Bitcoin Potensial Dijadikan Alat Kejahatan, Waspadalah

1
275
Bitcoin yang nilai tukarnya naik secara mencengangkan/ Foto Google

Nusantara.news, Jakarta – Sejak dikenalkan oleh Satoshi Nakamoto pada 2009, nilai sekeping mata uang digital (cryptocurrency) Bitcoin terus melambung. Karena lambungan harga yang fantastis itu sejumlah lembaga keuangan dunia pasang kuda-kuda. Sebab bitcoin yang tanpa otoritas itu rentan menjadi alat pencucian uang hasil kejahatan.

Bayangkan saja, awal Januari 2017 lalu nilainya per keeping atau lazim disebut BTC hanya Rp12,8 juta. Setiap bulannya harga BTC meningkat, bulan Juli sudah mencapai Rp25,6 juta naik menjadi Rp55 juta di bulan Agustus. Setelah September nilainya mencapai Rp58,3 juta Oktober ini terbang menjadi Rp73,8 juta.

Maka kehadiran Bitcoin kini dianggap sebagai masalah serius bagi lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF/International Monetary Fund). Meskipun keberadaannya dilarang di sejumlah negara, termasuk oleh Indonesia melalui Bank Indonesia (BI), namun nilai Bitcoin justru menunjukkan keperkasaannya.

CNN Internasional melaporkan, penyebab kenaikan Bitcoin pada Agustus antara lain adanya permintaan dari Jepang cukup tinggi. Transaksi Bitcoin di Jepang naik drastis rata-rata hingga 40% lebih di Agustus 2017. Selain disebabkan beberapa faktor lainnya, seperti software baru yang dikeluarkan ‘pedagang’ Bitcoin yang lebih mempercepat transaksi.

Seorang teman wartawan Nusantara.news di Facebook berinisial SH menuliskan status, betapa Bitcoin menjadi andalan baru dalam investasinya. “Tapi saya tidak pernah melupakan emas, sebab emas adalah koin yang murni,”ujar perempuan asal Jember yang kini tinggal di Jerman itu dengan wajah berseri-seri.

Kenaikan Bitcoin di bulan Oktober itu memang mencengangkan. Padahal pemerintah China sejak September 2017 telah melarang apa pun bentuk transaksi initial coin offering (ICO) yang termasuk Bitcoin di dalamnya. Rupanya pemerintah China memang sedang mempersiapkan uang virtual miliknya.

Selain itu transaksi Bitcoin, kata pejabat bank sentral China sulit dilacak. “Bitcoin rentan digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung-jawab untuk pencucian uang, penjualan narkoba, penyelundupan, dan aktivitas ilegal lainnya,” ucapnya kepada kantor berita Reuters.

Peringatan IMF

Bukan hanya China yang memang dikenal ketat dalam hal otoritas. IMF pun mulai risau dengan melambungnya harga BTC. Hari ini saja, Jumat (20/10) harga BTC tercatat Rp 75,4 juta.

Tidak mengherankan apabila pada pertemuan tahunan IMF-World Bank 2017 di Washington DC pekan kemarin, Managing Director IMF Christine Lagarde mengingatkan bank sentral seluruh negara agar berhati-hati dengan peredaran Bitcoin.

Lagarde juga mengingatkan, institusi keuangan dunia mengambil risiko besar ketika tidak melihat secara jelas dan mengerti secara luas perkembangan produk teknologi finansial yang mampu mengguncang sistem pembayaran dunia dan jasa keuangan. “Saya berpikir, kita akan segera melihat adanya gangguan besar,” bebernya.

Lagarde menambahkan, sangat penting jika melihat implikasi yang ditimbulkan dari perkembangan mata uang digital di dunia secara komprehensif. Sayangnya, Lagarde tidak menjawab apakah memang keberadaan mata uang digital Bitcoin merupakan sebuah ‘fraud‘ seperti misalnya Skema Ponzi.

Di Indonesia sendiri, sudah sejak tahun 2014 Bank Indonesia telah mengingatkan Bitcoin bukan alat pembayaran yang sah di Indonesia.

