Beranikah China Perantauan Jadikan Ahok Presiden Boneka? (Bagian 2)

0
297

Nusantara.news, Jakarta – Spekulasi di mana Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok diplot jadi presiden terus berkembang luas, terutama sejak kasus reklamasi sepeninggal Jokowi yang terpilih jadi Presiden RI. Presiden dalam hal ini tentu saja presiden boneka konglomerat non-pribumi atau China perantauan terutama China perantauan yang sudah menjadi warga negara Indonesia. Pertanyaannya, beranikah China perantauan menjadikan Ahok jadi Presiden boneka? Motifnya “menjajah” atau apa? (Pengantar Redaksi)

Membangun Iklim Profesionalisme Jelang Peralihan Bisnis ke Generasi Ketiga

Spekulasi di mana China perantauan memplot atau malah akan memaksakan Ahok jadi presiden boneka, tidak semuanya mengandung unsur negatif. Karena salah satunya terkait dengan kebutuhan terbangunnya iklim bisnis yang profesional jelang peralihan bisnis ke generasi ketiga.

Seperti diketahui, usia bisnis konglomerat China Perantauan di Indonesia sudah mencapai hampir seusia Orde Baru. Jika dihitung dari tahun 1965, maka usia bisnis mereka sudah mencapai sekitar 52 tahun.

Saa ini, hampir semua bisnis taipan besar sudah dikendalikan oleh generasi kedua. Sinar Mas Group yang didirikan oleh Eka Tjipta Widjaya, dengan kekayaan US$5,6 miliar atau senilai Rp76,05 triliun (Forbes Indonesia, 7 Februari 2017),   kini dikendalikan oleh generasi kedua di bawah komando putra sulung Teguh Ganda Widjaya. Teguh Ganda Widjaya sendiri, kini berusia 72 tahun (lahir di Makassar 10 Desember 1944).

Pada saatnya seluruh jaringan bisnis Sinar Mas Grup, salah satunya produsen pulp dan kertas terbesar kedua di dunia, akan dialihkan ke generasi ketiga.

Demikian juga Salim Grup yang didirikan Liem Sioe Liong. Dengan kekayaan mencapai US$ 5,4 miliar atau sekitar Rp 72,9 triliun, tampuk kepemimpinan jaringan perusahaan sangat besar ini, berada di bawah kendali Anthony Salim sebagai generasi kedua.

Anthony Salim sendiri, kini sudah menginjak usia 67 tahun (lahir 25 Oktober 1949), sehingga pada saatnya akan meariskan kepemimpinan kepada generasi ketiga.

Djarum Grup yang dibangun Oei Wie Gwam tahun 1951 di Kudus, juga dikendalikan oleh generasi kedua, yakni dua saudara R Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono. Kedua saudara yang masing masing ditaksir memiliki kekayaan US$ 3,14 miliar dan US$ 3,08 miliar. Keduanya, sudah barang tentu sedang bersiap siap menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada generasi ketiga Djarum Grup.

Budi Hartono kini berusia 66 tahun, tentunya bersiap siap mewariskan tampuk kepemimpinan bisnisnya kepada 3 orang anaknya yang merupakan generasi ketiga. Michael yang merupakan kakak kandung Budi yang kini berusia 68 tahun, akan mewariskan kekayaannya kepada 4 orang anaknya.

Hampir semua grup bisnis besar China perantauan sudah dikendalikan oleh generasi kedua dan akan beralih ke generasi ketiga. Sebut lagi misalnya Grup Ciputra,  Grup Astra dan lain sebagainya.

Peralihan generasi inilah yang diperkirakan mengkhawatirkan para senior. Jika saja praktik bisnis di Indonesia berjalan di atas rel profesionalisme, mereka tentu nyaman melakukan regenerasi.

Tetapi, begitu banyak praktik bisnis di Indonesia, terutama bisnis skala besar di berbagai sektor, seperti pertambangan, migas, perkebunan  industri, atau perdagangan masih sangat ditentukan oleh katabeletje pemerintah dan orang kuat lainnya.

Sementara profil atau alam berfikir generasi ketiga yang sudah makan sekolahan di tempat terbaik di dunia, ditambah elan zaman yang sudah berubah, membuat mereka tumbuh dan berkembang sebagai profesional.

Para senior tentu khawatir generasi ketiga terjerembab, karena alam berfikir profesional itu masih belum tentu cocok dengan “nilai-nilai” yang membentuk tradisi atau kebiasaan berbisnis di Indonesia.

Gara gara salah omong, atau gara-gara lupa mengucapkan hari ulang tahun kepada seorang di birokrat, bisa jadi masalah. Alam berfikir profesional adakalanya juga bertolak belakang ketika harus menetapkan pos bujet dalam jumlah tertentu untuk upeti guna memuluskan jalannya bisnis.

Praktik bisnis yang belum profesional ini memang menjadi dilematis. Sebab tidak sedikit pula, atau malah hampir semua bisnis para taipan, dibangun berdasarkan praktik bisnis dengan iklim yang belum profesional. Sehingga bagi penguasa atau orang-orang kuat lain, merasa sah sah saja “minta jatah”.

Sedemikian rupa, kondisinya seperti teka teki mana duluan telur atau ayam, siapa yang diternak dan siapa yang menernak.

Bagi China Perantauan, teka teki ini hanya bisa dijawab dengan pengaturan tata bisnis secara profesional, sehingga dengan aset  besar yang sudah diraup selama proses menernak dan diternak, hasil akhirnya berupa aset yang sduah berada di tangan, dapat diselamatkan untuk selanjutnya dikembangkan secara profesional tanpa lagi tergantung pada kehendak atau katabeletje penguasa dan orang kuat lainnya.

Diperkirakan itulah salah satu sebab mengapa China Perantauan yang sudah bergelimang aset itu ingin memaksakan orangnya, dalam hal ini Ahok jadi presiden boneka. Mereka ingin memproteksi jaringan bisnis yang sudah menggurita. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here