Bersih Desa Malang, Tradisi Suroan untuk Satukan Perbedaan

0
389
Karnaval Bersih Desa (Sumber: Pipit Anggraeni)

Nusantara.news, Kota Malang – Sebagaimana menyambut hadirnya bulan-bulan Sura tahun sebelumnya, bulan Sura tahun Masehi 2017 yang jatuh pada 21 September – 20 Oktober 2012 nanti, banyak disambut dengan beragam ritual oleh pada umumnya orang Jawa. Maklum, Sura dianggap bulan suci bagi para leluhur.

Satu diantara tradisi di bulan Sura yang masih terawat di Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu hingga sekarang adalah tradisi Bersih Desa yang diselenggarakan di sejumlah desa di kawasan Malang Raya.

Tradisi Bersih desa itu kerap disebut sebagai ‘Nguri-uri Budaya’ yang menggerakkan partisipasi seluruh warga desa terlibat dalam arak-arakan karnaval dengan mengenakan pakaian adat dan budaya nusantara.

Masing-masing warga dari desa berlomba-lomba menyuguhkan sesuatu yang baru. Menariknya, setiap tema yang diangkat selalu erat kaitannya dengan etnik dan budaya nusantara yang tak hanya identik dengan daerahnya sendiri.

Apalagi Malang merupakan salah satu kota pendidikan. Tidak sedikit mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah turut mengenalkan tradisi masing-masing. Keberagaman itu menjadi unik dan khas dan apabila dikelola dengan baik akan menjadi daya pikat wisata yang sangat menjanjikan.

Beragam seni pertunjukan dari bermacam daerah juga hadir di sini. Mulai dari tari khas tradisional, tarian modern, drama kolosal yang menceritakan perjuangan pahlawan nasional dan pahlawan daerah, hingga tari pergaulan khas Jawa seperti tayub.

Tradisi bersih desa di setiap daerah atau desa berbeda-beda cara menyelenggarakannya. Beberapa desa mengadakan rangkaian acara kegiatan bersih desa seperti Santunan Anak Yatim, Nyekar di Danyangan biasanya ada kesenian tayuban, Pertunjukkan Wayang Kulit, Musik Orkes, Pertunjukkan Seni Kuda Lumping, Karnaval dan lain sebagainya.

Tradisi ini setiap tahunnya selalu diselenggarakan, tepatnya pada momentum bulan Sura yang kerap dan menyedot perhatian publik.  Disebut sebagai tradisi ‘Nguri-uri Budaya’ secara harafiah dapat diartikan sebagai kegiatan petani ketika sedang menabur bibit di awal masa menanam.

Namun, Nguri-uri dalam frase Jawa juga sering dikaitkan dengan merawat tradisi atau segala bentuk kebudayaan (Jawa). Nguri-uri budaya diartikan sebagai kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka menjaga warisan leluhur Jawa yang dikemas dalam tata cara, nilai-nilai atau selebrasi Jawa.

Berikut beberapa titik daerah di Malang Raya yang menggelar Tradsi Bersih Desa, yang dalam pelaksanaannya secara bertahap dan bergantian sudah berjalan mulai pertengahan sepetember 2017 lalu hingga pertengahan oktober nanti;

