Bertandang ke Rumah Guru Bangsa, HOS Tjokroaminoto di Surabaya (2)

0
220

Nusantara.news, Surabaya – Rumah Tjokroaminoto menjadi tempat kos anak-anak muda dari berbagai daerah. Di rumah ini, mereka belajar dan mendapat bimbingan langsung dari HOS Tjokroaminoto. Mereka kerap melakukan diskusi yang kemudian mengantarnya menjadi manusia-manusia penting ikut mengukir sejarah perjalanan bangsa. Ikut berperan menorehkan sejarah perjuangan bangsa hingga mencapai kemerdekaan. Ada Soekarno, ada Semaoen, Alimin, Muso, Kartosuwiryo, dan Tan Malaka.

Selain menjadi penghuni kos, mereka menjadi saudara dengan hubungan antara anak dan bapak, juga murid dan guru di rumah bersejarah ini dan mendapat gemblengan menimbah ilmu dari ‘Bapak Bangsa’ HOS Tjokroaminoto. Selain para pemuda tersebut, sejarah mencatat KH Ahmad Dahlan dan KH Mas Manyur juga sering singgah untuk berdiskusi membicarakan nasib bangsa yang kala itu masih di bawah cengkeraman penjajah.

Pagar setinggi satu meter, daun pintu, jendela yang ada semua bercat hijau, tampak sejuk dengan tembok tebal bercat putih bersih. Di sebelah kanan pintu utama terdapat plat yang menyebut kalau rumah bersejarah itu terdaftar menjadi cagar budaya. Kesan sejuk dan damai saat berada di rumah itu mendorong untuk menjelajah lebih jauh ke sejumlah ruangan. Tentu saja saat berada di dalam rumah tersebut jangan lupa lebih dulu mengisi buku tamu yang disediakan.

Di bagian tengah rumah itu ada tiga ruangan. Ruangan paling kanan merupakan ruang untuk Pak Tjokro sekeluarga. Di dalamnya ada meja kayu dilengkapi cermin, juga ada beberapa foto terpajang di dinding. Ruangan itu dulu dipakai untuk ruang pribadi Tjokroaminoto dan juga sebagai ruang kerja. Sementara di sebelah kiri dulunya dipakai untuk kamar kos para pemuda, termasuk kamar yang ada di lantai dua, juga dilengkapi lemari dari kayu. Di ruang tengah atau penghubung antara ruang-ruang di bagian depan, tengah, dan belakang terdapat beberapa juga ada perabot kayu, lemari, kursi dan meja.

Di ruangan belakang ada kamar mandi, berhimpit dengan tangga besi yang menghubungkan ruangan atas. Perabotan dari kayu seperti meja dan lemari kayu ikut mengisi ruangan belakang yang dulu untuk dapur si pemilik rumah. “Sebetulnya tanah pekarangan rumah ini panjang, sampai ke belakang. Ada sumur dan menurut ceritanya juga ada kandang kudanya,” jelas Fauzi.

Lelaki bujangan itu menambahkan kalau Bung Karno dijamannya dulu pernah menang mengikuti lomba berkuda, hadiahnya mendapat kuda. Dan, dikandangkan di belakang rumah tersebut. Saat ini halaman belakang rumah tersebut terpisah disekat pembatas tembok, dan menjadi sekolahan.

Sementara, di ruangan atas selain untuk tempat istirahat, dulu juga dipakai Soekarno dan kawan-kawannya belajar dan berdiskusi serta belajar orasi. Dari ruangan itulah kemudian mereka ikut mewarnai perjalanan sejarah bangsa, menjadi pemimpin negeri ini. Mereka, memang dikenal tekun, rajin dan gemar berdiskusi selain juga punya sikap pemberani untuk berkorban bagi rakyatnya.

Saat melihat ke atas, tampak ruangan yang persis di atas ruang tamu dengan langit-langit mengikuti bentuk lancip atap genting itu tampak bersih. Lantainya dari kayu jati nempel di penyangga kokoh, kayu balok segi empat yang juga dari kayu jati. Terlihat ada dua tiang vertikal bekas dipakai sekat-sekat kamar. Udara di dalam kamar atas lantai dua itupun terasa sejuk dengan pencahayaan sedikit terbuka dari genting yang di modifikasi. Ini yang membawa kenyamanan pengunjung saat melihat kamar atas tersebut, seakan ikut menikmati kembali ke masa lalu yang membangkitkan semangat nasionalisme.

Warga kampung bangga kampungnya menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa. Mereka juga mengaku senang hampir setiap hari ada saja pengunjung yang datang ke rumah tinggal HOS Tjokroaminoto. Selain warga sekitar Surabaya, mereka yang datang adalah kelompok pelajar, mahasiswa juga elemen-elemen pemuda untuk melakukan diskusi di rumah tersebut.

“Sering di rumah ini dipakai diskusi, mereka dari elemen mahasiswa ada juga organisasi lainnya. Kalau malam bisa langsung meminta izin ke bapak ketua erte,” kata Fauzi.

Selain terhipnotis menikmati kesejukan dan pesona unik perabot serta pajangan sejumlah foto, sebenarnya masih banyak cerita sejarah kawasan Kampung Lawas Peneleh yang bisa disimak. Di antaranya ada masjid peninggalan Sunan Ampel yakni Masjid Peneleh, makam sesepuh kampung Peneleh, juga ada makam yang ada sejak jaman Belanda. Semua peninggalan sejarah itu layak dikunjungi. Dipakai panutan dan untuk mengetahui sejarah panjang perjalanan Bangsa Indonesia, hingga menjadi seperti sekarang. Karena, bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengenali sejarah perjuangan bangsanya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here