Black Campaign Ipong, Justru Menguntungkan Dirinya

0
77
Ipong Muchlissoni, makin tenar dengan goyangan Black Campaign

Nusantara.news, Surabaya – Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim yang akan digelar Juni 2018, tak terelakkan juga terbumbuhi munculnya black campaign alias kampanye hitam. Termasuk menimpa Ipong Muchlissoni, Bupati Ponorogo yang namanya terus disebut-sebut layak untuk mendampingi Khofifah Indar Parawansa sebagai bakal wakilnya. Melihat itu, pengamat politik dan pemerintahan dari Universitas Trunojoyo (Unijoyo) Bangkalan, Surokhim menyebut justru banyak hal menguntungkan Ipong, jika benar itu terjadi.

Masih dikaitkannya jabatan sebagai Bupati Ponorogo, Ipong justru akan banyak menuai simpati dari masyarakat pemilih. Surokhim yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik itu melihat latar budaya pemilih Jawa. Disebutkan, jika ada nama yang semakin dikuyo-kuyo atau dihujat biasanya akan memperoleh efek mellow yang tinggi dari para pemilik suara, khususnya yang memiliki hak pilih di Pilgub Jatim.

Baca Juga: Bupati Ponorogo Digadang Jadi Wakil Khofifah

Dikatakan, politik saat ini hight context culture. Jadi sebenarnya semakin dikuyo-kuyo akan semakin meningkatkan empati dan simpati dari para pemilih. Dalam berbagai momentum politik justru politisi yang berada disituasi akan banyak diuntungkan. “Menurut pengamatan saya dengan melihat latar budaya pemilik Jawa, biasanya politisi bisa memanfaatkan momentum itu justru akan meningkat popularitasnya, asal tidak berlebihan bisa memanfaatkan kesempatan,’’ tegasnya.

Apalagi, kalau kandidat yang diperlakukan itu menjadi media darling, dipastikan akan cepat naiknya. Menurut Surokhim, Ipong harus bisa memanfaatkan momentum itu untuk mengerakkan popularitas dan selalu terlihat tangguh dan dan memiliki reposisi branding sebagai calon pemimpin untuk masyarakat Jatim yang tangguh dan tidak mudah menyerah. Apa pun efek politiknya jika bisa dikelola dengan baik maka akan bisa menjadi media komunikasi politik.

Ipong dan Emil Memiliki Kelebihan

Ipong dan Emil Dardak dinilai memiliki kelebihan

Masih terkait munculnya kedua nama yang terus menguat, disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk mendampingi Khofifah, maju di Pilgub Jatim. Konsultan Politik Bangun Indonesia, Agus Mahfudz Fauzi menyebut antara Ipong dan Emil Dardak keduanya masing-masing memiliki kelebihan. Ipong yang juga sebagai santri, disebutkan memiliki banyak pengaruh di Mataraman. Tak kalah penting, lelaki asal Lamongan itu memiliki modal besar, namanya yang populer dan banyak dikenal juga oleh kaum milenial. Selain, dirinya juga dikenal sebagai pengusaha sukses. Ipong, sejak muda dan aktif di kampus juga dikenal memiliki banyak kegiatan dan termasuk pemuda yang menonjol dan berprestasi.

‘’Kepribadian Ipong sangat menarik. Di mana dia terpilih sebagai Bupati Ponorogo bukan karena partai. Namun semuanya adalah karena figur dirinya yang memiliki kedekatan dengan rakyat di wilayah itu. Disisi lain Ipong juga memiliki kemampuan komunikasi dengan para elit politik di Jakarta dan cukup kuat,” terang Agus.

Itu bisa dilihat dengan banyaknya bantuan dari pusat yang kemudian oleh Ipong dimanfaatkan untuk daerah yang dipimpinnya. Perkembangan dan kemajuan pembangunan di Kabupaten Ponorogo itu bisa dilihat sebagai wujud atau hasil kerja serius yang dilakukan oleh Ipong.

“Lihat saja perkembangan Ponorogo juga pesat, itu tak lepas dari kepiawaian Ipong, dalam menjalankan tugas mengawal pembangunan,’’ungkap Agus yang juga mantan Komisioner KPU Jatim itu.

Menurutnya, tidak heran jika Khofifah yang juga Menteri Sosial itu melirik alumni Universitas Mulawarman tersebut sebagai kandidat yang digadang untuk mendampingi dirinya, sebagai bakal calon wakil gubernur.

Penilaian terhadap Ipong yang oleh banyak pihak dinilai sangat tepat untuk maju menjadi ‘Jatim Dua’ alias bakal calon Wakil Gubernur Jatim karena, selain menguasai wilayah kultur Mataramana, juga tergolong santri NU tulen. Masih menurut Agus, dia menyebut Ipong sebagai putra daerah memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh calon lain.

