Bertahun-tahun Susu Kental Manis Menyesatkan

0
200
Kampanye bahaya susu kental manis untuk anak-anak Indonesia.

Nusantara.news, Jakarta – Selama bertahun-tahun ini kita sudah disesatkan susu kental manis (SKM) adalah susu. Nyatanya itu bukan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum lama ini mengeluarkan surat edaran bernomor HK.06.5.51.511.05.18.2000 tahun 2018 tentang label iklan pada produk susu kental manis. Mengejutkan. Publik selama ini telah disesatkan. SKM yang dikemas dalam kaleng ukuran mini itu ternyata bukan produk susu yang bisa dikonsumsi sebagai sumber asupan gizi untuk anak-anak apalagi balita.

Terbitnya surat edaran BPOM bukan berarti produk SKM dilarang diproduksi atau dikonsumsi. Cuma, penggunaan visualisasi SKM dalam iklan yang ditonjolkan sebagai zat penambah atau pelengkap gizi dilarang. Pasalnya selama ini produk SKM dipersepsikan sebagai produk susu oleh masyarakat.

Beberapa larangan BPOM sesuai surat edaran terkait penayangan iklan SKM. Pertama, dilarang menampilkan anak-anak berusia di bawah 5 tahun dalam bentuk apapun. Kedua, dilarang menggunakan visualisasi bahwa produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap zat gizi. Produk susu lain, antara lain susu sapi/ susu yang dipasteurisasi/ susu yang disterilisasi/ susu formula/ susu pertumbuhan.

Ketiga, dilarang menggunakan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman. Keempat, khusus untuk iklan, dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak.

Memang produk SKM sebenarnya hanya mengandung lemak susu minimal 8 persen, protein (nx6,38) minimal 6,5 persen dan tidak mengandung padatan susu sama sekali. Namun dalam visualisasi penyajian SKM yang diseduh dengan air dan disajikan sebagai minuman itu menyebabkan publik salah persepsi. Apalagi nama produk di bagian depan diberi label ‘susu’, sehingga kesannya itu adalah benar-benar susu. Padahal itu hoax alias bohongan.

Perusahaan SKM tentu tidak mau tahu, dan memilih untuk terus menayangkan iklannya selama hal itu menguntungkan. Sebaliknya jika iklan yang ditampilkan beda dengan aslinya dan disebut pembohongan publik, seharusnya BPOM tidak hanya membuat surat edaran tapi juga memberi sanksi kepada perusahaan SKM. Ini sudah bertahun-tahun lho dibiarkan.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), industri kental manis terus tumbuh berkembang. Di dalam negeri kapasitas produksi pabrik kental manis mencapai 812 ribu ton per tahun. Nilai investasi di sektor usaha ini tembus di angka Rp 5,4 triliun dengan total penyerapan tenaga kerja sebanyak 6.652 orang.

Di Indonesia, produk kental manis sudah ada sejak masa sebelum kemerdekaan. Kental manis pertama masuk Indonesia tahun 1873. Saat itu melalui impor kental manis merek Milkmaid oleh Nestlé, kemudian dikenal Cap Nona.

Tahun 1922 masuk kental manis oleh De Cooperatve Condensfabriek Friesland. Sekarang dikenal PT Frisian Flag Indonesia dengan produk Friesche Vlag. Pada akhir 1967, Indonesia mulai memproduksi kental manis pertama kalinya melalui PT Australian Indonesian Milk atau atau PT Indolakto. Kemudian diikuti oleh PT Frisian Flag Indonesia pada 1971 di pabriknya yang terletak di Pasar Rebo, Jakarta Timur. PT Nestlé Indonesia juga memproduksi pada 1973 di Jawa Timur. Setelah itu industri kental manis terus berkembang hingga sekarang.

Bertahannya industri kental manis hingga saat ini menunjukkan bahwa produk tersebut laku keras di pasaran. Dan seperti biasa, yang namanya produk kental manis sebelum dipasarkan, pasti telah lulus izin edar dari BPOM. Hingga akhirnya surat edaran BPOM itu keluar. Cuma yang disesalkan banyak pihak, mengapa baru sekarang BPOM mengeluarkan surat edaran tersebut? Apa memang sengaja masyarakat dibiarkan tertipu bertahun-tahun sehingga perusahaan SKM bisa mendapat untung besar dari penjualan produknya?

