Beranikah China Perantauan Jadikan Ahok Presiden Boneka? (Bagian 1)

0
500

Nusantara.news, Jakarta – Spekulasi di mana Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok diplot jadi presiden terus berkembang luas, terutama sejak kasus reklamasi sepeninggal Jokowi yang terpilih jadi Presiden RI. Presiden dalam hal ini tentu saja presiden boneka konglomerat non-pribumi atau China perantauan (Chinese overseas) terutama China perantauan yang sudah menjadi warga negara Indonesia. Pertanyaannya, beranikah China perantauan menjadikan Ahok jadi Presiden boneka? Motifnya “menjajah” atau apa? (Pengantar Redaksi)

Ahok dan China Perantauan

Hubungan Ahok dengan konglomerat China Perantauan sudah terang, terutama sejak  heboh kasus reklamasi Teluk Jakarta setelah ditinggal Jokowi yang terpilih jadi Presiden RI.

Terangnya hubungan itu tidak saja terindikasi dari kengototan Ahok mempertahankan reklamasi, tetapi juga terindikasi dari keberadaan anak-anak konglomerat top Indonesia yang “magang” di kantor Ahok di DKI Jakarta seperti putri Presiden Direktur Bank Artha Graha, anak General Manager (GM) Sinarmas Land dan anak CEO Lippo Group Roy Tirtadji.

Siapa China perantauan itu? Mereka ini adalah konglomerat hebat yang duitnya mungkin sudah tidak berseri dan tidak habis-habis.

Mereka yang diperkirakan mendukung pencalonan Jokowi dan Ahok saat tampil di Pilgub DKI Jakarta.

Tanpa dukungan mereka, rasanya mustahil Jokowi dan Ahok bisa memenangi  Pilkada DKI Jakarta, apalgi berlangsung dua putaran.

Sebab, wilayah Jakarta itu adalah wilayah yang secara nalar merupakan “milik” orang tertentu seperti pemilik darah biru politik Indonesia, baik darah biru dalam arti yang sebenarnya, maupun darah biru karena kiprahnya dalam  perjuangan kemerdekaan Indonesia, atau jederal top berprestasi.

Sesukses apa pun di Solo, tetapi dalam perspektif politik Indonesia yang didominasi darah biru politik, maka sosok Jokowi (yang tampaknya dijadikan induk dari politik tumpang sari) kemungkinan tetap jauh panggang dari api untuk bisa terpilih jadi Gubernur DKI Jakarta, apalagi berpasangan dengan Ahok dengan doble minority yakni China dan Kristen.

Apa kehebatan konglomerat China Perantauan itu? Mereka hebat dalam mendukung Jokowi-Ahok dari berbagai segi, mulai konsep, dana, dan jaringan. Dengan kekuatan konsep, dana, jaringan, mereka bisa menjadikan Jokowi-Ahok dari bukan siapa siapa di kancah politik nasional menjadi siapa siapa.

Dengan dukungan itu pula mereka berhasil mengubah paradigma atau setidaknya opini politik yang berorientasi darah biru menjadi (katakanlah) darah kaum abangan dalam bentuk konsep atau program yang disiapkan sesuai dengan profil Jokowi.

Mengubah paradigma bukanlah persoalan mudah. Apalagi mengubah paradigma secara radikal dan dalam waktu yang relatif singkat.

Oleh sebab itu pula, tanpa dukungan dana besar, konsep mumpuni, dan jaringan media yang massif, rasanya mustahil  menjungkirbalikkan perpektif darah biru politik dan mengubahnya menjadi suatu yang baru seperti yang dicitrakan kepada Jokowi sebagai kaum abangan dengan sosok sederhana dan bersih.

Lalu mengapa konglomerat China Perantauan itu memilih Ahok? Mengapa bukan China lain yang ketokohannya lebih hebat dari Ahok? Misalnya Kwik Kian Gie atau Christianto Wibisono, atau Arief Budiman? Atau pengusaha China beken  yang mahir berpolitik seperti Sofyan Wanandi atau yang lainnya?

Itu adalah pilihan subjektif mereka. Salah satu dasar pemilihannya yang rasional, mungkin adalah karena Ahok maupun (Jokowi sebagai induk politik tumpang sari) belum “dimiliki” oleh siapa-siapa. Artinya, Jokowi dan Ahok belum “dimiliki” oleh orang-orang yang punya kepentingan dan sudah menghuni rimba panggung politik nasional seperti elite partai, elite tentara, elite pengusaha dan lainnya. Keduanya ibarat adonan yang masih bisa “dibentuk” sesuai cetakan yang diinginkan.

Oleh sebab itu, bila pun kelak Ahok jadi Presiden RI, maka statusnya tidak lebih dari sekadar presiden boneka. Boneka siapa? Boneka para konglomerat China Perantauan itu, utamanya yang sudah menjadi warga negara Indonesia.

Untuk apa?  “Menjajah” atau apa? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here