Beraninya Merkel “Kucilkan” Trump di G20

0
176
Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden China Xi Jinping di depan Gerbang Brandenburg di Berlin, Jerman, Selasa (4/7). ANTARA FOTO via REUTERS

Nusantara.news Perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Hamburg Jerman pada 7-8 Juli lalu telah usai, namun ulasan tentang bagaimana masa depan kerja sama kelompok negara-negara ekonomi utama itu, masih terus menjadi pembahasan menarik di berbagai media internasional. Pasalnya, KTT G20 tahun ini, mungkin merupakan yang paling fenomenal dibanding sebelum-sebelumnya, dimana Amerika Serikat sebagai negara dengan ekonomi paling kuat di dunia itu, tampak “dikucilkan” oleh mayoritas negara G20. Penyerunya tak lain sang tuan rumah, kanselir Jerman Angela Merkel.

Merkel memang seperti memiliki “dendam” dengan presiden baru Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam kunjungan ke Washington, DC Maret lalu, Merkel pernah dipermalukan di depan para wartawan, saat memberikan keterangan pers bersama dengan Trump di Gedung Putih. Saat itu, Trump menolak  jabat tangan Merkel yang telah menyorongkan tangannya. Peristiwa itu sempat membuat sebagian publik Jerman marah, karena merasa pemimpinnya dilecehkan.

Berikutnya, dalam pertemuan KTT NATO di Brussels bulan Mei lalu. Saat itu Trump berpidato di hadapan kepala-kepala negara anggota NATO dan kembali menyindir Jerman sebagai negara yang kurang berkomitmen dalam kontribusinya terhadap NATO, dimana anggaran pertahanan Jerman belum mencapai 2% dari GDP. Setelah pertemuan itu, ditambah lagi dengan pernyataan Trump saat pertemuan G7 di Sisilia setelahnya, yang ingin AS menarik diri dari Kesepakatan Paris tentang perubahan iklim, maka memuncaklah kemarahan Merkel.

Merkel lalu mengeluarkan pernyataan ‘heroik’, bahwa Eropa tidak boleh lagi bergantung ke AS atau negara mana pun. Eropa harus bisa berdaulat, berdiri di atas kaki sendiri. Meskipun pernyataan ini disampaikan saat Merkel memulai kampanye untuk pencalonannya sebagai kanselir Jerman yang keempat kalinya, tapi ini sekaligus imbauan kepada negara-negara Eropa lain, bahwa AS yang sekarang bukanlah AS yang dulu. Maka mengalirlah dukungan dari saudara-saudara Eropa lainnya, seperti Prancis dengan Presiden barunya, Emmanuel Macron.

Dukungan juga didapat dari negara-negara non-Eropa yang tidak suka dengan Donald Trump memimpin AS seperti China yang menjadi “korban” perang dagang AS dan juga Jepang, sekutu lama AS yang mungkin akan “membelot” ke Eropa. Jepang sudah melakukan perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa setelah Trump menyatakan diri bahwa AS keluar dari perjanjian perdagangan Trans-Pasific Partnership (TPP) yang membuat galau negara-negara sekutu lama AS seperti Jepang dan Australia.

Merkel sebagai “kepala suku” Eropa telah menghadapi perang kata-kata dengan Trump sejak presiden AS itu naik tahta bulan Januari 2017 lalu. Misalnya, tentang defisi perdagangan antara Jerman dan AS yang banyak merugikan ekonomi AS, kemudian tentang kontribusi pertahanan yang tidak berimbang di NATO, dan lain sebagainya. Namun, Merkel tampak tenang dan terus berupaya melakukan kompromi dengan Trump, hingga akhirnya dia memutuskan memilih caranya sendiri, yaitu dengan “mengucilkan” AS di forum KTT G20. Tindakan berani yang mungkin belum pernah dilakukan pemimpin negara mana pun terhadap AS.

Media USA Today menggambarkan tentang kehadiran Trump di Hamburg dengan menuliskan, “Trump menghadiri pertemuan puncak G-20 di Hamburg, namun sejatinya dia sebenarnya bukan bagian dari kelompok itu,” untuk menggambarkan betapa pemimpin negara adidaya itu sedemikian terkucil di forum dunia, dimana biasanya AS selalu memimpin.

Menyadari dirinya dikucilkan, maka sebagai gantinya, Trump menggunakan ruang di konferensi yang dengan murah hati disediakan oleh tuan rumah, untuk melakukan serangkaian pertemuan “mini bilateral” di sela-sela KTT yang sedang berlangsung, dimana Trump lebih mengejar keinginannya sendiri.

Trump bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas campur tangannya dalam pemilu di Barat. Dia juga bertemu dengan para pemimpin di Asia membahas tentang Korea Utara. Trump bertemu dengan mitra dagang AS di seluruh dunia memanfaatkan celah waktu di KTT Hamburg yang berlangsung dua hari itu, namun semua berlangsung secara bilateral, satu per satu, termasuk dengan presiden Indonesia. Jika melihat kursi Trump di ruang KTT G20 tampak diduduki putrinya, Ivanka Trump dalam beberapa puluh menit, itu pada saat Trump bertemu dengan Presiden Indonesia Joko Widodo, yaitu pada Sabtu, (8/7).

Oleh karena itu, jika Presiden George W. Bush dijuluki sebagai presiden sepihak, yang terlalu sering melakukan sendiri di panggung dunia; lalu Presiden Barack Obama adalah presiden multilateral, yang mencari konsensus mengenai isu-isu seperti perubahan iklim, perdagangan dan keamanan, maka Trump adalah seorang presiden bilateral yang berusaha membuat kesepakatan satu per satu.

