain, INKA menggarap kembali pasar ekspor berupa kereta pesanan luar negeri seperti Bangladesh dan Srilanka dengan total nilai kontraknya yang mencapai triliunan rupiah. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here