Berebut Pemilih Milenial Lewat ‘Gimmick Politik’

0
140

Nusantara.news, Jakarta – Survei nasional Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis September 2017 menunjukkan temuan menarik. Joko Widodo (Jokowi) unggul pada semua segmen usia, tapi ternyata lemah pada segmen pemilih generasi milenial, yakni pemilih rentang usia 20–29 tahun. Dukungan generasi milenial kepada Jokowi hanya 31,7 persen, sedangkan terhadap Prabowo Subianto 35,3 persen.

Survei dilakukan sedikitnya terhadap empat media sosial terpopuler, yakni Facebook, Twitter, Path, dan Instagram. Dari ketiga media sosial tersebut, Prabowo lebih unggul. “Kami melihat di akun seperti Twitter, Path, dan Instagram justru lebih banyak akun yang preferensi politiknya ke Prabowo,” kata peneliti CSIS, Arya Fernandes, Sabtu (4/11/2017).

Lemahnya dukungan generasi milenial kepada Jokowi cukup mengejutkan. Sebab, selama ini Jokowi terlihat dekat dengan kelompok muda. Sebagai contoh, interaksi Presiden Jokowi dengan penyanyi cantik Raisa di Istana Presiden beberapa waktu lalu menjadi trending topik dan viral di media sosial.

Selain itu, sosok Jokowi dikenal gaul. Masyarakat juga kerap dihebohkan penampilan Jokowi yang mengenakan jaket bomber saat menggelar konferensi pers. Tak pelak, jaket bomber ala Jokowi pun banyak diburu dan laku keras. Jokowi juga punya video blog atau vlog, kerap potong rambut di barbershop, menyukai musik metal, serta suka mengenakan celana jins dan sneakers dalam sejumlah acara. Bahkan, yang paling mencuri perhatian publik, Jokowi kerap menggelar kuis berhadiah sepeda untuk anak-anak muda.

Dengan atribut kuat di kalangan generasi milenial itu, seharusnya dukungan terhadap Jokowi kuat pula. Namun sebaliknya, Jokowi justru mendapat dukungan lebih kecil daripada ”rival dekatnya”, Prabowo. Tentu, apa pun itu, data menunjukkan bahwa Jokowi lemah dukungan generasi milenial. Data tersebut sekaligus menjadi catatan penting bagi Jokowi.

Barangkali atas dasar itu, aksi-aksi gimmick politik Jokowi yang menyasar anak milenial belakangan ini kian digenjot, bahkan hampir tiap pekan ada saja kehebohan Jokowi yang diperbincangkan netizen dan media mainstream. Pada 2017 lalu, sejumlah barang yang dikenakan Jokowi tak kalah masyhur alias viral di medsos. Salah satunya adalah sarung, sepatu, kaos, sandal, hingga motor.

Masih di tahun 2017, pada bulan Mei, jaket TAD hijau Jokowi juga pernah bikin heboh netizen. Jaket keren itu dikenakannya pas menjajal ruas jalan Papua dengan motor trail. Beragam komentar bertebaran di jagat maya. Jokowi kemudian menutup akhir tahunnya dengan menyapa ribuan orang generasi milenial pada acara Entrepreneurs Wanted! (EW!) di Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung.

Kemudian di awal 2018, saat meresmikan kereta api Bandar Udara Soekarno-Hatta, Presiden Jokowi juga menyita perhatian publik. Pasalnya, presiden mengenakan kaus oblong lengan panjang berwarna merah, celana jeans biru tua, dan sepatu kets merah marun bermerek Nike. Tak ketinggalan, Jokowi pun menyempatkan menonton dan mengomentari film Dilan1990, film yang bercerita percintaan anak SMA yang diangkat dari novel karya Pidi Baiq dan sedang digandrungi anak-anak muda. Usai menonton film itu, Jokowi memberikan penilaian di depan wartawan.

Teranyar, Presiden Jokowi ‘mencoba’ bergaya bak Dilan dalam film Dilan 1990. Dengan memakai jaket denim biru muda dipadu dengan atasan santai putih polos dan celana hitam serta sepatu sneakers, Jokowi Menggeber motor chopperland warna emas miliknya keliling Sukabumi, Jawa Barat, bersama dengan sejumlah staf dan pengendara motor lainnya. Gaya berkendara seperti Dilan itu dipamerkan Jokowi melalui video berdurasi 48 detik. Jokowi mengunggah video itu di akun Facebook resminya, @Jokowi, Sabtu (7/4/2018).

