Beranikah Jokowi Perangi Narkoba Seperti Duterte?

0
178

Nusantara.news, Jakarta – Fakta derasnya arus masuk narkoba ke Indonesia, memperlihatkan ketidakberdayaan aparat melakukan pemberantasan narkoba. Fakta ini sekaligus membuktikan bahwa pasal hukuman mati dalam  UU Narkotika tahun 2009 sudah tidak lagi ditakuti. Oleh sebab itu, penanggulangan narkoba dari sudut pandang kriminal saatnya ditingkatkan dan memberantas bahaya narkoba melalui pendekatan keamanan nasional dan mengambil langkah lebih keras seperti dilakukan Duterte di Filipina.

Arus Deras Narkoba Asal China

Berbicara tentang narkoba sama dengan berbicara tentang China. Dua kata ini tak bisa dipisahkan. Bicara narkoba ya bicara China. Sebab, arus deras narkoba yang masuk ke Indonesia memang berasal dari China. Memang beberapa negara lain yang juga memasok narkoba ke Indonesia dalam jumlah cukup besar. Tetapi, China adalah pemasok paling besar.

“China merupakan pemasok narkotika terbesar ke Indonesia,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombes Slamet Pribadi Slamet di Cirebon, Agustus 2016. Slamet menegaskan, jaringan narkotika dari China memegang kendali peredaran bisnis narkotika di Indonesia.  Setelah China ada Iran yang menempati urutan kedua sebagai pemasok terbesar, kemudian Afrika dan negara-negara Eropa.

Data terbaru yang diungkapkan Kabag Humas BNN Kombes Sulistriandriatmoko di Kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (3/5/2017), 80 persen sabu yang masuk ke Indonesia merupakan produk dari China

Berapa besar narkotika yang masuk ke Indonesia? Tahun 2015 BNN merilis pengungkapan sejumlah kasus dengan barang bukti besar. Dari sindikat internasional Tiongkok berhasil dilakukan penangkapan beberapa kali. Tanggal 5 Januari BNN mengamankan jaringan narkotika internasional di kawasan Lotte Mart Taman Surya, Kalideres Jakarta Barat, dengan barang bukti sabu seberat  862.603,1 gram.  Tanggal 13 Maret 2015, BNN menggagalkan jaringan sindikat narkotika yang melibatkan seorang WNI dan tiga WNA Hong Kong, Tiongkok, dengan barang bukti sabu 49.351 gram. Tanggal 17 Oktober 2015, BNN mengamankan 2  orang yang diduga anggota sindikat narkotika internasional (Tiongkok–Malaysia–Indonesia) di sebuah area pergudangan di Kota Medan, dan menyita barang bukti berupa sabu seberat 270.121,8 gram yang diduga berasal dari Tiongkok. Tanggal 19 Nopember 2015, BNN mengamankan seorang kurir bernama Tommy Liem  yang membawa sabu seberat 161.115,2 gram di daerah Karawang.

Sementara Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan,  Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengungkapkan data bahwa sepanjang tahun 2016 terhitung sejak bulan Januari hingga Juni, telah menggagalkan 141 kasus penyelundupan narkoba.  Barang bukti yang disita mencapai  342.849,02 gram

Pada tahun yang sama, Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso, mengungkapkan pada tahun 2016 ada 250 ton narkotika jenis sabu yang masuk ke Indonesia dari Tiongkok. Itu narkoba yang sudah siap dikonsumsi. Sementara bahan baku untuk obat-obatan narkotika yang dipasok ke Indonesia tahun 2016 itu, mencapai angka yang lebih fantastis mencapai 1.097,6 ton.

Tidak kurang Menteri Keuangan Sri Mulyani mulai angkat bicara soal peredaran narkotika di Indonesia. Mengutip data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Sri Mulyani mengatakan, hingga November 2016, terdapat 223 kasus narkotik dengan total barang bukti 1.072,55 kilogram.

Jumlah ini naik dari angka sebelumnya pada 2015, yakni sebanyak 176 kasus dengan barang bukti 599,75 kilogram. Sementara pada 2014, terungkap 216 kasus dengan total barang bukti 316,06 kilogram.

Penangkapan tahun 2017 makin gila. Pada Rabu (12/7/2017) malam, polisi menyita satu ton sabu dalam 51 kardus yang dimiliki oleh empat orang warga Taiwan. “Kami menangkap mereka, tetapi satu dari mereka berusaha lari, kena tembak, dan mati. Dua orang berhasil ditangkap, sementara yang keempat kabur dan kami sedang melakukan pencarian,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono.

