Hari Bahasa Ibu Se-Dunia 

Berdandan Punokawan, Siswa SD Kunjungi Redaksi Majalah Berbahasa Jawa

0
128

Nusantara.news, Surabaya – Memperingati Hari Bahasa Ibu Sedunia, siswa-siswi Sekolah Dasar Muhammadiyah (SDM) 17 di Jalan Simolawang Surabaya berdandan Punokawan, tokoh lucu yang biasa memberi petuah dan nasehat dan humoris di dalam seri pewayangan. Selain itu, para siswa juga mengikuti pelajaran membaca dan menulis huruf Jawa. Kegiatan tersebut, dilakukan di kantor redaksi Majalah Bahasa Jawa Penjebar Semangat di jalan Gedung Nasional Indonesia di Jalan Bubutan Surabaya, Senin pagi (20/2/2017).

Sedikitnya 20 siswa sekolah yang terlihat sangat antusias mengikuti belajar membaca dan menulis Bahasa Jawa. Pembimbingnya langsung diberikan oleh para awak media Majalah Panjebar Semangat, yang merupakan majalah tertua dan satu-satunya yang berbahasa Jawa.

“Kegiatan belajar menulis dan membaca Bahasa Jawa langsung dari ahlinya ini sangat bermanfaat. Selain berguna untuk anak didik, juga untuk menjaga dan melestarikan bahasa daerah. Karena, pembelajaran bahasa daerah sering kali menjadi korban dari berubah-ubahnya kurikulum yang berlaku di sekolah,” ujar Kepala Sekolah SDM 17 Surabaya, Muslimin,

Pembelajaran tersebut sengaja dipilih dalam rangkaiannya memperinggati Hari Bahasa Ibu Se-Dunia, yang jatuh pada 21/2/2017, sekaligus juga memperingati Hari Pers Nasional yang diperingati setiap 9 Februari. Kegiatan ini duharapkan agar para siswa dan masyarakat umum ikut menjaga kelestarian bahasa lokal yang kian tergerus oleh pemakaian bahasa nasional dan bahasa internasional atau bahasa Inggris.

Mengikuti acara tersebut, Muhammad Uwes siswa kelas 4 yang berdandan Semar, mengaku senang dengan peran yang dilakoni. Dia juga mengaku gembira bisa belajar membaca dan menulis huruf Jawa langsung dari penulis majalah berbahasa Jawa yang keberadaannya melebih umur kakek mereka.

Di akhir acara siswa memberikan kado berupa ban bekas bertuliskan “Penyelamat Bahasa Ibu”. Ban bekas atau pelampung, diartikan sebagai simbol penyelamatan, karena kondisi bahasa lokal saat ini terus tenggelam dan butuh untuk diselamatkan.

Sementara, Wijotohardjo dari jajaran Redaksi Majalah Panjebar Semangat berpesan gerenasi muda perlu tahu tentang bahasa lokalnya, yang sekaligus merupakan bahasa ibu mereka.

“Ini tidak bertentangan dengan cita-cita Bangsa Indonesia, yang tertuang dalam Sumpah Pemuda 1928 di poin ketiga. Bukan berbahasa satu, tapi menjunjung bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Otomatis adanya bahasa daerah harusnya terus dilestarikan,” katanya.

Untuk diketahui, tidak banyak yang mengetahui jika tanggal 21 Februari adalah Hari Bahasa Ibu Internasional atau International Mother Language Day. Penetapan yanggal itu berawal saat Gubernur Jenderal Pakistan menetapkan Bahasa Urdu sebagai bahasa resmi di Pakistan. Namun, kebijakan tersebut ditolak oleh warga Pakistan Timur yang memiliki Bahasa Bangla. Tidak terima dengan klaim tersebut menjadi picu terjadinya aksi demontrasi besar-besaran pada 21 Februari 1952, dan berujung peristiwa bentrokan dan menelan banyak korban jiwa.

Untuk mengenang peristiwa berdarah itu muncul gagasan agar Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil langkah melestarikan semua bahasa di dunia dari kemungkinan kepunahan. Gayung bersambut, usulan tersebut mendapat dukungan dari 188 negara anggota PBB. Hingga akhirnya Hari Bahasa Ibu Internasional ditetapkan oleh PBB, pada 1999. Selamat Hari Bahasa Ibu se Dunia. Ayo kita lestarikan bahasa daerah. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here