Berhijrah dari Khatulistiwa ke Cakrawala

0
50

“Di Nusantara yang indah rumahku. Kamu harus tahu. Tanah permata tak kenal kecewa. Di Khatulistiwa…” (lirik Nusantara-1, Koes Plus).

Di Nusantara. Tentu di wilayah atau pulau tertentu, tetapi hatinya di dan untuk Nusantara. Di Nusantara. Tidak golongan tertentu. Hidupnya di dan untuk seluruh bangsanya. Di Khatulistiwa. Berdiri di tengah. Tegak di antara semuanya. Bersemayam di titik dan garis keseimbangan. Tawashshuth. Khoirul umuri ausathuha. Tidak ber-parpol dengan mengambil seluruh Nusantara untuk parpol-nya. Tidak ber-pihak dengan menguasai seluruh tanah air demi pihaknya.

Karena Koes selalu di tengah, maka ia bisa diterima oleh barat-timur-utara-selatan. Tapi bisa ditolak oleh semuanya. Atau dipersalahkan oleh barat dengan dituduh sebagai timur, atau dimanfaatkan oleh timur untuk menyerang barat. Sebenarnya tahun-tahun sebelum Koes dipenjara peta pergulatan politiknya mirip dengan yang berlangsung hari-hari ini. Tetapi tidak persis sama, sebab hulu-hilirnya berbeda, substansi ideologinya beda meskipun tampak luarnya sama.

‘Kanan’ hari ini sudah bukan ‘kanan’ di era Koes dipenjara itu. Kiri juga bukan kiri yang dulu. Pada momentum “Ganyang Malaysia”, semua hapal lagu patriotisme NKRI: “Nasakom bersatu, singkirkan kepala batu, Nasakom satu kita, Sosialisme pasti jaya…”. Bung Karno meyakinkan rakyat bahwa Malaysia ketakutan: “Mereka teriak-teriak: Inggrissss…tuluuung…tuluuuuung… Amerikaaaa….tuluuung….tuluuuung…”. Kita di zaman Orla berpolitik kiri atau kanan? Kalau kiri, kok akrab dengan Amerika? Kalau kanan, kok Sosialisme pasti jaya?

Ah, begitulah politik. Kalau tak kau kenali dan pelajari, kau akan ditelan mentah-mentah olehnya. Kalau kau mengenali dan mempelajarinya, kau putus asa dan bisa mati nelangsa. Apalagi kalau kau Islam: kanan memperdayamu, kiri membencimu. Muhammad Natsir, yang Masyumi-nya dipaksa oleh Bung Karno untuk membubarkan diri, menyimpulkan: “Islam Beribadah, diberi tempat. Islam berdagang, diawasi. Islam Berpolitik, ditumpas”. Baik ketika Orla bersentuh-sentuh tangan dengan Amerika, maupun ketika mulai bergandeng tangan dengan RRC atau Uni Sovyet, nasib Islam sama.

Sekarang semua pun bersatu dalam pertengkaran yang tiada habisnya. Bersatu dalam tujuan: menyembah berhala, menguasai harta benda, mengangkangi dunia, minyak, tambang, semua hasil bumi. Penduduk bumi ada dua: perampok dan pengemis. Yang pengemis berjuang agar dijadikan staf perampok. Yang perampok, kalau terlempar dari kuasa perampokan, menjadi pengemis, dan berjuang untuk kembali merampok.

Para penduduk Khatulistiwa berkata: “Kenapa kau serahkan kebun kepada monyet-monyet?” Lainnya kasih rekomendasi: “Percayakan kebun kepada monyet, sekurang-kurangnya monyet hanya mencuri pisang, dibanding manusia yang memakan apa saja seperti tikus got”. Ketika Koes digenggam oleh Kiri, mereka akan diselundupkan menjadi Intel. Ketika Kanan mengambil-alihnya, Koes direncanakan untuk dijadikan pelarian ke Malaysia untuk mendiskreditkan Bung Karno yang anti-Demokrasi. Tetapi itu tidak perlu dilakukan, karena toh Sukarno bisa dijatuhkan, setting up Supersemar berjalan mulus di Istana Bogor. Koes tak apa keluar dari Glodok sehari sebelum Gestapu.

Kini, satu persatu Koes berhijrah dari Khatulistiwa ke Cakrawala. “Orang yang berdiri di Cakrawala, menjadi kiblat kapal di samudera. Orang yang tegak di Cakrawala, menyambung urat nadi alam semesta. Menegakkan kapal oleng ke arah sumbernya….” []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here