Biomassa, Sumber Energi Baru yang Belum Dilirik Pemerintah

0
111

Nusantara.news, Surabaya – Indonesia diprediksi akan mengalami krisis energi dalam 50 tahun ke depan jika tidak ada penemuan sumber baru atau perubahan konsumsi. Padahal ada sumber energi baru di depan mata yang melimpah dan tinggal diambil, kendati masih harus menunggu teknologi yang tepat untuk manfaatkannya, yakni biomassa.

Di satu sisi, kendati ancaman krisis energi semakin dekat, pemerintah masih berkutat mencari sumber yang ada di perut bumi nusantara, terutama energi berbeasis fosil.  Presiden Joko Widodo sempat melontarkan potensi panas bumi sebagai penghasil listrik saat menghadiri puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2017 di Ambon, Kamis (9/2/2017).

Merespon apa yang dinyatakan presiden, tidak semua wilayah di Indonesia dikaruniai energi panas bumi (geothermal). Di sisi lain dibutuhkan teknologi dan biaya besar untuk mendirikan pembangkit listrik panas bumi yang masih jadi persoalan bagi pemerintah jika tidak menggandeng asing untuk pendanaan, sekalipun upaya ini tetap penting sebagai sumber energi alternatif. Akan berbeda jika sumber energi seperti biomassa jadi prioritas karena bahan bakunya yang tersedia dan melimpah di kawasan padat penduduk, sampah!

Terkait dengan soal itu, Lembaga penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS dengan menggandeng Fraunhofer UMSICHT dari Jerman, tengah diupayakan engembangan teknologi pengolahan biomassa sebagai sumber energi.  Ketua LPPM ITS, Prof Dr Ir Adi Soeprijanto MT mengatakan, penelitan ini sudah dilangsungkan sejak 2011. “Kami sudah mencoba menggunakan dalam skala kecil. Di ITS terdapat insenerator untuk membakar sampah dan mengonversikannya menjadi energi,” terangnya kepada wartawan, Minggu (12/2/2017).

Di insenerator tersebut, lanjutnya, sampah dari seluruh kampus ITS diolah menjadi energi melalui proses gasifikasi. Biomassa memang didapatkan dari sumber yang bermacam-macam seperti dari sampah organik hingga dari kayu atau kotoran. Pengembangan teknologi biomassa ini tidak sekadar mencakup pembangkitan energi.

Dalam jangka panjang, sebagai bentuk pengabdian masyarakat, teknologi ini akan coba diaplikasikan di luar kampus. “Kami berpikir untuk mendirikan pusat pengolahan biomassa di luar ITS agar tidak ada biaya transportasi untuk mengangkut biomassa yang berupa kotoran,” ujarnya. Agar tepat guna, kini timnya tengah fokus membuat prototipe pengolah sebagai media pembelajaran bagi masyarakat.

Perwakilan Fraunhofer Institute for Environmental, Safety, and Energy Technology UMSICHT, Philipp Danz mengatakan, biomasssa dapat diolah menjadi briket-briket yang dapat ditransportasikan kemana-mana. “Melalui proses karbonisasi, biomassa diolah menjadi bahan bakar yang praktis dan kaya akan energi,” kata Danz.

Keunggulan energi biomassa yang lain, ujar Danz, adalah siklus karbon yang lebih pendek serta pengurangan ketergantungan terhadap batu bara. Meskipun demikian, Danz berpendapat bahwa di Indonesia potensi biomassa sebagai sumber energi belum sepenuhnya tergali.  “Waktu itu saya menemui ada limbah padi yang dibiarkan begitu saja. Petaninya bingung biomassa itu mau diapakan,” ucapnya.

Dikatakan Danz, tantangan pengembangan teknologi ini terletak pada perubahan pola pikir masyarakat agar mau mengikuti sistem pengolahan sampah yang lebih terpusat dan tidak membakar sampahnya sendiri.

“Pertanyaan kebanyakan dari warga memang, mengapa saya perlu membayar untuk pengumpulan sampah ketika saya bisa membakarnya sendiri,” ujar Danz. Ia berpendapat teknologi biomassa ini harusnya dibuat oleh orang Indonesia sendiri dan tidak sekadar mengimpor teknologi dari Eropa. “Selain ilmunya dapat, tentunya juga lebih murah,” kata Danz. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here