Beranikah Jokowi Blusukan ke Rohingya?

2
158
Anak-anak etnis Rohingya terpaksa melarikan diri dari tanah kelahirannya demi menghindari kebiadaban militer Myanmar.

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Joko Widodo terkenal dengan kebiasaannya blusukan. Ini cara Jokowi untuk melihat pelaksanaan suatu program atau kegiatan. Dalam melakukan pemantauan dan evaluasi suatu program, pemimpin memang melihat langsung kondisi di lapangan agar dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Pemimpin yang terjun ke bawah juga dapat membangkitkan motivasi bawahan dalam melaksanakan tugas dan menciptakan sense of urgency dari seluruh jajaran organisasi untuk segera menyelesaikan pekerjaan dan mengatasi setiap masalah yang timbul.

Melihat langsung kondisi lapangan sebenarnya praktek paling dasar yang lazim dilakukan dalam pemantauan dan evaluasi suatu program. Dulu di era Bung Karno dikenal istilah turba (turun ke bawah). Berkat sering turba itulah Bung Karno menemukan pemikiran tentang marhaenisme.

Di masa Orde Baru, kebiasaan turba itu disebut sidak (inspeksi mendadak). Pak Harto sering melakukan kunjungan in-cognito ke berbagai tempat. Tujuannya sama, yakni menumbuhkan kesan adanya total immersion, keterlibatan mental secara penuh dari pemimpin untuk mencapai target program.

Turba, sidak atau blusukan itu adalah bukti keberpihakan yang nyata terhadap suatu kebijakan. Karena dia hadir secara fisik.

Setiap presiden Indonesia mempunyai caranya sendiri menunjukkan keberpihakan tersebut.

Gaya Sukarno

Bung Karno, selain gemar melakukan turba ke berbagai wilayah di Indonesia, juga gemar melakukan hal yang sama jika berkunjung ke luar negeri. Di negara-negara yang didatanginya, Bung Karno “mengekspor” gagasan kemerdekaan. Sehingga ada pameo, ke mana pun Bung Karno berkunjung, negara itu pasti dibakar api revolusi kemerdekaan.

Dukungannya terhadap kemerdekaan bangsa-bangsa ditunjang pula dengan orasi-orasi yang membakar semangat. Misalnya, tentang Palestina, Bung Karno pernah mengatakan,  “… selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.”

Itu ditunjukkannya dengan mencoret negara Israel dalam Asian Games di Jakarta tahun 1962, yang membuat International Olympic Committe (IOC) marah.

Sebelumnya, ketika KAA di Bandung tahun 1955, Bung Karno sengaja mengundang Siprus, negara kecil di Laut Tengah yang belum merdeka. Bung Karno sengaja melakukan itu, agar Siprus segera jadi negara berdaulat. Delegasi Siprus datang dipimpin anak muda bernama Mihalis Christodoulou Mouskos.

Benar saja, pada 1959 Siprus merdeka dan Mihalis yang kemudian terkenal dengan nama Uskup Agung Makarios III, menjadi presiden pertamanya.

Bung Karno juga mengundang Aljazair, yang waktu itu masih dijajah Prancis. Tokoh yang datang adalah Hussen Eit-Ahmed, pemuka pergerakan nasional Aljazair. Tujuh tahun kemudian, Aljazair merdeka. Eit-Ahmed, walaupun gagal menjadi presiden, adalah tokoh politik yang sangat diperhitungkan.

Bung Karno tidak hanya memberikan dukungan diplomasi bagi kemerdekaan Aljazair, tetapi juga mengirimi senjata untuk pejuangan kemerdekaan Aljazair. Bahkan perwira-perwira TNI juga dikirim untuk melatih tentara negara maghribi itu.

Nama Sukarno memang sangat harum di negara-negara Afrika dan Timur Tengah. Orang sana menyebutnya Ahmad Soekarno. Negara-negara lain seperti Mosambik, Somalia, atau Anggola mengaku kemerdekaan mereka terinspirasi dari KAA Bandung. Tak kurang dari  30 negara baru di Afrika yang terpicu semangat nasionalismenya karena Dasa Sila Bandung.

Sebagai bentuk penghormatan, di berbagai negara banyak nama jalan Sukarno. Di Rabat, Maroko, ada Rue Soukarno (ditulisnya memang Soukarno). Sebelumnya jalan itu bernama Al Rais Ahmed Soekarno (Pemimpin Ahmed Soekarno). Letaknya dekat stasiun kereta api Casa Voyager. Nama jalan ini diresmikan Raja Mohammed V dan disaksikan Presiden Sukarno pada tahun 1960.

Jalan Sukarno di Rabat, Maroko. (Foto: firaabdurachman.blogspot.co.id)

Di Mesir juga ada jalan Sukarno, di daerah Kit-Kat Agouza Geiza. Di Pakistan pun demikian, yaitu Soekarno Square Khyber Bazar di Peshawar dan Soekarno Bazar di Lahore.

Gaya Soeharto

Salah satu kegiatan Soeharto yang fenomenal adalah ketika pada awal dasawarsa 1990-an dia berkunjung ke Bosnia saat perang saudara Bosnia-Herzegovina bergolak. Ketika itu, dia ingin menunjukkan simpati kepada kaum Muslim di sana, yang dalam posisi sebagai minoritas menjadi bulan-bulanan kelompok etnis lain.

Menurut laporan Antara waktu itu, Soeharto memutuskan pergi ke Bosnia untuk menengahi konflik yang telah menimbulkan korban jiwa ribuan orang itu. Pada awal Maret 1995, Soeharto, yang seperti biasa didampingi beberapa pembantu terdekatnya, seperti Mensesneg Moerdiono dan Menlu Ali Alatas mengadakan lawatan ke Eropa.