“Karena bukan alat pembayaran yang sah maka kalau dipake tentu akan ditindak. saya tidak menginginkan ada pelanggaran di Indonesia ketika BI sudah menegaskan bitcoin bukan alat pembayaran yang sah,” ujar Gubernur BI  Agus Martowardojo, di Gedung BI, Jakarta, Kamis (19/10) kemarin.

Dasar dari Peraturan BI itu sendiri adalah Undang-undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang serta UU No. 23 Tahun 1999 yang kemudian diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang No. 6 Tahun 2009, BI menyatakan, Bitcoin dan virtual currency lainnya bukan merupakan mata uang atau alat pembayaran yang sah di Indonesia.

Kekhawatiran IMF terhadap Bitcoin juga dibenarkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang juga hadir dalam acara Annual Meeting International Monetary Fund (IMF)-World Bank (WB) di Washington, Amerika Serikat (AS). Namun sayang dalam pertemuan yang dihadiri 189 negara itu belum ada komitmen Internasional dalam menyikapinya.

Tapi yang jelas, kejahatan di sektor keuangan menjadi fokus dalam pertemuan tahunan IMF-WB yang diselenggarakan Jumat-Sabtu pekan lalu.

“Jadi teknologi untuk bisa masuk ke seluruh masyarakat, dan munculnya sistem pembayaran baru bitcoin dan munculnya fintech dan alat pembayaran difasilitasi, itu menimbulkan sesuatu opportunity baru terjadinya serangan,” jelasnya.

Resiko Tanggung Sendiri

Untuk mengatasinya, Sri Mulyani menyarankan masing-masing negara harus saling bekerja sama, mengingat dampak yang ditimbulkan bisa bersifat sistemik.

“Ini pembahasan yang sangat serius, karena terjadi di semua negara dan sektor keuangan dan non keuangan menjadi target luar biasa sering, maka kerja sama antarnegara, karena bisa saja yang diserang satu lembaga keuangan dampaknya bisa sangat sistemik,” terang Sri Mulyani.

“Maka sekarang ini pembahasan secara umum dilakukan intensif. Baik G20 dan IMF akan dilakukan intensisikasi melalui FATF (Financial Action Task Force) dan anti money-laundering. Tapi cyber security dan cyber crime ini akan menjadi salah satu yang dibahas,” lanjutnya.

Kini fenomena uang virtual, sambung Sri Mulyani, telah menjadi kajian serius sejumlah negara dan lembaga besar. Hanya saja hingga berita ini ditulis belum ada komitmen mengenai tindak lanjut kajian itu menjadi regulasi.

“Untuk Indonesia kita sudah memiliki roadmap dari masalah digital economy, di satu sisi dalam roadmap itu ada security dan safety. Kita juga ada tim cyber. Kita (Kementerian Keuangan) juga kerja sama dengan lain OJK, BI, LPS dan di sisi lain membahas dengan penegak hukum,” pungkas Sri Mulyani.

Berapa nilai Bitcoin yang sudah beredar di masyarakat Internasional? Sulit menghitungnya. Pada akhir 2013 lalu tercatat BTC yang beredar melebihi 1,5 miliar dolar AS dengan total transaksi penukaran yang mencapai jutaan dolar per hari.

Memang menjanjikan, tapi hati-hati. Karena tidak ada satu pun otoritas keuangan yang melindunginya. Kalau ada apa-apa anda hanya bisa “nyengir kuda”. Sebab semua resiko ada di tangan anda.[]

1 KOMENTAR

  1. […] Sejak dikenalkan oleh Satoshi Nakamoto pada Tahun 2009, nilai sekeping mata uang digital (cryptocurrency) Bitcoin terus melambung. Karena lambungan harga yang fantastis itu sejumlah lembaga keuangan dunia pasang kuda-kuda. Sebab bitcoin yang tanpa otoritas itu rentan menjadi alat pencucian uang hasil kejahatan. Awal Januari 2017 lalu nilainya per keeping atau lazim disebut BTC hanya Rp. 12,8 juta. Setiap bulannya harga BTC meningkat, bulan Juli sudah mencapai Rp. 25,6 juta naik menjadi Rp. 55 juta di bulan Agustus. Setelah September nilainya mencapai Rp. 58,3 juta Oktober ini terbang menjadi Rp. 73,8 juta. (https://nusantara.news/bitcoin-potensial-dijadikan-alat-kejahatan-waspadalah/) […]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here