Berkat Pariwisata Gunungkidul Beranjak Makmur

0
873
Pantai Sadranan yang menjadi idola wisatawan di Gunungkidul f

Nusantara.news, Wonosari Sekarang kalau Sabtu sore pergi ke Gunungkidul jangan berharap jalanan lancar. Suasana padat merayap bahkan sudah mengular sejak perempatan Piyungan hingga Pathuk. Tingkat kemacetannya sudah mirip saat kita berlibur ke Puncak, Jawa Barat.

Karena memang, sektor Pariwisata sedang bertumbuh pesat di Kabupaten yang berdiri pada 27 Mei 1831 itu. Bayangkan saja, tahun 2016 lalu, sejak Januari hingga 27 Desember 2016 tercatat 2.858.705 orang berkunjung ke Gunungkidul.

“Lokasi wisata yang paling banyak dikunjungi adalah pantai, lalu menyusul Goa Pindul dan sejumlah objek wisata lain,” tutur Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunungkidul Hary Sukmono, Kamis (16/2) lalu.

Foto WISATA GUNUNGKIDUL.

Keunikan wisata alam di 4G (Gunung Gentong Gedangsari Gunungkidul)

Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata pun meningkat dari tahun sebelumnya. Bahkan melebihi target. Bila tahun sebelumnya PAD sektor pariwisata Rp18 miliar, tahun 2016 lalu sudah mencapai Rp23.206.771.678. “Ïni sudah melebihi dari target Rp23.156.381.500 yang sudah ditetapkan,” imbuh Hary Sukmono.

Cerita Gunungkidul sebagai daerah tandus dan miskin tampaknya segera berakhir. Tanda-tanda itu sebenarnya sudah nampak sejak Ir. Darmakum Darmakusuma menjabat Bupati Gunungkidul yang cukup legendaris era 1970-an. Kala itu penghijauan digalakkan, sumur-sumur artesis dibangun sehingga Gunungkidul tampak asri seperti sekarang.

Seiring gencarnya pembangunan infrastruktur oleh bupati-bupati sesudahnya, dalam satu dekade terakhir sektor pariwisata sungguh menggeliat. Kalau sebelumnya warga hanya mengenal Pantai Baron, Kukup dan Krakal, kini ada puluhan pantai lainnya yang keelokannya sungguh menyita perhatian.

Foto Aan Wiwid.

Pesona Pantai Greweng, Jepitu, Girisubo foto : Aan Wiwid

Belum lagi gua-gua eksotis yang menembus sungai bawah tanah, dengan batuan granit yang sungguh menantang gairah homo luddens (bermain-main) wisatawan, seperti Gua Pindul, Kalisuci dan lainnya. Terlebih ada situs-situs sejarah yang berserak aura mithos Ki Ageng Pemanahan di Kembang Lampir hingga Pangeran Sambernyowo di Gunung Gambar.

Kurang lengkap kiranya kalau tidak berkisah era prasejarah yang petilsannya berserak di gua-gua sekitar Ponjong, atau bicara Candi di Semin dan barat daya Kota Wonosari. Pokoknya, Gunungkidul menyajikan beragam jenis pariwisata. Dan jangan lupa, Bakmi Jowo khas Gunungkidul itu tidak ada duanya. Top.

Kini sebagian potensi pariwisata mulai dikembangkan. Dampaknya mulai terasa. Sebagai catatan, kendati PAD sektor pariwisata rasionya masih terlalu kecil dibandingkan APBD 2017 yang mencapai Rp1,8 triliun, namun hadirnya hampir 3 juta wisatawan cukup memberikan arti untuk mendongkrak pendapatan warga pada umumnya.

Dari satu obyek pariwisata saja, misal Gua Pindul, secara langsung mampu menciptakan lapangan kerja sebanyak 800 orang dan lapangan kerja secara tidak langsung 1000 orang. Pemandu wisata tidak resmi saja bisa menghasilkan uang Rp1 juta per bulan. Pegawai-pegawai home-stay yang mulai bertebaran bisa berpenghasilan Rp2 juta per bulan.

Foto Aneira Rahman.

Air terjun Sri Gethuk                   Foto : Aneira Rachman

Lumayan bagus untuk ukuran Gunungkidul yang upah minimum kabupatennya hanya Rp 1.337.650,00 per bulan. Tentu bukan bandingannya Jakarta yang meskipun gaji tukang sapunya Rp3,2 juta per bulan tapi biaya hidupnya juga tinggi. Di Gunungkidul dengan uang Rp5 ribu masih bisa makan soto di pinggir jalan.

Mengutip data Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Gunungkidul tercatat para pedagang bakso bakar yang jumlahnya menjamur sekitar lokasi wisata masing-masing mampu menabung Rp50 hingga Rp150 ribu per hari. Padahal, sekarang ini tercatat 69 destinasi wisata Gunungkidul yang 13 diantaranya sangat popular di telinga warga DIY dan Jawa Tengah.

Indikator lainnya adalah semakin sedikitnya desa yang masuk dalam kategori rawan pangan. Kalau tahun 2007 masih ada 70 desa rawan pangan, lalu turun menjadi 40, terus 20 kini diantara 144 desa di Gunungkidul hanya tersisa 7 Desa rawan pangan. Diantara ke-7 desa itu adalah  Grogol, Karangasem, Banyusoco, Mertelu, Kenteng, Wonosari, dan Duwet.

Memang, angka kemiskinan di Kabupaten seluas 1.485,36 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 748.119 jiwa (BPS 2010) masih 21,7 persen, terhitung tinggi bila dibandingkan angka kemiskinan nasional yang hanya 10,86 persen. Tapi dengan meningkatnya investasi di sektor pariwisata diharapkan angka kemiskinan segera turun.

APBD Gunungkidul tahun 2017 yang mencapai Rp1,8 triliun, 54,6 persen masih tersedot untuk gaji pegawai sebesar Rp951 miliar dan pos belanja langsung Rp33 miliar. Dari total keseluruhan APBD, pendapatan asli daerah (PAD) ditargetkan masuk sebesar Rp191 miliar yang Rp30 miliar diharapkan mengucur dari retribusi pariwisata.

Minimnya biaya pembangunan tentu memaksa Bupati Gunungkidul Subandingah yang baru terpilih kembali pada Pilkada serentak 2015 lalu menguras otak. Hadirnya investor pun digenjot. Dan sektor pariwisata tampaknya menduduki ranking pertama dalam realisasi investasi hingga Oktober 2016 yang mencapai Rp413 miliar dari total investasi sebesar Rp594 miliar,

Memang, sektor pariwisata adalah jawaban yang tepat untuk memakmurkan Gunungkidul. Dengan begitu dalam satu atau dua dekade ke depan tidak ada lagi cerita Gunungkidul sebagai daerah miskin dan tertinggal. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here