02 September- Ngebruk – Poncokusumo

02 September- Tumpang

02 September- Bangelan – Wonosari (G.Kawi)

03 September- Petungroto – Ngajum

03 September- Bedali – Lawang

03 September- Sidomulyo – Jabung

03 September- Bululawang

03 September- Segenggeng – Wonokerso

03 September- Sanggrahan – Tirtoyudo

03 September- Glanggang – Pakisaji

10 September- Gedangan – Wagir

10 September- Madyopuro – Kota Malang

10 September- Mergosono – Kota Malang

10 September- Watugede – Singosari

10 September- Kebobang – Wonosari (G.Kawi)

10 September- Malang Flower Carnival – Kota Malang

11 September- Ngabab – Pujon

11 September- Wirotaman – Ampelgading

12 September- Ngroto – Pujon

12 September- Blado (Karangrejo) – Kromengab

13 September- Sumberroto – Donomulyo

16 September- Sukopuro – Jabung

17 September- Kalisongo – Dau

20 September- Ngantang

21 September- Banjarrejo – Pagelaran

21 September- Wonosari – Gunung Kawi

24 September- Mergosono – Kota Malang

24 September- Tlogowaru – Kota Malang

24 September- Mulyoasri – Ampelgading

24 September- Kepatihan Pamotan – Dampit

24 September- Ardimulyo – Singosari

24 September- Bulukerto – Kota Batu

21 September- Balearjosari – Kota Malang

24 September- Cemorokandang – Kota Malang

24 September- Jatisari – Tajinan

27 September- Songgoriti – Kota Batu

28 September- Karanganyar – Poncokusumo

30 September- Lesanpuro – Kota Malang

30 September- Pidek – Gondanglegi

30 September- Kemulan – Turen

30 September- Tunjungsari – Bantur

01 Oktober- Putat Kidul – Gondanglegi

01 Oktober- Codo – Wajak

01 Oktober- Pandanrejo – Wagir

01 Oktober- Mendalanwangi – Wagir

04 Oktober- Jatiguwi – Sumberpucung

04 Oktober- Pandanlandung – Wagir

07 Oktober- Wonokerto – Bantur

08 Oktober- Arjosari – Kaliparei

08 Oktober- Polowijen – Kota Malang

08 Oktober- Pajaran – Poncokusumo

08 Oktober- Merjosari – Kota Malang

08 Oktober- Kenongo (Sumbersuko) – Wagir

Beberapa titik yang akan menyelenggarakan Tradsisi Bersih desa tersebut akan terjadi kemacetan yang cukup padat dikarenakan sebagian jalan tertutup panggung juga macet karena ramainya pengunjung.

Pemersatu Perbedaan

Tradisi bersih Desa, hakikatnya merupakan metode yang digunakan orang dahulu untuk menyatukan berbagai kelompok dari setiap perbedaan. Pertemuan dan pertunjukan beberapa budaya nusantara yang menjadi contoh keberagaman dalam satu agenda tradisi.

Sholehudin, salah satu Pengurus Ranting NU Dinoyo Kota Malang menjelaskan, tradisi seperti ini merupakan cetusan para wali saat mensyiarkan agama Islam ditanah Jawa. Hal itu dibuktikan setiap tradisi yang dibuat oleh para wali tetap lestari dan tak mudah untuk ditinggalkan.

Karena tradisi yang diajarkan wali semuanya baik, sebab mengandung unsur pemersatu setiap perbedaan budaya di tengah masyarakat.

“Ini tradisi Walisongo yang harus dilestarikan. Coba lihat, ditempat ini semua orang bersatu padu tidak mengenal perbedaan, dengan latar belakan kostum adat, dan budaya membaur menjadi satu kesatuan kekuatan masyarakat yang utuh,” jelas Sholehudin.

Karnaval Bersih Desa (Sumber: Pipit Anggraeni)

Kekayaan budaya nusantara mulai dari budaya Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali hingga Papua disuguhkan dan berbaur menjadi satu. Selain memiliki nilai filosofi, tradisi tersebut menurutnya juga menjadi upaya untuk melestarikan budaya lokal.

Mengingat arus globalisasi yang deras yang secara tidak langsung menggerus budaya tradisional. Kalangan muda banyak yang menggandrungi budaya western, korea, arab daripada budayanya sendiri yang dipersepsikan sebagai tradisional dan kuno.

Kondisi dan keadaan seperti inilah yang kiranya perlu diperbaiki, melalui tradisi dan perayaan adat budaya ini merupakan salah satu bentuk penguatan kembali budaya nusantara sebagai jati diri bangsa Indonesia.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here