Betulkah Cina Akan Berjaya di Asia?

0
167

Nusantara.news, Jakarta – Pasca-Amerika Serikat secara resmi menyatakan mundur dari Kemitraan Trans-Pasifik (TPP), banyak pengamat menilai bahwa saat ini pintu bagi Cina untuk menguasai perdagangan di kawasan Asia mulai terbuka lebar. Cina punya peluang untuk berjaya di kawasan Asia.

Pasalnya, Tran-Pasific Partnership awalnya digagas oleh AS untuk mengimbangi kekuatan perdagangan Cina di kawasan Asia. Akibat itu, Cina menggalang kekuatan tandingan dengan membuat RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) yang beranggotakan negara-negara Asean plus 6 negara patner (China, Korea Selatan, Australia, New Zealand, India, dan Jepang).

Asumsinya dengan mundurnya AS dari TPP berarti Cina kini tak perlu lagi repot-repot menggalang kekuatan di kawasan Asia. Bahkan, Cina malah mendapat peluang untuk masuk ke TPP dan menjadi ‘leader’ pasca-AS menyatakan keluar.

Tapi apakah benar asumsi itu? Waktu yang akan mengujinya.

Yang jelas, AS tidak akan mungkin melepas Cina begitu saja untuk menguasai perdagangan di kawasan Asia, sebab negeri Paman Sam itu sudah pasti punya kepentingan yang besar di kawasan ini.

Buktinya, calon Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson saat uji kelayakan dengan Kongres AS menegaskan kembali bahwa pembangunan oleh Cina di kepulauan yang disengketakan di Laut Cina Selatan adalah ilegal. Ini adalah sinyal bahwa AS sangat menginginkan Laut Cina Selatan sebagai jalur perdagangan strategis yang bebas bagi perdagangan internasional. Artinya, AS tidak akan melepas begitu saja kepentingan yang menyangkut perdagangannya dikuasai oleh Cina. Meskipun Cina tidak patut diremehkan kekuatannya di kawasan ini.

PM Australia Malcom Turnbull sudah membuka pintu bagi Beijing di tengah upayanya menyusun kembali TPP tanpa AS.

Australia dan Selandia Baru telah menyatakan akan tetap menyelamatkan TPP dengan mendorong Cina dan negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia untuk mendaftar.

TPP merupakan kesepakatan perdagangan terbesar dalam sejarah yang ditandatangani pada tahun 2015 oleh 12 negara, dimana jika bersama-sama mencakup 40% dari perekonomian global. 12 negara tersebut yakni Australia, Vietnam, Kanada, Chile, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, Brunei, dan Amerika Serikat (yang telah menarik diri).

“Ada kemungkinan kebijakan AS bisa berubah dari waktu ke waktu, seperti yang telah dilakukan pada transaksi perdagangan lainnya,” kata Turnbull kepada wartawan di Canberra, Selasa (24/1) Turnbull masih berharap AS berubah sikap, sebab menurut dia calon Menlu AS Rex Tillerson mendukung TPP.

Tapi jika tidak, “Ada kemungkinan TPP lanjut tanpa AS, tentu saja besar potensi Cina untuk bergabung,” katanya.

Senada dengan PM Australia, Bill English PM Selandia Baru juga memberi kesempatan Cina untuk bergabung dengan TPP. Bill mengatakan, lebih baik melakukan sesuatu untuk melanjutkan TPP ketimbang menunggu Washington untuk melakukan kerja sama bilateral dengan negaranya.

Trump memang lebih memilih melakukan penawaran kerja sama bilateral untuk mengamankan sejumlah persyaratan yang lebih menguntungkan bagi AS.

Bagi Bill, kerja sama bilateral dengan AS akan lebih memberi risiko mengingat Trump tampaknya akan lebih banyak mendikte dalam perjanjian.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Hua Chunying belum membuka sikap Beijing terkait bergabungnya Cina dengan TPP, dia hanya menyatakan bahwa Cina mendukung perjanjian perdagangan yang terbuka, transparan, dan saling menguntungkan.

Bagi Cina sendiri, kepergian AS dari TPP tidak perlu dirayakan. Karena Cina menganggap hal tersebut bukan berarti ancaman lain dari AS di kawasan Asia Pasifik tidak ada. Justru ketidak-pastian sikap Washington ini yang mengganggu Beijing.

“Ini (AS tinggalkan TPP) bisa dianggap sebagai kabar baik bagi Cina bahwa tekanan TPP sekarang hilang,” kata Tu Xinquan, ahli perdagangan di Beijing University of International Business and Economics. “Namun, ada ketidakpastian besar apakah Cina bisa mengambil keuntungan (dari situasi ini).”

Kebijakan Trump sampai saat ini masih belum bisa ditebak secara jelas ke mana arahnya, yang jelas AS agaknya tengah melakukan konsolidasi ke dalam dengan strategi proteksi.

Para ahli di Cina tampak lebih fokus untuk memperhatikan kebijakan luar negeri Trump daripada buru-buru meyakini bahwa ini adalah era emas bagi Cina.

Hu Xingdou, ekonom Beijing Institute of Technology mengatakan ia ‘tidak terlalu optimis’ tentang prospek Cina. Presiden baru AS ‘akan mengejar proteksionisme,’ dan Cina mulai melihat Trump sebagai ‘musuh terbesar’.

Tu, ahli perdagangan di University of International Business and Economics juga mengatakan sulit untuk melihat hasil yang positif keberadaan Cina, ketika melihat kemungkinan bakal terjadi perang habis-habisan di bidang perdagangan AS-Cina.

Di dalam negeri, Trump dikritik oleh para pengamat karena kebijakan-kebijakannya yang memberi peluang Cina menguasai perdagangan di Pasifik, sebagaimana memberi peluang Rusia menguasai Eropa.

Tapi bukankah kita belum tahu jurus apa yang bakal dikeluarkan Trump untuk membuat “America Great Again” selanjutnya. Dunia masih menunggu. [ ] (berbagai sumber)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here