Bertandang ke Rumah Guru Bangsa, HOS Tjokroaminoto  di Surabaya (1)

0
314

Nusantara.news, Surabaya – Nusantara.news, Surabaya –  Seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Indonesia belum lama ini menulis disertasi terkait Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto. Secara gamblang digambarkan peran yang dimainkan H.O.S Tjokroaminoto. Tidak saja ketika berhadapan dengan penjajah Belanda, tetapi juga peran yang dimainkannya dalam melahirkan tokoh tokoh nasional kaliber Bung Karno, Tan Malaka, H Agus Salim, Alimin, Muso dan lain sebagainya di rumah kediamannya di Kampung Lawas Jalan Peneleh Gang VII No 29-31 Surabaya, Jawa Timur. Seperti apa sekarang kondisi rumah tokoh yang sangat berpengaruh itu? Berikut hasil kunjungan wartawan NUSANTARA.NEWS, Tuji Martuji bersama Agus  Sudarsono, pertengahan Januari 2017.

Sore itu cuaca memang bersahabat, tidak terlalu panas dan juga tidak mendung seperti biasanya di awal bulan Januari yang kerap turun hujan. Berdua dengan fotografer Agus Sudarsono, berjalan beriring menuju rumah Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto di kampung lawas Jalan Peneleh Gang VII No 29-31 Surabaya, Jawa Timur. Jaraknya sekitar 5 meter dari gapura, dari ruas jalan aspal, Jalan Ahmad Jais akses jalan masuk menuju kampung  Peneleh.

Setelah mengucap salam, dari dalam rumah seorang pemuda mengenakan batik bercelana hitam dengan senyum mengembang menghampiri, membalas salam dan mengucapkan selamat datang. Saat masuk ruang tamu, sayup-sayup terdengar alunan lagu Indonesia Pusaka yang ikut menambah kenyamanan di rumah lawas khas Jawa milik HOS Tjokroaminoto tersebut. Lelaki bujangan itu bernama Fauzi Ernanda pegawai honorer Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya yang tengah bertugas di rumah tersebut.

Rumah sederhana itu tampak rapi dan bersih, di depan pagar kanan dan kiri pintu masuk berjajar bunga tertanam di dalam pot. Bendera merah putih berdiri tegak dan berkibar tenang mengikuti hembusan angin sore.

Dinding bangunan yang tebal tampak bersih dengan cat putih di semua bagian, dipadu warna cat hijau untuk daun pintu, kusen, dan semua jendela yang ada. Di dekat pintu depan sebelah kanan terdapat lempengan tembaga bertuliskan Cagar Budaya, Rumah HOS Tjokroaminoto SK Walikota No 188.45/251/402.1.04/1996 No Urut 55.

“Silakan Mas, silakan masuk,” kata Fauzi.

Fauzi menambahkan setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB pengunjung bisa bertandang ke rumah tersebut, kecuali hari Senin. Lebih dari jam itu, bisa meminta izin untuk masuk kepada ketua rukun tetangga setempat.

“Kalau malam, bisa diantar Pak RT, Pak Eko untuk masuk ke rumah sejarah HOS Tjokroaminoto ini,” terangnya.

Sejuk dan nyaman, kesan pertama yang kami rasakan saat berada di ruang tamu yang melebar ke samping berukuran sekitar 10 meter kali 3 meter. Pandangan mata pun terhipnotis dengan deretan pigura di seluruh ruangan. Foto dan gambar masa lalu di jaman Tjokroaminoto dengan berbagai kegaiatan di Sarikat Islam.

Di sebelah kanan pintu, menghubungkan ruang tamu dan lorong ruang tengah tergantung pigura bergambar wajah HOS Tjokroaminoto dengan latar belakang Sarekat Islam. Sejumlah perabot kuno ikut melengkapi di ruang tamu juga ruangan lain yang dulunya difungsikan menjadi kamar tidur. Di ruang tamu ada satu set meja kursi dari kayu jati, lemari kecil atau orang Surabaya menyebutnya laci.

Di belakang ruang tamu, berhadapan dua ruangan, sebelah kanan atau di sebelah barat dulunya dipakai untuk ruang kerja Tjokroaminoto, sedangkan di sebelah timur kamar Bung Karno (BK) itu setelah menikah dengan anak Tjokroaminoto, Oetari.

“Saat kos di sini, BK dan rekan-rekannya tinggal dan tidurnya di kamar atas,” kata Fauzi sambil menunjuk ruangan atas di lantai dua. “Kalau kamarnya Pak Tjokro saat itu di sini, karena dulu ruang tamu ini sket (dibelah dua), sebelah barat untuk ruang tamu, sebelah timur menjadi kamar Tjokroaminoto dan istri.

Di rumah ini kita seolah masuk ke lorong waktu menuju era pergerakan nasional di Surabaya. Terbayang situasi saat itu tentang aktifitas kaum pergerakan di kota ini. Diskusi dan rapat-rapat pergerakan, pendidikan politik dan membuat rancangan publikasi pastilah menjadi aktifitas utama di rumah ini pada masa lalu. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here