Trump yang dikecam tetang proteksionisme perdagangan, justru menunjukkan dirinya ingin fokus pada perjanjian bilateral, sebagai antitesa keharusan mengikuti kesepakatan bersama dalam konteks “pasar bebas”. Ini menunjukkan bahwa Trump juga sering keluar dari pertemuan utama.

Dikucilkannya Trump dalam forum tersebut, terlihat sejak awal pertemuan, ketika semua kepala negara berpose secara resmi. Trump tampak ditempatkan di sudut kiri, sementara Kanselir Merkel berada di tengah barisan dengan balutan blazer berwarna merah menyala. Bagi sebagian orang, ini simbol bahwa negara-negara G20 ingin menempatkan Merkel pada posisi terdepan memimpin Dunia, dan meminggirkan peran AS.

Kendati demikian, pihak penyelenggara menyatakan penempatan posisi tersebut berdasarkan urutan senioritas dalam menjabat di pemerintahan. Misalnya, Trump dan  Emmanuel Macron dari Prancis terbilang baru menduduki jabatan sebagai presiden di negaranya, sebab itu posisinya semakin ke pinggir. Tapi tetap saja publik melihat bahwa AS dikucilkan dalam pertemuan tersebut.

Pengucilan terhadap AS ditunjukkan tidak saja dari perlakuan visual terhadap Trump, tapi juga dari kesepakatan yang tertuang dalam komunike bersama. Kelompok G20 secara tegas menolak proteksionisme, hal yang selama ini didengung-dengungkan Trump, bahkan sudah dilakukannya dengan tindakan mengevaluasi kerja sama perdagangan dengan sejumlah negara. Mayoritas negara G20 tidak mau mengikuti kehendak Trump terkait proteksionisme.

Dalam dokumen komunike disebutkan, G20 menganggap proteksionisme sebagai perdagangan yang tidak adil. G20 juga menegaskan kembali pentingnya transparansi dan hubungan perdagangan yang saling menguntungkan dengan menyerahkan pengawasan kepada WTO, UNCTAD dan OECD. Sementara, menurut Merkel, Trump hingga pertemuan berakhir tetap bersikeras dengan proteksionisme, sehingga mau menerima komunike tersebut dengan mamasukkan klausul tentang “hubungan perdagangan yang saling menguntungkan”, hal yang selama ini menjadi kritik Trump terhadap kerja sama perdagangan dengan Jerman dan China yang selama ini dianggapnya “merugikan” AS.

Dalam kesepakatan lain, yaitu tentang pencegahan perubahan iklim, presiden Trump sangat jelas terkucilkan. Karena 18 negara lain plus 1 Uni Eropa berkomitmen penuh akan tetap dalam Kesepakatan Paris 1995 tentang perubahan iklim. Trump bersikukuh tidak mau merevisi pernyataannya beberapa waktu lalu yang menarik diri dari kesepakatan perubahan iklim. Sebagai gantinya, AS akan bekerja mengurangi perubahan iklim dengan caranya sendiri.

Pertanyaannya, “tanpa Amerika” mampukah negara-negara G20 menjalankan kesepakatan-kesepakatan bersama? Dan perubahan dunia semacam apa yang kira-kira bakal terjadi?

Chris Uhlmann, editor politik Australian Broadcasting Corporation, salah satu jurnalis Australia yang dikenal baik publik Australia karena pendapatnya yang jujur, menyampaikan analisis pada program politik ABC Insiders.

Berbicara hari Minggu (9/6) tentang KTT G20 di Hamburg, Uhlmann mengatakan Trump telah menunjukkan tidak ada keinginannya, dan tidak memiliki kapasitas untuk memimpin dunia. Dia menjadi “dirinya sendiri”, dan ini ancaman terbesar bagi nilai-nilai Barat.

“Dia sosok yang tidak nyaman, kesepian, canggung dalam pertemuan ini dan Anda dapat memahami bahwa sejumlah pemimpin berusaha menemukan cara terbaik untuk mengatasinya,” kata Uhlmann.

Uhlmann juga mempertanyakan kenapa tidak muncul sikap Trump terhadap Korea Utara dalam forum strategis itu. Padahal penentangan terhadap nuklir Korea Utara menjadi konsen Trump sejauh ini.

“Mana pernyataan G20 yang mengecam Korea Utara, yang memberi tekanan pada China dan Rusia? (padahal) pemimpin lain mengharapkannya, mereka siap mendukungnya, tapi tidak pernah datang (dari AS),” katanya.

Bahkan, dalam konteks Korea Utara, secara sinis Uhlmann mengatakan, Trump terobsesi dengan “ke-selebritisannya” dan telah “menghancurkan” negerinya sendiri demi keuntungan bagi Rusia dan China.

“Kami mengetahui bahwa Donald Trump telah membuat kemunduran cepat bagi Amerika Serikat sebagai pemimpin global. Dia berhasil mengisolasi negaranya, untuk membingungkan dan mengasingkan sekutu-sekutunya,” tegasnya.

Uhlmann telah menjadi editor politik nasional berita ABC sejak tahun 2015, dan memenangkan penghargaan Walkley, penghargaan jurnalisme tertinggi di Australia, untuk wawancara siarannya pada tahun 2008.

Pendapat tentang Trump semacam ini, bisa jadi yang membuat Kanselir Jerman Angela Merkel akhirnya merasa punya keberanian untuk  “mengucilkan” Trump, presiden negeri adidaya itu, dalam forum G20. Hal yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan oleh pemimpin negara Eropa mana pun. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here