Berubah ‘Menyerang’, Jokowi Merugi

0
405
Capres sekaligus Presiden Jokowi getol menggelontorkan dana APBN untuk bantuan langsung tunai, menggelontorkan subsidi, dan bahkan mengirim aneka kartu sakti. Harusnya Jokowi menang, tapi kalau kalah memang keterlaluan.

Nusantara.news, Jakarta – Capres petahana Joko Widodo (Jokowi) melancarkan serangan bertubi-tubi terhadap rivalnya, Prabowo Subianto. Capres nomor urut 01 itu menyinggung beberapa pernyataan Prabowo yang menjadi kontroversi, dari prediksi Indonesia bubar, Indonesia dikhawatirkan seperti Haiti, hingga hoax Ratna Sarumpaet. Pernyataan tajam itu diucapkan sang petahana saat berkampanye di Surabaya, Jawa Timur, dan Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (2/2/2019).

“Masak, ada yang bilang Indonesia bubar dan Indonesia punah? Ya bubar sendiri saja, punah sendiri saja. Tapi jangan ajak-ajak rakyat,” kata Jokowi.

Tak hanya itu, Jokowi juga menduga ada timses yang menggunakan propaganda ala Rusia yang menyemburkan hoax dan kebohongan. “Problemnya adalah ada tim sukses yang menyiapkan propaganda Rusia! Yang setiap saat mengeluarkan semburan-semburan dusta, semburan hoax, ini yang segera harus diluruskan Bapak-Ibu sebagai intelektual,” katanya. Soal dugaan itu, Kedubes Rusia pun telah membantahnya.

Sebelumnya, Mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu juga mulai terlihat agresif membalas kampanye blusukan yang dilakukan calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno dengan mengeluarkan penyataan bantahan harga-harga. Teranyar, Jokowi juga menyerang balik pernyataan Prabowo soal ’99 persen masyarakat Indonesia hidup pas-pasan’. Dalam kesempatan berbeda, Jokowi juga sempat mengeluarkan diksi ‘sontoloyo’ dan ‘genderuwo’ yang menghebohkan perpolitikan di tanah air.

Perubahan sikap Jokowi yang kini tampil menyerang tersebut dianggap sebagai hal yang cukup mengejutkan karena keluar dari pakem politik Jokowi yang selama ini dianggap santun, sopan, dan cenderung sophisticated atau rumit dengan segala simbol politiknya. Dengan politik halus dan ‘kalem’, sebenarnya menjadi nilai plus Jokowi untuk menarik simpati pemilih. Namun, dengan gaya politik ofensif dan bergaya “elite” yang ditunjukkan Jokowi akhir-akhir ini, bukan tidak mungkin akan berbalik blunder bagi citra capres petahana ini.

Bagi banyak pihak, konteks ini mungkin dianggap biasa. Namun, bagi orang-orang yang mengikuti garis politik Jokowi, tentu saja timbul pertanyaan terkait perubahan sikap politik yang demikian. Sebab, gaya frontal tersebut bukan khas Jokowi. Konteks ini kemudian dijadikan sebagai jalan untuk menjustifikasi menyebutkan bahwa sang presiden sedang “menunjukkan sifat aslinya” dan apa yang ditampilkan oleh Jokowi di hadapan publik pada waktu-waktu sebelumnya adalah “pencitraan”.

Dari sisi petahana, semestinya Jokowi jangan reaktif apalagi dengan menggunakan diksi-diksi yang tak perlu. Sebab, di mana pun yang namanya calon petahana tentu akan mendapat serangan dari oposisi terhadap hasil kinerja dan performanya. Dengan kelebihan sebagai petahana yang memiliki akses fasilitas, kebijakan, aparat, dan perangkat kekuasaan lainnya, sebenarnya Jokowi bisa lebih fokus menampilkan segala pencapaian dan citra baik. Sebut saja mislanya; pembangunan infrastruktur, dana desa, PKH, kartu Indonesia pintar, kartu indonesia sehat, dan seterusnya.

Motif Serangan Politik Jokowi

Bisa jadi ada beberapa hal yang melatarbelakangi perubahan gaya berpolitik Jokowi. Pertama, Jokowi mulai kehilangan pamor di Pilpres 2019. Sebagaimana kata Peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, serangan Jokowi itu bisa jadi disebabkan oleh posisi dia yang berbeda drastis dengan Pilpres 2014. Jokowi, disebut Siti, mempunyai efek yang begitu kuat saat Pilpres 2014. Namun, menurut Siti, Jokowi effect itu luntur menjelang Pilpres 2019. Siti menyatakan justru efek tersebut malah beralih ke kubu lawan, yakni cawapres Sandiaga Uno.

“Kalau menurut saya (sekarang) beda sekali, Jokowi 2019 dibandingkan dengan Jokowi di 2014. Jokowi 2014 itu bukanlah petahana tapi posisi dan pengelu-eluannya itu luar biasa. Jadi semua istilahnya itu berpihak pada Jokowi. Media darling ya, pokoknya diharapkan hampir semua elemen bangsa sehingga kita baru menyaksikan seperti apa pelantikan seorang presiden di 2014 itu, kalau dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya, kayanya nggak pernah seperti itu,” ujarnya.

