Berebut Aliansi di Semenanjung Korea

0
118
Utusan Korea Selatan, Lee Hae-chan, bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada bulan Mei lalu. Lee sedang dalam misi memperbaiki keretakan antara negara-negara yang dimulai saat di bawah Presiden Park Geun-hye.

Nusantara.news – Kawasan Semenanjung Korea saat ini tengah berada di bawah ketegangan yang bisa meletup kapan pun. Ada Korea Utara, diibaratkan sebagai “anak bandel” yang selalu siap dengan konflik bersenjata, tapi konon, masih berada di bawah kendali China. Hingga minggu lalu, serangkaian uji coba rudal balistik masih terus dilakukan negara Kim Jong-un itu, kendati telah dikecam seluruh dunia. Entah karena sang diktator yang “gila”, atau memang Korut punya kekuatan atau dukungan kekuatan tersembunyi.

Pemicu awal ketegangan di kawasan semenanjung Korea adalah latihan tentara Korea Selatan yang melibatkan Amerika Serikat, memancing Korut meluncurkan uji coba Rudal. AS kemudian dengan alasan melindungi sekutunya, Korea Selatan dan Jepang dari serangan rudal Korut itu, mengirimkan dua grup kapal induk ke semenanjung Korea. Sebelumnya, AS juga memasang sistem anti-rudal di Korsel, yang diprotes tetangganya, China. Sementara China, sampai saat ini cenderung mendiamkan, sesekali menegur Korut. China seolah ingin menarik keuntungan dari “kebandelan” Korut atau mungkin memang dia yang menyokong Korut.

Belakangan, China mendekati Korsel, merayunya untuk beraliansi. Presiden Korsel yang baru terpilih dan dilantik awal Mei lalu, Moon Jae-in, setelah presiden sebelumnya Park Jeung-hye dimakzulkan karena kasus korupsi, memang cenderung pro-China dan lebih menginginkan penyatuan kembali Korsel dan Korut. Dia punya inisiatif untuk membangun komunikasi dengan diktator Korut Kim Jong-un.

Di balik ketegangan semenanjung Korea, sebetulnya ada soal perebutan aliansi antara AS dan China di kawasan itu. China tentu sangat menginginkan untuk membangun aliansi dengan Korsel dalam rangka memperkuat posisinya di kawasan Asia Timur. Selain Jepang, Korsel yang sudah lama menjadi sekutu AS, tentu sangat penting bagi Paman San untuk eksistensinya di kawasan Asia Timur. AS, Korsel dan Jepang telah lama beraliansi, meskipun hubungan Korsel dan Jepang tidak begitu baik. Rakyat Korsel masih belum melupakan kejahatan Jepang soal perang dunia kedua.

Ketika mulai berkuasa pada tahun 2013, Presiden China Xi Jinping pernah mencoba membangun aliansi dengan Korsel, sekutu AS, namun tidak lama hubungan China dan Korsel kemudian memburuk.

Presiden Korsel saat itu, Park Geun-hye, menaruh rasa hormat yang besar terhadap Xi Jinping. Park pernah berfoto bersama dalam sebuah pawai militer di lapangan Tiananmen China, satu hal yang langka dilakukan sekutu AS. Namun kemudian Park berpaling dari Xi Jinping, saat Presiden China itu menolak keinginan Korsel untuk mengendalikan Korut.

Sekarang, Xi Jinping kembali mencoba merayu pemimpin baru Korsel, Moon Jae-in. Dia berharap Korsel bisa beralih ke China dari aliansi dengan AS, sehingga bisa memperkuat posisi China di Asia Timur.

Moon, seorang pendukung penyatuan Korsel dengan Korut, tampaknya seorang teman yang lebih cocok untuk Xi Jinping ketimbang Park yang lebih konservatif. Park saat ini mendekam di penjara karena tuduhan korupsi.

Pada saat Korea Utara meningkatkan frekuensi uji coba misilnya dan bersiap untuk melakukan uji coba nuklir keenam, hal yang lebih penting bagi China ternyata adalah bersama Korsel mendorong upaya diplomatik untuk menghadapi kebuntuan hubungan dengan Korut.

Saat ini memang hubungan China dan Korut, sekutunya, juga dilaporkan tengah berada dalam posisi rendah. Beijing, dengan demikian, mengalami hubungan yang kurang bagus dengan kedua Korea, baik Korut maupun Korsel.

Presiden Xi Jinping melihat presiden Korsel yang baru, Moon Jae-in, sebagai peluang untuk memperbaiki hubungan itu ketimbang di era Park. Oleh karena itu, kepada Moon, Xi ingin mempertegas bahwa sistem pertahanan rudal AS (Terminal High Altitude Area Defense/THAAD) yang telah diberi wewenang pada masa Park dan segera dibangun oleh AS di Korsel sesaat sebelum Moon menjabat, merupakan hambatan utama bagi hubungan baik antara China dan Korsel.

Beijing mengeluhkan sistem THAAD tersebut, yang dirancang AS untuk melindungi Korsel dari Korut, namun juga sekaligus merusak kekuatan sistem rudal China dan kemampuannya untuk mencegah serangan nuklir.

China melihat THAAD sebagai satu elemen dalam upaya untuk mengerdilkan militer China, dengan membangun arsitektur strategis yang pada akhirnya akan menghubungkan Korsel, Jepang dan AS.

