BKSP Jatim Bahas Metode Tepat Perkuat Daya Saing Tenaga Kerja Lokal

0
38
Siswa SMKN 1 Tulungagung belajar praktikum di laboratorium multimedia. Secara potensi industri, pemilihan mata pelajaran memang harus melihat potensi di daerahnya masing-masing agar lulusannya bisa terserap dan siap pakai.

Nusantara.news, Surabaya – Jerman pernah Sempat luluh lantak seusai Perang Dunia I dan II, namun daya tahan sumber daya manusia (SDM) yang sudah teruji melalui sistem pendidikan selama ratusan tahun, membuat perekonomian negara itu lekas berdiri sejajar dengan negara-negara sekutu sebagai pemenang perang.

Melalui metode pendidikan dan pelatihan kejuruan, lazim disebut dual system yang sudah berumur 700-an tahun, SDM Jerman sukses bersaing di tingkat global hingga metode ini kerap menjadi rujukan dunia. Kendati tidak terpatok dalam pola baku karena dalam perkembangannya selalu dilengkapi dengan konsep terbaru, metode ini sukses membawa perubahan pada masyarakat, ekonomi, dan teknologi tanpa kehilangan identitas sebagai suatu bentuk pelatihan yang paling sesuai dengan ekonomi dan pasar kerja.

Jaminan berkelanjutan keterserapan tenaga kerja pada pasar global sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan individu, membuat SDM Jerman disebut-sebut sebagai yang siap pakai dalam memenuhi Dunia Usaha serta Dunia Industri (DUDI). Salah satu keunggulan dual system adalah kewajiban mengembangkan kualifikasi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan hasil kinerja secara independen.

Kelebihan-kelebihan ini yang coba diaplikasi dalam dunia pendidikan dan kejuruan oleh Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi (BKSP) Jawa Timur dengan menggandeng beberapa elemen, termasuk KADIN Jawa Timur dan KADIN Jerman (IHK Trier, RED). Ketua BKSP Jawa Timur Adik Dwi Putranto, sangat berharap ada dampak positif dari metode ini. “Terutama untuk peningkatan kompetensi dan kualitas SDM Jawa Timur,” terangnya kepada media beberapa waktu lalu.

Sentuh Kesadaran Pelaku Industri

Gayung bersambut. Ketua KADIN Jawa Timur La Nyalla M Mattalitti langsung berkoordinasi dengan pelaku industri di wilayahnya. Langkah awal, sosialisasikan dual system pada industri di kawasan Surabaya Industrial Estate Rembang (SIER). Dunia industri jadi pertimbangan sasaran pertama karena sebaik apa pun sistem vokasi atau magang dalam dunia pendidikan kejuruan, tidak akan optimal jika tidak dibarengi kesadaran pelaku industri. “Saya berharap dengan sosialisasi ini banyak pelaku industri di Jawa Timur yang menyadari akan tanggung jawabnya untuk menampung tenaga kerja lokal,” kata La Nyalla, Minggu (20/8/2017).

Apalagi, tambah La Nyalla, sistem pendidikan kejuruan di Indonesia saat ini masih menyisakan celah kekurangan. “Masih ada yang tidak sinkron antara pemilihan bidang studi di sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan potensi industri yang ada di daerah sekitarnya. Ini berdampak pada serapan lulusan SMK karena kompetensi SDM tidak sesuai dengan kebutuhan DUDI. Yang terjadi, bukannya mencetak tenaga kerja, SMK justru menambah pengangguran,” sebutnya.

Koordinator Program IHK Trier Andreas Gosche (kanan), beberkan kelebihan dual system untuk menjawab kelemahan tenaga kerja yang tak bisa diserap industri di Jawa Timur di depan BKSP dan KADIN Jawa Timur.

Sebagai elemen dengan tujuan untuk mewujudkan dunia usaha nasional yang kuat, berdaya cipta dan berdaya saing tinggi, KADIN Jawa Timur sangat berkepentingan dalam penyediaan serapan tenaga kerja sesuai kompetensi dan potensi. Kelemahan dari sistem yang ada harus segera ditambal, salah satunya dengan pendidikan vokasi sistem ganda. “Nantinya anak didik akan diajak belajar langsung pada industri di daerahnya yang sudah menjadi mitra. Ini sudah jadi prioritas kami (KADIN),” tambah La Nyalla.

Terkait kerja bareng ini, Direktur SIER Fatah Hidayat mengaku sudah ada payung hukum melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1/2016 tentang Revitalisasi SMK. “Dalam aturan itu, Presiden mengimbau kepada seluruh industri untuk bekerja sama dengan SMK mencetak SDM yang unggul dan kompetitif, mampu bersaing di era globalisasi dunia. Ini juga memudahkan kami karena bisa mendapatkan tenaga kerja yang siap pakai,” jelasnya.

Karenanya, Fatah Hidayat mengimbau semua pelaku industri tak hanya di SIER, untuk sukseskan program ini. Dengan usia kerja yang panjang, produksi tentu punya prospek lebih besar di masa depan. Termasuk ketika menghadapi persaingan global.

