Di Laut Masihkah Kita Jaya? (1)

Bertarung di Laut Lepas

0
182

Nusantara.news, Jakarta – Ikan merupakan salah satu kekayaan laut Nusantara. Sumber daya alam laut yang satu ini  adalah  salah satu sumber daya laut yang bisa pulih, dan diperkirakan potensi lestarinya sekitar 6,26 juta ton per tahun, sedangkan yang dimanfaatkan baru sekitar 70%. Indonesia juga memiliki garis pantai terpanjang nomor dua di dunia (setelah Kanada), dengan panjang 99.093 kilometer.

Tidak heran, sejak puluhan tahun silam, ribuan kapal asing menggaruk seenaknya di perairan laut Nusantara tanpa hambatan yang berarti dari pihak keamanan dalam negeri. Masalahnya, waktu itu, aparat dari berbagai instansi terkait di laut tidak terkoordinasi dengan baik. Selain itu, banyaknya aparat penegak hukum yang mudah disuap oleh pemiliki kapal asing jika tertangkap ABK dan perahunya.

Tetapi, dengan ‘dipasangnya’ Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, ratusan kapal yang tertangkap sedang mencuri (illegal fishing) banyak yang diledakkan atau ditenggelamkan. Kenyataan ini tentunya terbelalaknya mata dunia akan ketegasan dari Pemerintah Indonesia. Bahkan, belakangan ini, banyak negara-negara pantai yang melirik dan ingin mengadopsi model Susi memberantas illegal fishing tersebut.

Boleh dibilang, dari sekian menteri kabinetnya Presiden Joko Widodo, baru Susi-lah yang kinerjanya dianggap mentereng. Dunia pun mengakuinya. Bahkan Susi mendapat pujian dari berbagai negara lain. Gebrakan Susi bukan hanya kepada kapal asing, tetapi juga pada kapal-kapal dalam negeri yang sejak lama sudah “ngawur” membuat perizinan penangkapan ikannya.

Banyak pengusaha perikanan kelas atas yang berpengaruh selama ini di dalam pemerintahan sebelumnya, pun tak bisa berbuat apa-apa. Susi dengan santainya mengeluarkan moratorium perizinan penangkapan ikan.

Menteri Susi memang nekad. Kinerjanya, sejauh ini positif, meski tanpa tedeng aling-aling. Itulah mengapa ketika Jokowi sering gonta-ganti menteri kabinetnya, Susi anteng saja. Malahan dia tambah disayang oleh Jokowi.

Sebelum dia menjabat menteri pun sebenarnya dia sudah berjaya di dunia perikanan, apalagi dia memiliki sejumlah pesawat terbang “Susi Air” yang sejak lama beroperasi tanpa masalah. Beberapa kali Jokowi copot menteri-menterinya yang dianggapnya tidak becus bekerja, Susi malah asyik ‘main air asin’ sambil nenggelemin ratusan kapal asing.

Walau kinerjanya mendapat pujian dari sana-sini, Susi justru merasa semua itu baru awal. Belum ada apa-apanya. Apalagi, walau sudah banyak kapal asing pencuri ikan ditenggelamkan, masih banyak yang membandel. Datang lagi, datang lagi.

Hal itu bisa dilihat intesitas kehadiran kapal nelayan China yang mondar-mandir datang ke perairan laut Natuna. Sampai-sampai terjadi beberapa peristiwa yang mengerikan, di mana kapal nelayan Tiongkok itu rupanya mendapat pengawalan dari coast guard-nya China. Ketika aparat keamanan dari PKP menangkap kapal nelayan China, kapal coast guard-nya justru membantu melepaskan kapal nelayan negerinya.

Ceritanya, waktu itu, Satuan Tugas Pemberantasan Illegal Fishing dari Kementerian Kelautan dan Perikanan kembali menguak kejahatan kapal Tiongkok. Kali ini dilakukan KM Kway Fey 10078 yang mencuri ikan di perairan Natuna, Kepulauan Riau (19/3/2016). Proses penangkapan dilakukan Kapal Perikanan (KP) Hiu 11 berlangsung dramatis disertai adegan kejar-kejaran dengan kapal patroli penjaga pantai (coast guard) China. Ini merupakan kali kedua pengulangan penangkapan kapal nelayan Tiongkok. Waktu itu pernah terjadi pada 2013.

Saat Target Operasi (TO) (Kway Fey)  terdeteksi, Sabtu (19/3/2016) pukul 14.15. Posisi kapal ikan asing (KIA) tersebut berada di wilayah Indonesia. TO dikejar dan diberhentikan, tapi kapal tidak mau berhenti. Kapal Pengawas KKP lalu memberikan tembakan peringatan, namun kapal tetap berusaha melarikan diri dengan meluncur zig zag, sehingga KP Hiu 11 mendekat dan tidak bisa menghindari tabrakan.  Tiga orang personil KP Hiu 11 melompat ke kapal tangkapan dan berhasil melumpuhkan TO. 8 ABK kapal tangkapan dipindahkan ke KP Hiu 11. PKP memeriksa dan pemindahan ABK kapal tangkapan ke KP Hiu, selanjutnya kapal tersebut dibawa.

Dalam perjalanan pengawalan, tiba tiba satu kapal Coast Guard China mengejar. KP Hiu 11 mencoba menghubungi lewat radio dan tidak ada jawaban, kemudian KP Hiu 11, menghubungi Lanal untuk memberitahukan kejadian tersebut. Kapal coast guard dengan kecepatan 25 knots, setelah mendekat, mereka menyorot dengan lampu sorot, kemudian menabrak kapal tangkapan. Setelah kapal tangkapan berhenti dan melihat ada 3 orang anggota KP Hiu 11, mereka tidak jadi naik, namun tetap mengawasi. Karena kapal tangkapan rusak, akibat ditabrak, 3 personil KP Hiu 11 memutuskan kembali ke KP Hiu 11, dan meninggalkan kapal tangkapan. “Kejadian menabraknya pada saat mau di bawa ke Natuna. Kapal coast guard menabrak kapal tangkapan tersebut,” tegas Menteri Susi.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here