Eksodus Warga China ke Indonesia (1)

Bermula Dari Pengangguran 400 Juta Penduduk China

0
1762
Tiap malam ratusan warga China mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Kendari, Bali dan Sulawesi Selatan, untuk mencari pekerjaan. Adakah skenario eksodus untuk menguasai Indonesioa?

Nusantara.news, Jakarta – Ekonom Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI) Aviliani mengingtakan akan adanya serbuan tenaga kerja China pengangguran yang bakal menyerbu Indonesia. Mereka adalah ancaman nyata yang bakal menggilas tenaga kerja Indonesia.

Sinyalemen itu disampaikan oleh Aviliani pada acara penutupan Konferensi Internasional Federasi Asosiasi Ekonomi Asean (Federation of Asean Economic Association–FAEA) ke-41 di Yogyakarta, Jumat (25/11/2016) silam. Saat sinyalemen itu diungkapkan memang auranya belum terasa, namun dengan berbondong-bondongnya warga China mendarat di Cengkareng, Kendari, Bali, dan Sulawesi Selatan secara massif, tampaknya mulai menjadi kenyataan.

Menurutnya, saat ini di negara China terdapat 400 juta pengangguran yang bisa menjadi ancaman, karena mereka mengarah untuk bekerja ke Indonesia. Apalagi, tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia itu adalah tenaga kerja terlatih atau terampil (skilled labour). Sedangkan tenaga kerja Indonesia yang ke luar negeri mayoritas bukan yang terlatih, rerata sekelas pembantu rumah tangga.

Ancaman masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia, Aviliani mengingatkan, menjadi ancaman yang nyata, karena ke depan perusahaan luar negeri yang masuk menjadi investor di Indonesia sudah satu paket, yaitu investasi dan tenaga kerja.

Selain itu, Aviliani juga mengingatkan, hal yang perlu diamati adalah tenaga kerja asing yang terlatih bisa mengerjakan lima pekerjaan sekaligus, sedangkan tenaga kerja Indonesia hanya bisa mengerjakan satu pekerjaan saja, sehingga produktivitas tenaga kerja asing tersebut memang lebih tinggi.

Dengan adanya ancaman itu, Aviliani meminta pemerintah untuk segera melakukan sertifikasi tenaga kerja Indonesia di semua sektor. Pasalnya, dari 128 juta angkatan kerja di Indonesia, saat ini hanya 5% saja yang sudah tersertifikasi.

“Sementara itu, kebanyakan tenaga kerja Indonesia di luar negeri saat ini bukan tenaga kerja yang terlatih atau bersertifikat, sehingga tidak termasuk dalam perjanjian Asean,” tegasnya.

Ihwal berbondong-bondongnya tenaga kerja China berawal dari konsolidasi Pemerintah China dengan Chinese Overseas, atau para taipan asal China yang sukses di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, yang memikirkan nasib China ke depan. Dalam pertemuan di Singapura pada Juni 2010 mereka memikirkan nasib China pasca penyatuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan dinamika masyarakat global.

Mereka bersepakat, dengan jumlah warga China mencapai 1,4 miliar saat itu, maka untuk survive harus ditopang pertumbuhan ekonomi China minimal 10%. Pada 2010 pertumbuhan ekonomi China tercatat 10,4%, lalu turun ke level 9,3% pada 2011, kemudian makin turun pada 2012 di level 7,7%.

Tak hanya sampai di situ, pada 2013 pertumbuhan ekonomi China masih terkoreksi ke level 7,67%. Penurunan masih berlanjut pada 2014 ke level 7,47%, dan terus berlanjut pada 2015 di level 6,96%. Singkat cerita pada 2018 pertumbuhan ekonomi China hanya 6,6%. Ini adalah pertumbuhan terendah dan China menghadap critical battles, pertumbuhan yang paling kritis sejak 1990.

Itu artinya, jika didiamkan 1,4 miliar penduduk China akan terjadi pengangguran hingga 400 juta, itu artinya China menghadapi ancaman serius. Akan ada rebutan makanan, minuman, udara, tanah, pasangan, rebutan eksistensi sampai rebutan kekuasaan. Pendek kata, akan ada perang saudara di China.

Itu sebabnya Pemerintah China dan Chinese Overseas harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan manusia-manusia China yang menganggur tersebut. Maka keluarlah ide eksodus warga China ke Vietnam, Myanmar, Kamboja, Filipina, Thailand, Singapura, Malaysia, Brunei dan terutama ke Indonesia.

Pada 2011 manusia China mulai dilakukan eksodus ke Vietnam dan masyarakat setempat menerima. Oleh karena yang dikirim spesiesnya tentara dan narapidana, maka saat berbaur dengan masyarakat terkadang mereka bertindak kasar. Tidak jarang menimbulkan gejolak sosial, bentrokan hingga kerusuhan.

Pada Mei 2014 warga Vietnam mulai kompak dan mengusir warga China, terjadilah evakuasi sebagian warga China di negeri Vietkong tersebut. Panas dingin hubungan China-Vietnam pun bergolak setiap hari hingga pada 2016 secara resmi Vietnam mengusir warga keturunan China, dan pada Juni 2018 terjadi demo besar-besaran warga Vietnam yang sudah tidak bisa lagi menerima warga keturunan China.

Suasana yang sama juga terjadi di Myanmar dengan skala lebih soft, kemudian Filipina, bahkan di Thailand warga China sempat menjadi Perdana Menteri, yakni Thaksin Sinawatra. Raja, tentara dan rakyat Thailand main mata sehingga didudukilah bandara internasional Thailand, maka lumpuhlah ekonomi Thailand. Thaksin pun lengser dan melarikan diri ke Dubai.

Di Malaysia, warga China dibatasi, hak pribumi lewat semangat Bumiputera diberi priviledge yang luas. Sehingga pribumi seperti anak emas, sementara warga keturunan China seperti anak tiri. Yang kuat akan bertahan, sementara yang tidak kuat hijrah ke negeri-negeri lain di seluruh dunia.

Pada 2018 warga China yang ditopang oleh Pemerintah China kembali berupaya mencengkeram Malaysia. Namun mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad memimpin perlawanan politik dan ia memenangkan Pemilu, maka seluruh proyek One Belt One Road (OBOR) China senilai Rp289 triliun dihentikan karena berpotensi menjerat ekonomi Malaysia lewat utang. Karena proyek itu dianggap merugikan kepentingan nasional Malaysia dan bahkan membahayakan kedaulatan rakyat Malaysia.

Saat Mahathir kembali memimpin Malaysia, kedaulatan negara pun kembali ditegakkan, ekonomi dipulihkan dan dibersihkan dari jeratan dan jebakan utang China, masyarakat pribumi kembali bergairah.[bersambung]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here