“Menghentikan pemasangan sistem THAAD adalah yang diinginkan China,” tulis Global Times, surat kabar negara bagian di China yang sering mencerminkan pemikiran kepemimpinan Partai Komunis China, sebagaimana dilansir Reuters.

Surat kabar itu juga mengatakan bahwa segera setelah pemilihan Presiden Moon “Seoul perlu membuat pilihan antara memasang THAAD atau melanjutkan hubungan China-Korea Selatan”. Tentu saja pilihan yang amat sulit bagi Korsel.

Namun, menurut sejumlah analis China. Presiden Xi Jinping akan berusaha meyakinkan Moon untuk membuat kompromi yang mungkin tidak mengenakkan bagi AS.

THAAD tiba di Seongju dari AS pada bulan April lalu. Selama kampanye pemilu Korsel, Moon Jae-in mengatakan bahwa dia menentang penyebaran THAAD secara terburu-buru.

Sementara itu, Presiden Moon juga tampaknya sedang berselisih dengan Pentagon, Departemen Pertahanan AS. Pasalnya, pada Selasa lalu, Moon memerintahkan penyelidikan mengenai kenapa empat peluncur THAAD yang baru saja tiba di Korsel datang tanpa sepengetahuannya. Peluncur itu untuk melengkapi dua instalasi THAAD yang sudah terpasang sebelumnya.

Apakah ini sinyal bahwa Moon lebih memihak China yang sejak awal menolak keberadaan THAAD di Korsel? Sejumlah pengamat, salah satunya Cheng Xiaohe, profesor hubungan internasional di Universitas Renmin, Beijing menyatakan belum tentu juga. Korsel saat ini membutuhkan THAAD untuk melindungi rakyatnya dari ancaman serangan Korut.

China, sejak tahun 1990-an telah khawatir AS akan membentuk sebuah aliansi mirip NATO di depan pintu negaranya. Dan boleh jadi, pemasangan THAAD menjadi awal ke arah itu. Karena itu, China sangat marah dengan itu.

Menurut Cheng Xiaohe, China juga kemungkinan akan menuntut agar pemerintah Moon mengizinkan China memverifikasi sistem radar THAAD, tapi kemungkinan akan ditolak oleh Pentagon.

Seorang ilmuwan roket dari China, Wu Riqiang, mengatakan sistem THAAD membuat AS dapat memantau rudal balistik milik China. THAAD juga mampu membedakan antara hulu ledak atau hanya umpan yang sebenarnya dibawa oleh rudal, sehingga dianggap dapat melemahkan sistem persenjataan China.

Selama kampanye pemilu Korsel, Moon telah meminta anggota parlemen Korsel untuk menilai keputusan awal mengenai penempatan THAAD tersebut. Inilah yang membuat China cukup optimis untuk mengajak Korsel, terutama presiden barunya, untuk membangun aliansi baru antar-kedua negara.

Sejak perang Korea, ketika AS membantu mencegah Korut menyerang Korsel, AS tetap berkomitmen terhadap aliansi AS-Korsel.

Tapi sekarang tampaknya adalah waktu yang tepat bagi Presiden Xi Jinping untuk “merebut” Korsel dari AS, yaitu dengan memanfaatkan ketidaksukaan Trump terhadap kerja sama AS-Korsel. Trump dengan jargon “America First” pada bulan April lalu pernah menyebut bahwa kesepakatan perdagangan AS-Korsel dalam lima tahun ke belakang adalah “kesepakatan mengerikan” yang telah membuat Amerika “hancur”. Kalimat yang juga sama dilontarkan Trump terhadap China.

Selain itu, selama kampanyenya Pilpres AS, Trump juga menuduh Korsel tidak membayar kewajibannya untuk 28.500 tentara AS di negara tersebut yang berfungsi sebagai pertahanan bagi Korsel. Trump juga membuat Korsel kecewa ketika pada bulan April lalu mengatakan bahwa dia ingin Seoul membayar sebesar USD 1 miliar untuk sistem THAAD-nya.

Pasca-pemasangan THAAD di Korea Selatan, Beijing yang merupakan mitra dagang terbesar bagi Seoul, mendorong konsumen China untuk memboikot mobil, ponsel, band, dan acara televisi dari Korea Selatan. Dengan menggunakan dalih pelanggaran keselamatan, pihak berwenang China juga menutup setengah dari 112 toko yang dioperasikan konglomerat Korsel di China: Lotte. Situs perusahaan tersebut juga diretas. Kemudian pariwisata China ke Korea Selatan juga melambat.

Namun, sehari setelah kunjungan utusan Korea Selatan, Lee Hae-chan untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping di Beijing Mei lalu, situs Lotte telah dipulihkan, meskipun toko-tokonya tetap tutup. Mungkin, China masih menunggu langkah positif Presiden Korsel Moon terkait THAAD, untuk kembali membuka toko-toko Lotte.

Apabila aliansi terbangun antara Korsel dan China, lalu kedua negara berhasil menjalankan upaya diplomasi dengan Korut soal senjata nuklir, AS bakal kehilangan satu kaki pentingnya di kawasan Asia Timur. China pun akan semakin percaya diri di kawasan ini. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here