Pudarnya pamor Jokowi boleh jadi akibat hasil kinerja dan kebijakannya selama memerintah yang dinilai tak mengangkat taraf hidup ‘wong cilik’. Mereka justru banyak yang terbebani dengan masalah ekonomi dan berbagai kenaikan harga ataupun tariff. Gelagat ini sebenarnya sudah mulai terlihat di awal masa pemerintahan Jokowi-JK, yang secara mengejutkan kebijakan mencabut subsidi bahan bakar minyak (BBM) alias menaikan harga ‘minyak’ justru di tengah harga minyak dunia sedang turun. Selepas itu, tarif listrik naik berkali-kali.

Kedua, kepanikan petahana atas survei elektabilitas yang stagnan. Bagkan Jokowi sendiri mengakui salah satu penurunan elektabilitas jutsru terjadi di basis suaranya, yakni di Jawa Tengah. Meski diakui turun 2% dan tercatat masih unggul dari Prabowo, bukan tidak mungkin dalam dua bulan tersisa hingga pencoblosan, Prabowo bisa menyusul ketertinggalan itu. Terlebih di beberapa survei, elektabilitas Prabowo trend-nya terus naik. Bahkan survei internal tim Prabowo mengklaim selisih mereka dengan petahana tinggal 4% lagi.

Ditemani Anies Baswedan, Prabowo Buka Gerak Jalan Sehat Relawan 02

Sejauh ini, menurut beberapa survei angka elektabilitas Jokowi masih sekitaran 50%, bahkan jika merujuk pada hasil jajak pendapat lembaga survei Median per Januari 2019 lebih kecil yakni sebesar 47,9 persen. Angka 40 – 50% ini tentu tergolong tidak aman bagi calon petahana. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjelang Pilpres 2009 misalnya, memiliki elektabilitas di atas 71 persen. Hal itu menjamin kemenangannya dengan perolehan suara di atas 60 persen saat pemungutan suara berlangsung.

Pengamat politik Adi Prayitno menilai, strategi menyerang ini sengaja didesain untuk mengerek elektabilitas Jokowi yang relatif stagnan. Namun, gaya ini dinilai merugikan, karena Jokowi tidak alamiah seperti biasanya, yakni yang jualan kerja dan cuek dengan gosip-gosip luaran. “Sebab, yang disukai dari Jokowi itu karena dia alamiah, apa adanya, dan tak suka menyerang,” ujarnya.

Ketiga, bisa jadi Jokowi memang mulai gerah dan merasa tertekan dengan serangan Prabowo dan tim suksesnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Jokowi selama ini dihujani oleh berbagai isu negatif sejak tahun 2014 lalu. Mulai dari isu keturunan Tionghoa dan PKI, tuduhan sebagai antek asing dan aseng, hingga kritik tajam buruknya kinerja ekonomi pemerintah. Tak main-main, menurut beberapa lembaga survei, isu tersebut berhasil mempengaruhi sebagian masyarakat Indonesia.

Dengan banyaknya isu negatif dan kritik terhadap dirinya, Jokowi pun terlihat sibuk menangkis dan terpancing menyerang balik. Mungkin Jokowi berpikir, jika dirinya tidak angkat suara untuk mengklarifikasi, bukan tak mungkin, akan semakin banyak masyarakat yang terpengaruh dengan isu-isu semacam itu. Ujungnya, nasib elektoralnya di Pilpres 2019 bisa di ujung tanduk.

Keempat, sikap ofensif Jokowi bisa jadi memang bagian dari agenda tim Jokowi-Ma’ruf Amin dalam Pilpres kali ini. Asumsi ini bisa dilacak dari keterangan Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto yang menyatakan bahwa tim kampanye Jokowi-Ma’ruf Amin akan melakukan langkah agresif untuk menyerang atau ofensif dalam pemilihan presiden 2019.

Hal itu disampaikan dalam agenda pembekalan dan workshop juru bicara tim kampanye nasional Jokowi-Ma’ruf Amin di Hotel Oria, Jakarta, Senin (13/8). Hasto mengatakan langkah ofensif merupakan arahan langsung Jokowi saat bertemu dengan seluruh sekjen parpol koalisi di Rumah Pemenangan Cemara, Jakarta, sehari sebelumnya.

Kelima, sikap ofensif Jokowi, utamanya serangan balasan atas ucapan-ucapan Prabowo, merupakan siasat kontra-demarketing terhadap oposan. Jika oposan menyerang Jokowi dari sisi kinerja, Jokowi membalas balik dengan menyerang ‘karakter’ lawan (Prabowo). Sepintar apa pun, serasional apa pun, dan sejelas apa pun, argumen oposisi akan rontok dengan sendirinya jika integritas sang pembawa argumen sudah rontok. Hal ini bisa ditelusuri dari diksi “sontoloyo”, “genderuwo”, “nggak ngerti ekonomi makro”, “nunjuk orang antek asing dia sendiri antek asing”, hingga “bubar punah sendiri saja jangan ajak-ajak rakyat” yang ditujukan petahana ke kubu Prabowo.

Melihat Jokowi yang kini ofensif, tampaknya memang Jokowi perlu berhati-hati dengan perubahan gaya komunikasi politiknya itu. Bagaimanapun juga, citra politik ke-Jawa-annya adalah salah satu faktor yang membuatnya unggul dibandingkan Prabowo pada Pilpres 2014 lalu. Artinya, jika terjebak terlalu jauh dengan strategi yang ofensif ini, sangat mungkin justru Jokowi-lah yang akan dirugikan karena kehilangan pemilih loyalnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here