Dalam agenda kunjungan itu, Soeharto juga akan ke Sarajewo, ibukota Bosnia, yang waktu itu sedang diamuk perang.  ABRI mengirimkan pasukan pendahulunya untuk menyiapkan kedatangan Soeharto beserta rombongan ke Bosnia, termasuk melakukan pendekatan kepada pemerintah Bosnia serta berbagai faksi yang sedang berseteru.

Ketika rombongan Presiden RI tiba di Eropa, belum ada kepastian bisa tidaknya rombongan itu ke Bosnia. Suasana makin mencekam, karena sebuah pesawat milik PBB yang melintas di Bosnia ditembak jatuh pada 11 Maret 1995.

Namun, Soeharto nekat ke Sarajevo pada 13 Maret, atau dua hari setelah pesawat PBB ditembak jatuh. Soeharto didampingi Moerdiono, Ali Alatas, diplomat senior Nana Sutresna, ajudan Kolonel Soegijono, Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden Kolonel Sjafrie Sjamsoeddin.

Sjafrie Sjamsudin sempat bertanya kepada Pak Harto, “Pak, kenapa Bosnia sedang kritis begini, bapak datang?”

“Ya, kita kan pemimpin negara Nonblok. Ada anggota kita sedang susah, ya kita tengok, ujar Soeharto dengan tenang, seperti dikisahkan Sjafrie Samsuddin dalam buku Pak Harto, The Untold Stories.

“Tapi kan risikonya besar, Pak,” kata Sjafrie lagi.

“Itu kan bisa kita kendalikan. Yang penting orang yang kita datangi merasa senang, morilnya naik dan mereka menjadi tambah bersemangat,” jawab Pak Harto.

Sebelum berangkat, seluruh rombongan, termasuk Soeharto sendiri, harus menandatangani surat persetujuan bahwa PBB tidak akan bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam kunjungan itu.

Setelah terbang sekitar satu jam, pesawat buatan Rusia yang ditumpangi Pak Harto  mendarat di Sarajevo. Setelah masuk sebentar di kantor PBB di bandara itu, Pak Harto dan rombongan menuju kantor pemerintah setempat di tengah kota dengan kendaraan pengangkut personel (armoured personel carrier/APC) milik PBB.

Perjalanan penuh bahaya Pak Harto ke Bosnia itu tak lain adalah penegasan yang sangat nyata tentang keberpihakannya pada penyelesaian konflik di negara itu. Entah berkait atau tidak, yang jelas tak lama kemudian perang berakhir.

Nama Soeharto hingga kini tetap dikenang di Sarajevo. Paling tidak monumennya adalah sebuah masjid megah di ibu kota Bosnia itu yang merupakan sumbangan warga Indonesia diberi nama Masjid Istiqlal. Masjid seluas 2.500 meter persegi itu lebih dikenal dengan nama Masjid Soeharto.

Masjid Istiqlal di Sarajevo, lebih dikenal dengan nama Masjid Soeharto.

Warisan Kepemimpinan

Kenangan orang tentang Sukarno atau Soeharto terkait keberpihakan total mereka itu adalah warisan nilai kepemimpinan (legacy): ternyata memimpin itu tak mudah. Bahwa  legacy itu dicatatkan di luar negeri, itu tentu kehebatan lain lagi.

Presiden Joko Widodo juga berpeluang mencatatkan warisan serupa, karena di masanya terjadi puncak keprihatinan dunia terhadap tragedi Rohingya, kelompok yang disebut PBB sebagai paling teraniaya di dunia. Apalagi sejauh ini Indonesia sudah banyak turun tangan membantu.

Desakan agar Indonesia mengambil inisiatif juga datang dari mantan Sekjen PBB Kofi Annan. Dia menghubungi Menlu Retno Marsudi dan meminta Indonesia turut berkontribusi mengimplementasikan hasil rekomendasi yang dikeluarkan oleh Annan Advisery Commission yang dipimpinnya.

“Dilihat dari temporary report  yang dikeluarkan pada Agustus lalu, apa yang dilakukan Indonesia fit very well dengan rekomendasi yang Kofi Annan,” kata Retno di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, (30/8).

Selain Annan, Retno juga dihubungi Menlu Turki Mevlut Cavusoglu untuk permintaan yang sama.

Masalahnya, bagaimana Presiden Joko Widodo memainkan perannya sebagai inisiator perdamaian di Rakhine. Beranikah Presiden blusukan ke Rakhine? Siapa tahu? Kalau iya, itu akan menjadi legacy berharga Jokowi kelak. Sekaligus meneruskan tradisi presiden Indonesia yang menginisiasi hal-hal besar, suatu tradisi yang putus dalam dua dasawarsa terakhir.[]

2 KOMENTAR

  1. Kalau Pak Jokowi mengunjungi, nanti dibilangnya : Cari Muka, Pencitraan
    Kalau tidak mengunjungi, nanti dibilang takut, tidak peduli

    Gampang kan kalau mau nyinyir?
    Saya sih tidak mau nyinyir

  2. […] Masalahnya, bagaimana Presiden Joko Widodo memainkan perannya sebagai inisiator perdamaian di Rakhine. Beranikah Presiden blusukan ke Rakhine? Siapa tahu? Kalau iya, itu akan menjadi legacy berharga Jokowi kelak. Sekaligus meneruskan tradisi presiden Indonesia yang menginisiasi hal-hal besar, suatu tradisi yang putus dalam dua dasawarsa terakhir.[Nn] […]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here