“Satu ton itu besar sekali, kalau beras satu orang secara normal menyantap 600 gram, sabu satu gram bisa membuat ‘teler’ lima orang. Maka dapat menyelamatkan lima juta manusia dari satu ton sabu,” ujar Menko Polhukam Wiranto.

Pendekatan Kemanan Nasional

Derasnya arus masuk narkotika ke Indonesia, terutama yang berasal dari  China, patut menjadi catatan sangat serius. Sebab, dari segi kelembagaan sudah cukup banyak yang terlibat dalam penaggulangannya, mulai dari Bea Cukai, Kepolisian dan BNN, juga Imigrasi. Masing-masing lembaga ini memiliki aparat di semua jalur masuk narkoba di seluruh Indonesia, baik darat, udara, maupun laut. Lembaga ini dilengkapi fasilitas dan wewenang yang jelas.

Dari sisi penuntutan, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, mengakomodir hukuman mati, sebagaimana diatur pada Pasal 114 ayat (2) berbunyi: Dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli,menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan 1 sebagaimana dimaksud pada ayat 1 yang dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 kg atau melebihi 5 batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya 5 gram, pelaku dipidana dengan pidana mati”.

Selain itu, pernyataan Indonesia dalam keadaan darurat narkoba juga sudah sering dilontarkan.

Bahwa arus narkoba masih deras masuk ke Indonesia, bahkan berani memasok satu ton dalam sekali kirim, membuktikan sedikitnya dua hal. Pertama, bahwa penanggulangan bahaya narkotika melalui pendekatan kriminal sudah tidak efektif. Kedua, pasal hukuman mati dalam UU Nakotika, juga sudah tidak efektif karena ternyata tidak membuat gembong narkoba takut.

Oleh sebab itu, saatnya mengubah paradigma atau mengubah cara pandang dalam menanggulangi bahaya narkotika. Jika selama ini pendekatan penanggulangan bahaya narkotika dilakukan melalui pendekatan kiriminal, diubah menjadi pendekatan keamanan nasional.

Saat Bangsa China dicekoki candu oleh Inggris, Prancis dan Amerika, Kaisar Yongzheng juga turun tangan dengan mengeluarkan dekrit berisi perintah kepada pejabat-pejabat untuk ikut memberantas candu. Tahun 1729 Kaisar Yongzheng bahkan melarang mengimpor candu kecuali untuk pengobatan.

Karena larangan itu tidak berhasil menghentikan impor candu ke China, maka pada tahun 1799 kekaisaran di bawah pemerintahan Kaisar Jiaqing mengeluarkan dekrit baru lagi berbunyi: “…orang asing tentu saja mendapatkan keuntungan dan laba yang besar, namun bila rakyat kita harus mengejar kesenangan yang merusak dan berbahaya ini, maka hal tersebut pastilah menyedihkan dan tercela..” (Wicaksono, 2011: 215)

Sampai saat ini pemerintah China bertindak keras terhadap gembong yang mengedarkan narkoba di China. Tetapi tidak terhadap industri narkotika di sejumlah daerah seperti Guangdong dan Guangxi Sichuan untuk tujuan ekspor.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte juga keras. Sejak terpilih sebagai Presiden Filipina, Duterte menyatakan perang besar-besaran terhadap narkoba. Ada empat langkah yang diambil. Pertama, tembak mati di tempat bandar narkoba. Kedua, membolehkan warga ikut menembak mati bandar narkoba. Ketiga,  melibatkan militer memerangi bandar narkoba. Keempat, ingin eksekusi mati 5-6 penjahat narkoba per hari.

Pemberantasan narkoba melalui pendekatan keamanan nasional tidak hanya akan menakutkan bagi gembong, pengedar dan pemakai narkoba, tetapi juga mematahkan siasat menjadikan narkoba sebagai alat melemahkan bangsa Indonesia untuk tujuan neokolonialisme.

Langkah mirip Duterte pernah dilakukan oleh Pemerintahan Orde Baru terhadap preman di seluruh Indonesia melalui apa yang dikenal sebagai penembakan misterius (petrus). Beranikah Jokowi mengambil langkah seperti yang dilakukan orde baru atau seperti Duterte? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here