Berkah Investment Grade, RI Dibidik Flying Fund US$700 Miliar

0
149
Menteri Keuangan Sri Mulyani Idrawati dan Gubernur Bank Indonesia Agus DW Marto Wardojo saat memberikan keterangan di DPR

Nusantara.news, Jakarta – Ibarat berkah turun dari langit, Ramadhan 1438 ini membawa kabar baik buat Indonesia. Berkah itu tak tanggung-tanggung, ada flying fund atau dana bertebaran di pasar yang siap masuk ke Indonesia, khususnya dari perbankan internasional dalam jumlah besar mencapai US$700 miliar atau setara Rp9.310 triliun.

Pemicunya adalah tiga lembaga pemeringkat dunia, yakni Standard & Poors (S&P), Moody’s Investor Service, dan Fitch Rating, yang sama-sama menaikkan peringkat utang Indonesia dari posisi junk (sampah, BB+) menjadi investment grade (BBB-) atau layak investasi, dengan outlook stabil.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, peluang Indonesia untuk mendapatkan pembiayaan dan investasi semakin terbuka setelah menggenggam peringkat layak investasi atau investment grade dari tiga lembaga pemeringkat internasional. Menkeu menyebut Indonesia jadi memiliki akses terhadap US$700 miliar atau sekitar Rp 9.310 triliun dana investasi bertaburan (flying fund).

“Dengan peringkat investment grade, banyak muncul perbankan internasional menawarkan financing ke Indonesia. Kami bahkan bisa mengakses US$700 miliar investment fund yang selama ini enggak bisa masuk ke Indonesia karena kami belum investment grade,” kata kata dia.

Hanya saja Menkeu tidak menyebut nama perbankan internasional yang siap diakses dananya oleh Indonesia itu. Namun di antara mereka biasanya yang ikut memanfaatkan rating Indonesia yang baik adalah JP Morgan, Bank of Amerika, Citibank, Bank of China, China Development Bank, Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), Standard Chartered Bank.

Tidak hanya perbankan internasional, para pengusaha dan industriawan dari berbagai negara juga mulai melirik proyek-proyek infrastruktur raksasa di Indonesia. Lima besar investor yang datang ke Indonesia sampai Maret 2017 adalah Singapura US$2,1 miliar, Jepang US$1,4 miliar, China US$599,6 juta, Amerika US$587,4 juta, dan Malaysia US$495 juta.

Pada medio Mei 2017 lalu, lembaga pemeringkat internasional S&P akhirnya memberikan peringkat layak investasi untuk utang luar negeri Indonesia. Pemerintah telah lama menunggu peringkat dari S&P tersebut untuk melengkapi peringkat layak investasi yang telah diberikan dua lembaga pemeringkat utama lainnya yaitu Fitch Ratings dan Moody’s.

Peringkat layak investasi menjadi penting lantaran menunjukkan bahwa risiko gagal bayar utang pemerintah relatif rendah. Sebelum mendapatkan peringkat layak investasi dari S&P, akses Indonesia terhadap sejumlah pembiayaan dan investasi tertahan. “Mereka hanya boleh masuk ke negara dengan peringkat investment grade dari tiga lembaga rating internasional,” ujar Menkeu.

Dengan peringkat layak investasi, Sri Mulyani meyakini biaya pinjaman (cost of borrowing) khususnya untuk pendanaan infrastruktur bakal lebih murah. Sebab, makin banyak penawaran pinjaman sehingga pemerintah tak perlu menawarkan bunga yang tinggi.

Lepas dari pendapat tersebut, yang jelas manfaat investment grade ini sangat dirasakan oleh investasi portfolio maupun investasi langsung (foreign direct investment—FDI).

Menurut Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo, kenaikan peringkat utang akan memancing investasi masuk, baik ke instrumen portofolio maupun investasi langsung.

Menurut dia, manajer portofolio seperti JP Morgan dan Bank of America bisa saja meningkatkan porsi investasinya di Indonesia. Selain itu, banyak lagi pengelola dana investasi yang berpeluang masuk, di antaranya dari Jepang.

“Portofolio manajer yang ada di Jepang juga mensyaratkan tiga lembaga rating utama harus beri investment grade untuk memperbesar porsi. Negara seperti Brazil yang ada koreksi rating, akhirnya dana investasinya dialokasikan manager portofolio ke Indonesia,” ujar Agus.

Mumpung iklim investasi sedang baik, tidak ada salahnya pemerintah merencanakan menerbitkan obligasi ritel, obligasi konstruksi dan obligasi syariah (sukuk) lebih banyak lagi.

Bahkan lebih dari itu dengan meningkatnya iklim investasi tersebut, sudah saatnya membuka peluang selebar-lebarnya bagi masuknya investasi FDI ke manufaktur, infrastruktur, pertambangan pariwisata maupun perikanan dan pertanian. []

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here