Coba kalau informasi ini disampaikan jauh-jauh hari, atau setelah ijin SKM pertama kali diluluskan oleh BPOM, tentu masyarakat sebagai konsumen akan wanti-wanti untuk membeli produk yang bukan susu tapi iklannya susu.

SKM penyebab kasus gizi buruk

Terkait dengan surat edaran BPOM, di sini kesannya BPOM hanya menyalahkan label dan iklan SKM, bukan menjaga keamanan dan melindungi konsumen. Seperti yang disampaikan Kepala BPOM Penny Lukito. Menurutnya, produk SKM aman dikonsumsi selama tidak berlebihan. “Produk SKM tidak berbahaya namun dalam perjalanan postmarket yang dilakukan oleh BPOM ditemukan ada beberapa iklan dan label yang membuat persepsi salah di dalam iklan,” ujarnya.

Pengumuman yang terlambat. Mengapa terlambat, sebab banyak para orangtua (konsumen) terlanjur membeli produk SKM. Bahkan hampir semua anak-anak Indonesia doyan minum susu kental manis yang membuat mereka ketagihan.

Kasus gizi buruk yang terjadi di Indonesia juga disebabkan salah kaprahnya informasi orangtua dalam memberi SKM pada anak. Mereka beranggapan bahwa SKM pengganti air susu ibu (ASI).

Yayasan Peduli Negeri (YPN) dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) berhasil mengumpulkan data untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap susu kental manis di sejumlah kota di Indonesia.

Di Sulawesi, dua kasus yang menarik perhatian publik adalah 3 balita gizi buruk di Kendari, Sulawesi Tenggara serta satu balita gizi buruk di Maros, Sulawesi Selatan. Keempat kasus gizi buruk tersebut disebabkan konsumsi susu kental manis sebagai pengganti ASI. Keempat balita tersebut adalah Arisandi (10 bulan), asal  Desa Ulu Pohara, Kecamatan Lahungkumbi, Kabupaten Konawe, Muhammad Adam Saputra (7 bulan) dan Muharram yang berumur 4 bulan serta Rasyad (2 tahun) asal Maros, Sulawesi Selatan.

Kasus kedua menimpa Muhammad Adam Saputra (7 bulan),  yang pada saat ditemukan tinggal di Kecamatan Mandonga, Kota Kendari.  Orang tua Adam tidak mampu membelikan susu bayi sehingga akhirnya Adam diberikan susu kental manis yang harganya lebih ekonomis. Dampaknya, berat badan Adam semakin hari semakin menurun hingga 4,8 kg dan dirawat di RSUD Bahtera Mas.

Kasus ketiga menimpa Bayi Muhammad Muharram umur 4 bulan. Warga jalan Sao Sao, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari itu mengalami gizi buruk karena keterbatasan Ekonomi. Untuk mencukupi kebutuhan gizi sang anak, pilihan orang tua jatuh pada SKM.

Hal yang sama juga terjadi pada masyarakat di Batam dan Kendari. Sebanyak 78 persen dan 97 persen masyrakat mempersepsikan SKM adalah susu. Hal itu disampaikan Ketua Harian YAICI Arif Hidayat di kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jakarta, Rabu, (11/7/2018).

Dari survei YAICI menunjukkan 97 persen masyarakat di Kendari mendapatkan informasi bahwa produk SKM merupakan susu dari iklan di televisi. Sementara 47 persen masyarakat Batam mendapat informasi SKM adalah susu dari iklan televisi.

Survei tersebut juga mengungkapkan 55 persen dari 130 ibu di Kendari memberikan SKM setiap hari kepada anaknya. Sementara di Batam 35 persen dari 75 ibu memberikan SKM setiap hari untuk asupan anak.

YAICI juga menemukan di Batam ada anak yang mengonsumsi SKM hingga 10 gelas dalam sehari dan hanya mau minum SKM. Akibatnya si anak mengalami gizi buruk hingga meninggal dunia karena tidak pernah diberikan ASI sejak lahir dan hanya diberikan SKM.