Tak hanya itu, relawan Jokowi juga saat ini mencoba mengaktifkan kembali ‘Rumah Jokowi’ yang sudah ada sejak April 2014 untuk kepentingan 2019. Pengurus pusat ‘Rumah Jokowi’,  Elya mengatakan, tujuan dibangunnya kembali rumah itu untuk membangun kembali ‘Gerakan Kebaikan Bagi Bangsa’ dengan tiga fokus utama yakni gerakan sosial, daya saing, dan industri. Target dari gerakan ini, sambung Elya, yakni mengumpulkan orang-orang, khususnya generasi milenial yang memiliki inisiatif dan solutif untuk berkolaborasi menjadi Indonesia sebagai negara maju.

Dalam konteks Jokowi sebagai presiden, mendekati generasi milenial tentu tidak boleh ditempatkan hanya untuk kepentingan elektoral. Namun, ada yang lebih esensial dari itu. Pertama, mendekati generasi milenial berguna untuk meningkatkan partisipasi politik. Partisipasi generasi milenial penting dalam hajatan demokrasi. Buka semata ‘gimmick’ (adegan main-main) yang jika disuguhkan ters-menerus justru rakyat, termasuk generasi milenial, akan merasa bosan, juga bisa mengaburkan tugas pokok presiden.

Kedua, mendekati generasi milenial diperlukan karena merekalah kunci sekaligus agen perubahan di masa mendatang. Sebab, pada 2025 rata-rata usia generasi milenial 30–40 tahun. Usia tersebut merupakan usia paling menentukan dalam hidup dan karir seseorang. Jika 70 persen masyarakat Indonesia yang berumur 30–40 tahun pada 2025 nanti dibekali skill dan kompetensi, impian Presiden Jokowi yang pernah dituangkan dalam Monumen Kapsul Waktu Impian Indonesia (MKWII) 2015–2085 di Merauke, Papua, menjelang pergantian 2015 bukanlah isapan jempol belaka. Salah satu impian Jokowi: ingin menjadikan Indonesia barometer pertumbuhan ekonomi dunia.

Di luar Jokowi, generasi milenial juga menjadi rebutan partai politik. Tak heran, karena generasi milenial yang saat ini berusia 17-30an tahun merupakan jumlah mayoritas sebagai pemilih. Direktur Program Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Sirajudin Abbas dalam sebuah kesempatan mengungkapkan bahwa berdasarkan pendataan data pemilih, pemilih berusia 17-38 tahun mencapai 55 persen dari jumlah total pemilih pada Pemilu 2019.

Senada dengan SMRC, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memprediksi populasi pemilih dari kalangan milenial pada 2019 mencapai lebih dari 50 persen. Karena itu peneliti Senior LIPI, Syamsuddin Haris mengingatkan, partai politik harus memperhitungkan betul-betul keberadaan generasi millenial di Pemilu mendatang. Ia memprediksi salah satu kunci kemenangan partai politik dalam meningkatkan elektabilitas di Pemilu mendatang adalah bagaimana menarik simpati pemilih pemula (milenial).

Sadar dengan hal ini, beberapa partai melakukan siasat menggaet generasi milenial guna memuluskan perolehan suara di Pemilu mendatang. Sontak, panggung politik di Tanah Air dipenuhi para elite politik yang tiba-tiba “bersolek” dan mengklaim paling milenial. Mulai dari gaya berpakaian, gaya bicara, hingga gaya bermedia sosial pun disesuaikan dengan selera milenial.

Sayangnya, para politisi hanya mengganggap mereka penting dari sudut pandang pasar suara dalam industri politik. Partai politik juga tampak gagap menyelami bagaimana kebutuhann dan aspirasi mereka diserap ke dalam bentuk program yang memikat serta narasai-narasi konkret. Pemahaman elite terhadap milenial baru sebatas ‘cangkang’ yaitu dengan meniru-niru gaya berpakaian, bicara, ataupun ‘gimmick politik’ lain yang seringkali telampau dipaksakan dan menggelikan.

Padahal, suka tak suka, akan ada di antara mereka yang menjadi pelaku-pelaku politik, baik sebagai pemilih, medioker, maupun politisi itu sendiri. Ke depan, generasi mereka yang paling menentukan siapa pemimpin Indonesia di masa-masa berikutnya, termasuk mengisi ceruk-ceruk pemimpin di segala level. Karena itu, kesadaran dan partisipasi politik mereka perlu disentuh (terlebih beberapa survei menyebut generasi milienial umumnya tak suka politik), dan potensinya diarahkan sebagai modal sosial bagi perubahan Indonesia yang bekemajuan di kemudian hari.

Namun apa boleh buat (dan kita miris), mendapati elite politik saat ini yang ‘berebut’ generasi milenial semata tujuan pragmatis: mendulang suara dalam elektoral. Dan kecenderungannya, mereka hendak menjadikan generasi milenial ini sebagai objek ketimbang subjek politik.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here