Beranikah China Perantauan Jadikan Ahok Presiden Boneka? (Bagian 4)

0
378

 

Nusantara.news, Jakarta – Spekulasi di mana Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok diplot jadi presiden terus berkembang luas, terutama sejak kasus reklamasi sepeninggal Jokowi yang terpilih jadi Presiden RI. Presiden dalam hal ini tentu saja presiden boneka konglomerat non-pribumi atau China perantauan terutama China perantauan yang sudah menjadi warga negara Indonesia. Pertanyaannya, beranikah China perantauan menjadikan Ahok jadi Presiden boneka? Motifnya “menjajah” atau apa? (Pengantar Redaksi)

Pilkada DKI, Bukti Kemampuan China Perantauan Jadikan Ahok Presiden Boneka

Setelah melihat bagaimana sepak terjang China perantauan yang disebut patriot oleh PKC Pusat, apabila berhasil menggolkan Ahok menjadi presiden boneka di Republik Indonesia, maka  pertanyaan yang segera muncul adalah, seberapa besar peluang China perantauan menggolkan Ahok menjadi presiden boneka di Republik Indonesia?

Pertanyaan ini tidak terlalu sulit dijawab. Pertama, China perantauan itu terbukti punya duit yang ukurannya mungkin tidak berseri. Siapa calon presiden yang bisa menyaingi kekuatan uang China perantauan? Kedua, China perantauan diyakini punya jaringan, tidak saja jaringan informasi di kekuasaan, tetapi jaringan kaum intelektual. Ketiga, China perantauan punya jaringan media yang tidak terlawan.

Tiga hal ini saja sudah cukup meyakinkan  bahwa China perantauan tidak akan terlalu sulit menggolkan Ahok  jadi presiden boneka.

Pengalaman menggolkan Jokowi-Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta adalah salah satu bukti kemampuan China perantauan memainkan semua kartu politik yang dimiliki.

Jangan lupa bahwa politik itu, seperti dikemukakan tokoh reformasi Unisovyet Gorbachov, adalah opini. Berpolitik berarti melakukan aneka tindakan untuk mempengaruhi dan mengendalikan opini publik. Sarananya adalah media massa. Siapa yang mengendalikan media massa? Pemiliknya, yakni sebagian besar jaringan China perantauan juga.  Ketika jaringan intelektual yang dimiliki bersinergi dengan jaringan media maka opini publik akan terkooptasi.

Kalaupun tidak, masih ada cara lain. Yakni, melakukan gerakan mengubah opini publik secara paksa melalui gerakan media secara sangat massif yang dilakukan berulang. Dengan cara ini, opini publik akan berubah mengikuti filosofi yang dikenal dalam komunikasi yang mengatakan, kebohongan yang dikemukakan secara terus menerus akan diterima sebagai kebenaran.

Praktik sama terjadi pada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika bertarung dalam Pilpres 2009. Ketika itu hampir semua hasil polling yang dilakukan lembaga survey secara periodik, keluar dengan data yang memosisikan SBY di peringkat satu. Tidak jelas apakah demikian kebenaran yang sesungguhnya. Tetapi posisi yang selalu di peringkat satu itu, mendapat efek luar biasa melalui apa yang dikenal sebagai efek bandwagon, atau efek ikut-ikutan, yakni efek  di mana seorang konsumen ingin memiliki suatu barang karena seseorang atau sekelompok orang yang lain juga memiliki barang tersebut. Orang yang semula belum menjatuhkan pilihan jadi terkena efek ikut-ikutan itu. Secara psikologis, memang pula orang akan selalu memihak pemenang, sebab tidak ada orang yang mau menjadi pecundang karena memilih orang yang akan menjadi pecundang.

Pertanyaan selanjutnya, melalui partai apa gerangan Ahok akan maju? Mengacu pada Pilkada DKI Jakarta, maka kemungkinan besarnya adalah melalui PDI Perjuangan. Ingat, proses yang dilalui Ahok sehingga akhirnya diusung oleh PDI Perjuangan, adalah sebuah proses yang panjang. Bahkan sempat berkembang opini bahwa Mega sudah menutup pintu PDI Perjuangan bagi Ahok. Jokowi sendiri sempat ikut membantu Ahok meyakinkan Mega. Ahok dan Jokowi menjemput Megawati, lalu ketiganya berada dalam satu mobil menghadiri acara Partai Golkar, tetapi hasilnya tetap saja tidak memuaskan.

Namun, di penghujung masa pendaftaran, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati akhirnya merestui pengusungan Ahok. Apa yang mempengaruhi Mega sehingga berubah di menit menit akhir? Katanya, karena hal seperti merupakan kebiasaan Megawati. Tetapi ada spekulasi, perubahan di menit-menit akhir itu dilatarbelakangi oleh turun tangannya lobi pamungkas yang berada di belakang Ahok. Siapa itu? Konon bukan para konglomerat atau China perantauan yang ada di Indonesia, melainkan lobi yang lebih besar lagi, yakni Pemerintah RRT.

Kalau Ahok maju lewat PDI Perjuangan, bagaimana dengan Jokowi? Jokowi hanyalah pohon yang dijadikan sekadar pohon induk tumpang sari. Ketika sari yang menumpang sudah bisa tumbuh sendiri, atau dianggap bisa tumbuh sendiri, dia akan memilih berdiri sendiri. Seperti pohon yang dicangkok, kalau sudah tumbuh, ya berdiri sendiri.

Seandainya RUU Pemilu yang sekarang sedang digodok di DPR benar menghapus pasal presidential threshold, maka China perantauan makin leluasa memilih memilih partai sebagai kendaraan politik untuk Ahok. Lebih jauh, apabila DPR RI yang sekarang sedang membahas RUU Pemilu, memutuskan peran Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) ditingkatkan menjadi semacam pengadilan bagi pelanggar pemilu (bukan sekadar pemberi rekomendasi), maka Ahok bahkan bisa leluasa memilih lawan tanding. Dengan jaringan informasi yang dimiliki, China perantauan sangat mungkin melaporkan lawan tanding berat ke Bawaslu untuk didiskualifikasi oleh KPU.

Oleh sebab pertanyaan yang tersisa adalah, beranikah China perantauan menjadikan Ahok jadi presiden boneka? Pertanyaan ini sepertinya mudah, tetapi sesungguhnya sulit dijawab oleh China perantauan, karena mereka harus menghitung mana lebih untung menguasai dari luar atau menguasai dari dalam.

Menguasai Indonesia dari dalam dengan cara mengambil alih tampuk kepemimpinan sebagai presiden, berpotensi sangat besar menghidupkan sentimen ke-China-an, yang tentu saja bisa berakibat fatal bagi seluruh etnis China di Indonesia sebagaimana terjadi secara berulang dalam sejarah Indonesia mulai zaman penjajahan Belanda sampai zaman reformasi.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here