Dari 130 ibu di Kendari 56 persen dari mereka memberikan anaknya 1 gelas susu kental manis sehari. Sisanya 44 persen responden memberikan anak 2 gelas produk ini dalam sehari. Demikian juga di Batam, dari 75 ibu sekira 53 persen memberikan anaknya satu gelas. Sebanyak 37 persen dari mereka memberikan 2 gelas sehari, 3 persen memberikan 5 gelas, serta 1 persen anak bisa minum sampai 10 gelas.

Selama ini persepsi masyarakat di daerah merasa bangga ketika tubuh anaknya menjadi gemuk karena meminum susu. Padahal kelebihan berat badan pada anak dikategorikan obesitas dan berdampak buruk terhadap kesehatan.

Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kandungan gula dan kabohidrat dalam kental manis begitu tinggi dan rendah protein. Sebagai ilustrasi, jika anak mengkonsumsi dua gelas kental manis sehari, itu artinya konsumsi gulanya telah melebihi batasan kebutuhan gula harian. Padahal, kebutuhan gula anak 1 sampai 3 tahun hanya sekitar 13-25 gram.

Permenkes Nomor 63 Tahun 2015 tentang Penetapan Batasan-Batasan Konsumsi Gula, Natrium, dan Lemak, konsumsi harian per orang adalah gula 50 gram (empat sendok makan); natrium lebih dari 2.000 miligram (satu sendok teh); lemak 67 gram (lima sendok  makan). Apabila, mengonsumsi gula, natrium dan lemak lebih dari batas-batas yang diebutkan, bisa berisiko terkena hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung.

Keterangan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sebagian besar produk kental manis yang beredar di pasar Indonesia hanya mengandung sekitar 2-3 persen protein susu. Memberikan kental manis yang minim gizi dan tinggi gula untuk anak sebagai pelengkap gizi dan pertumbuhan anak, adalah keputusan yang keliru.

Memang gizi buruk muncul disebabkan daya beli yang rendah, akses terhadap pelayanan kesehatan serta pengetahuan orangtua atau jangan-jangan masyarakat sengaja dibohongi dan disesatkan oleh informasi.

UU keamanan pangan

Munculnya polemik SKM di masyarakat berawal dari surat edaran BPOM soal penggunaan label dan iklan produk susu kental. BPOM sebenarnya jangan hanya memberi peringatan pada produk SKM. Banyak produk makanan dan minuman kemasan atau merek setipe SKM yang memicu bahaya bagi kesehatan. Rata-rata produk tersebut mengandung tinggi gula yang tidak baik jika sering dikonsumsi, seperti teh kemasan, kopi saset, air kelapa dalam kemasan, susu UHT dengan perasa, minuman berenergi, minuman isotonik, minuman sari buah, yoghurt dengan perasa buah, dan sebagainya. Sayangnya sejauh ini kinerja BPOM tidak maksimal terutama dalam melindungi masyarakat.

Terkait susu kental manis, ahli hukum perlindungan konsumen, David Maruhum Lumban Tobing, mengatakan bahwa BPOM bisa menjadi pihak yang digugat oleh konsumen atas polemik tersebut. Sebab BPOM menjadi regulator yang paling bertanggung jawab atas informasi menyesatkan soal susu kental manis di masyarakat selama ini.

Mengacu Peraturan Kepala BPOM No.21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan (PerkaBPOM 21/2016), pada poin 01.3.1 Susu Kental bahwa susu kental adalah produk susu yang diperoleh dengan cara menghilangkan sebagian air dari susu dengan atau tanpa penambahan bahan pangan lainnya. Termasuk susu yang sebagian airnya dihilangkan, susu evaporasi, susu kental manis dan khoa.

Maka, susu kental manis seharusnya masuk dalam kategori produk susu berdasarkan regulasi yang berlaku. Artinya kalau susu kental manis sudah lulus uji oleh BPOM, dan dikasih izin edar. Karena itu pelaku usaha tidak bisa disalahkan selama mematuhi ketentuan produksi, pelabelan, dan distribusi susu kental manis. Penamaan dengan kata ‘susu’ itu pun sudah atas izin BPOM.