Koordinator Program IHK Trier, Andreas Gosche ketika hadiri acara peningkatan kerja sama antara BKSP dan KADIN Jawa Timur di Surabaya, Rabu (9/8/2017), menjelaskan jika dual system telah diterapkan sejak lama di Jerman. Hasilnya, sukses membawa Jerman menjadi negara pengekspor terbesar di dunia. Padahal dari sisi SDM, luas wilayah maupun sumber daya alam sangat kecil. “Tidak ada faktor lain yang menjadi penyebab keberhasilan Jerman kecuali hanya mendidik orang sesuai dengan industri di sekitar daerah itu,” terangnya.

Setidaknya, ada 3 poin penting untuk menentukan berhasil tidaknya sistem ini diterapkan. Pertama, pelaku harus profesional, baik pelaku industri ataupun pelaku pendidikan. Kedua, kurikulum harus diselaraskan dengan kebutuhan industri. Selanjutnya, harus ada hubungan dan wadah yang bisa pertemukan dunia pendidikan dengan DUDI. Kelompok Mitra bentukan KADIN Jawa Timur, bisa menjadi jembatan dalam hal ini.

Mengisi Kekosongan Negara Dalam Pemenuhan Tenaga Kerja

Mau tidak mau, Indonesia memang harus bersiap menghadapi persaingan global. Apalagi pasca berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN dan mitra per 31 Desember 2015. Dalam kesepakatan perjanjian itu, semua pelaku industri anggota ASEAN dan negara mitra bebas intervensi pasar. Termasuk memasukkan tenaga kerja sesuai kompetensi.

Negara dalam hal ini memang jadi gantungan harapan agar ketahanan ekonomi dalam negeri tangguh. Namun, melihat beberapa faktor yang terjadi saat ini, sangat mustahil harapan itu dipenuhi. Apalagi pemerintah saat ini masih disibukkan dengan cara mencari dana segar untuk membayar hutang.

Tak heran, pemerintah terkesan tidak berdaya ketika tenaga kerja asing menyerbu Indonesia kendati spesifikasi di lapangan seharusnya bisa di-handle tenaga kerja lokal. Termasuk fenomena buruh asal Cina akhir-akhir ini. Serbuan dari utara ini menjadi warning bahwa tawaran investasi juga diikuti rencana lain manfaatkan kelemahan Indonesia.

KADIN Jawa Timur mencatat, ada beberapa problem ketenagakerjaan di Indonesia saat ini. Di antaranya, tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah. Struktur pendidikan angkatan kerja di Indonesia masih didominasi pendidikan dasar, yaitu sekitar 63,2 persen. Data BKSP bahkan menunjukkan, tenaga kerja lulusan SD pada tahun 2017 mencapai 10,60 juta orang. Jumlah ini lebih dari 50 persen jumlah angkatan kerja di Jawa Timur (20,62 juta tenaga kerja).

Sisanya terdiri dari lulusan SMP dan SMA masing-masing mencapai 3,54 juta dan 2,71 juta tenaga kerja, SMK 2,06 juta tenaga kerja. Sedangkan lulusan Diploma dan Perguruan Tinggi hanya sejumlah 1,69 juta jiwa. Padahal jika kesempatan kerja minim, jumlah itu akan bertambah pada 2018 yang diprediksi mencapai 20,78 juta jiwa (10,58 juta di antaranya lulusan SD).

Data ini tentu ironis. Jika produksi jadi target utama, setiap perusahaan tentu butuh SDM yang memiliki kompetensi tinggi (knowledge, attitude dan skill). Dengan rendahnya tingkat pendidikan tenaga kerja, maka perusahaan harus mengeluarkan biaya lagi untuk melatih ulang lulusan pendidikan formal.

Dalam hal inilah, dual system bisa jadi pertimbangan. Apalagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur akan meningkatkan rasio tenaga kerja lulusan SMK. Pada 2010, rasio tenaga kerja lulusan  SMA berbanding SMK mencapai 46,52 berbanding  53,48. Targetnya, 2019 rasio SMA dengan SMK menjadi 30 berbanding 70. Hal ini untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja siap pakai industri di Jawa Timur yang pada 2016, mencapai sekitar 813.140 unit usaha dari berbagai sektor.

Seperti dari industri logam, mesin, tekstil dan aneka (ILMTA), industri agro, industri alat transportasi, elektronika, dan telematika dengan nilai investasi sebesar Rp67,99 triliun dan dengan nilai produksi Rp 215,149 triliun. Setidaknya, dari jumlah unit usaha ini bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 3.163.511 jiwa.

Bagi Jawa Timur, memang sangat diperlukan optimalisasi serapan tenaga kerja. Sebagai salah satu provinsi yang tercatat angka kemiskinan masih tinggi secara nasional, pelaku industri memang wajib menyisihkan perhatiannya. Jangan sampai tutup mata dan hanya sekedar menguras potensi SDA dengan dalih sudah mengeluarkan investasi. Setidaknya, tenaga kerja lokal jangan sampai hanya sekedar jadi penonton di daerahnya sendiri dalam laju pertumbuhan ekonomi.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here