Berharap 2018 Jadi Tahun Manis Petani Tebu Jawa Timur

0
581
Lahan tebu di kawasan perbatasan Sidoarjo-Surabaya yang kini tidak lagi ditanami karena akan dijadikan perumahan. Penyusutan lahan yang terus terjadi dapat mengancam pasokan tebu ke pabrik gula.

Nusantara.news, Surabaya – Isu gula rafinasi hingga rendahnya rendemen tebu hasil panen, menjadi momok yang selalu membayangi setiap tahun. Namun mimpi buruk itu bisa sedikit tertepis dengan rencana Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) XI menaikkan kapasitas produksi pada 2018 untuk mengiringi modernisasi produksi dengan pendekatan teknologi IT melalui aplikasi “GO Tani” akhir 2017 lalu.

Direktur Operasional PTPN XI Daniyanto mengatakan, peningkatan target pada 2018 optimistis tercapai mengingat realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 4,2 juta Ton Cane Day (TCD). “Ditingkatkan sebesar 800 ribu TCD sehingga genap 5 juta ton. Peningkatan itu 85 persen di antaranya kami harap datang dari tebu rakyat,” ucapnya kepada wartawan di Surabaya, Selasa (2/1/2018).

Dengan mengandalkan tebu rakyat, PTPN XI memang menyadari butuh terobosan agar petani kembali bergairah menanam tebu. Untuk mendorong hal itu, selain diversifikasi lahan di lahan milik sendiri, PTPN XI juga akan menggiatkan pendampingan ke petani. Tujuannya, perbaikan kultur budidaya tebu yang selama ini diwarisi secara turun temurun.

Karena itu, beberapa langkah sudah dirancang. Semisal, penggantian varietas tebu, ketepatan pemberian pupuk dan penyesuaian masa tanam untuk mendorong budidaya tanam tebu petani. “Kami akan memberikan bantuan bibit, kompos dan pemahaman diversifikasi produk kepada petani agar mereka kembali bergairah menanam pada 2018,” sebutnya.

Terkait diversifikasi produk, PTPN XI sudah melangkah sejak awal untuk mengoptimalkan mesin produksinya. Seperti yang akan diterapkan di Pabrik Gula (PG) Asembagus di Kabupaten Situbondo. Menggandeng PLN, pabrik yang sudah berdiri sejak era kolonial ini, selain gula juga akan memproduksi energi listrik. “Berupa energi terbarukan bioetanol dan tenaga listrik cogeneration,” cetusnya.

Tenaga listrik cogeneration merupakan energi listrik yang dihasilkan oleh mesin uap mesin giling di pabrik gula. Sedangkan bioetanol merupakan hasil produksi energi terbarukan dan bisa menjadi pengganti bahan bakar minyak (BBM) fosil yang persediaannya terbatas. Bahkan diprediksi di masa depan, bioetanol akan menjadi bahan bakar pengganti yang ramah lingkungan.

Pemikiran-pemikiran visioner ini memang sangat diperlukan di tengah berkurangnya gairah menanam tebu di beberapa daerah. Padahal di satu sisi, kebutuhan gula nasional terus meningkat. Selain itu, terus berkurangnya lahan tanam terdesak kebutuhan pemukiman, membuat petani terkadang lebih memilih komoditi yang lebih cepat menghasilkan uang di lahan yang hanya tinggal sepetak.

Kendala ini berulang kali sudah dilontarkan Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil. “Petani sudah merasa putus asa sehingga lahan yang sebelumnya ditanami tebu diganti dengan komoditi lain karena hasil panen tidak cukup untuk mendanai masa tanam berikutnya. Ini belum ditambah dengan anomali cuaca yang melanda Indonesia. Semoga saja dengan rencana pemberian bibit dan pupuk gratis kembali meningkatkan gairah petani menanam tebu,” terangnya beberapa waktu lalu.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur yang dirilis 19 Juni 2017 mengungkap hal itu. Pada 2016, luas tanaman tebu mencapai  200.702 hektar dengan kapasitas produksi total mencapai 1.035.157 juta ton. Produksi ini dihasilkan dari 35 kota/kabupaten yang masih memiliki lahan tanam tebu. Namun di beberapa daerah, luas lahannya terus menyusut. Seperti yang terjadi di Probolinggo, Pasuruan dan Mojokerto. Awalnya lahan tanam lebih dari 1.000 hektar terus berkurang hingga hanya tersisa ratusan hektar. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here