Sebaliknya sikap BPOM yang menertibkan aturan soal periklanan susu kental manis yang ‘terlambat’ ini seperti buah simalakama. BPOM ikut andil atas kesalahpahaman ini. Bahkan BPOM bisa menjadi pihak yang digugat konsumen.

David menyebutkan, sesatnya informasi di masyarakat soal penggunaan susu kental manis justru bermula dari ketidakjelasan regulasi BPOM soal produk susu mana yang layak disebut asupan pemenuhan nutrisi gizi. “BPOM harus membuat kategori, bagaimana sih susu yang bernutrisi itu? Yang bergizi itu apa? Ada tidak aturannya? Ini yang harus dievaluasi BPOM. Dia juga tidak bilang susu kental manis tidak mengandung nutrisi kan?” ujar David.

Apabila ditemukan pelabelan atau iklan susu kental manis yang mengesankan sebagai produk susu asupan nutrisi gizi, maka hal itu dianggap sebagai kesalahan BPOM. Dalam hal ini BPOM sebagai pengawas tidak bisa mengawasi.

Hal senada diungkapkan Ketua DPR Bambang Soesatyo. Pihaknya meminta BPOM menjelaskan secara komprehensif mengenai pernyataan bahwa susu kental manis tidak mengandung susu, yang akan berdampak pada timbulnya penyakit diabetes dan obesitas. Penjelasan itu diperlukan karena di setiap kemasan susu kental manis terdapat label BPOM.

Dia juga meminta Komisi VI DPR dan Komisi IX DPR mendorong Kemenkes agar melakukan kajian terhadap semua produk SKM dan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk menarik produk SKM tersebut dari peredaran di pasaran. “Perlu tindakan tegas terhadap produsen Susu Kental Manis tersebut jika terbukti benar pernyataan BPOM dengan tuduhan penipuan terhadap masyarakat dan pelanggaran terhadap UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen,” kata Bambang.

Tidak bisa dipungkiri, pengawasan pemerintah atas penggunaan bahan berbahaya masih rendah, kendati sudah ada legislasi yang mengatur standar keamanan pangan yang layak. Misalnya Undang-Undang No. 2 Tahun 1966 tentang Hygiene, UU No. 2 Tahun  1981 tentang Metrologi Legal, UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, UU No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan,  UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen,  PP No. 69 Tahun 1999, PP No. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan.

Selain perangkat aturan, standar keamanan pangan juga sudah ditetapkan. Standar pangan diatur dalam pasal 12 PP No.102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional. Sayangnya, standar keamanan pangan dan makanan selama ini masih sulit dipenuhi.

Begitu pula dalam UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Soal keamanan pangan memang disebutkan Pasal 67 ayat 2, Keamanan Pangan dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia. Namun UU ini tidak menjelaskan secara komprehensif tentang keamanan pangan.

Belum adanya UU yang secara khusus mengatur keamanan pangan, membuat kinerja BPOM dalam pengawasan dan penindakan tidak bisa intensif. Padahal UU keamanan pangan bisa menjadi regulasi BPOM ketika menjalankan pengawasan pre-market maupun post-market.

Di negara-negara belahan dunia, keamanan pangan menjadi dasar penting. Karena itu kemudian dideklarasikan keamanan pangan sebagai hak asasi setiap individu dalam Internasional Conference on Nutrition pada tahun 1992.

Keamanan pangan memang merupakan aspek penting dalam menentukan kualitas SDM. Konsumsi pangan yang beragam, bergizi dan seimbang, tidak akan berarti jika makanan yang dikonsumsi tidak aman dari cemaran kimia maupun mikroba.

Selain itu, kesadaran pengetahuan dan kepedulian konsumen juga perlu ditingkatkan. Keamanan pangan menjadi masalah ketika kurang pedulinya konsumen menuntut produsen untuk menghasilkan produk pangan yang aman, serta klaim konsumen jika produk pangan yang dibeli tidak sesuai informasi pada label maupun iklan. Sementara pengetahuan dan kepedulian konsumen yang tinggi sangat mendukung usaha peningkatan keamanan pangan bagi produsen pangan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here