Baca Juga: Terkuak Nama Emil dan Ipong, Cawagub Mataraman Siap-siap Deklarasi

Itulah istimewanya Ipong, dia kader NU yang cerdas, memiliki komunikasi yang baik dengan elemen di bawah termasuk dengan masyarakat kultur masyarakat di Mataraman.

“Itulah Ipong, kehebatannya itu tidak dimiliki oleh nama lain,” terang dosen Ilmu Sosial dan Politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.
Untuk diketahui, selain nama Ipong yang diharapkan bisa mendampingi Khofifah. Sosok termasuk dari kalangan muda yang juga muncul dan ramai dibicarakan adalah Emil Elistyanto Dardak. Suami Arumi Bachsin itu, disebut sebagai sosok muda yang layak menjadi pendamping Khofifah untuk memenangi Pilgub Jatim. Kekuatan pasangan Khofifah-Emil, digadang akan menumbangkan pasangan Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas yang hanya diusung oleh PKB dan PDI Perjuangan. Bahkan, ada yang menyebut pasangan di Pilkada utamanya yang diusung partai Kepala Banteng moncong putih itu tidak akan unggul di Pilgub Jatim.

Gebrakan Ipong Saat Maju Pilbup Ponorogo

Prediksi Peta Suara Pemilih di Jatim

Kontrak Politik Rp300 juta rer desa per tahun menjadi gebrakan Ipong saat maju sebagai kandidat bakal calon Bupati Ponorogo 2015 lalu. Saat itu, Ipong tampak jeli, dengan merespons keluhan mayoritas rakyatnya termasuk soal kerusakan jalan-jalan poros desa dan lintas kecamatan, dan dilakukannya programtaktis.

Melalui program itu, dianggarkan dana khusus perbaikan jalan desa sebesar Rp300 juta per desa per tahun. Dan, Ipong tidak main-main karena berani kontrak politik dengan pertaruhan besar, yakni bersedia mundur dari jabatan bupati.

Kontrak politik dilakukan secara simbolis antara Ipong dengan Supriyanto, Kepala Dusun Poko, Desa Poko, Kecamatan Jambon, di depan ribuan tokoh masyarakat di Gedung Graha Nirwana. Sekitar 1300 Kepala Dusun (Kasun) se Kabupaten Ponorogo turut menyaksikan penandatangan kontrak politik Ipong.
Dalam kontrak itu diatur, jika Ipong menjadi Bupati Ponorogo dan dua tahun setelah berwenang menyusun Rancangan APBD tidak berhasil mengalokasikan dana khusus perbaikan jalan sebesar Rp300 juta per desa per tahun, dia akan mundur dari jabatannya. Program khusus itu di luar anggaran yang sudah ada dalam ketentuan peraturan yang berlaku saat ini, seperti anggaran Rp 1 milyar per desa dan sebagainya.

“Untuk apa saya jadi Bupati kalau tidak bisa berbuat untuk kepentingan masyarakat? Lebih baik saya mundur,” kata Ipong saat itu.

Pengusaha sukses itu menguraikan, program anggaran khusus Rp300 juta per desa sangat masuk akal. Menurutnya, dengan jumlah desa di Ponorogo sekitar 300, bila dikalikan Rp300 juta, maka total kebutuhan dana sekitar Rp90 miliar. Dengan mengevaluasi program dan kegiatan Pemkab Ponorogo selama ini, maka penyediaan dana Rp90 miliar setahun sangat realitis.

Ipong menuturkan, dalam konsepnya sementara, anggaran khusus perbaikan jalan desa akan ditransfer ke pemerintah desa, untuk dikelola sesuai peruntukan program, dengan model padat karya. Tata cara pelaksanaan dan penggunaannya akan diatur dengan peraturan yang sah sebagai payung hukum.
Dengan pola itu, masyarakat bersama pemerintah desa bisa menentukan bentuk perbaikan jalan yang efektif dan efisien berdasarkan kondisi masing-masing desa. Berupa cor beton atau rabat, paving blok atau jenis lain, masyarakat desa diberi kesempatan agar terlibat dalam proses perencanaan.

Baca Juga: Pilgub Jatim, Perang Paregreg dan Ancaman Kekuatan Asing

Sebelum penandatanganan kontrak, Ipong mengupas berbagai persoalan, faktor penghambat dan potensi Ponorogo, yang harus disikapi melalui kebijakan publik yang lebih baik ke depannya. Dalam acara itu, Ipong didampingi Ketua DPC Partai Gerindra Ponorogo Supriyanto dan Ketua DPD PPP Ponorogo Ahmad Sutiyo.

Ipong menyampaikan, persentase kerusakan jalan-jalan poros desa di Ponorogo mencapai lebih dari 50 persen. Dia menyatakan akan membangun manajemen dan sistem pengelolaan jalan di Ponorogo yang mampu menjawab kebutuhan secara cepat dan berkelanjutan. Di antaranya, perlu ada perangkat online untuk alat kontrol bagi Bupati, serta gugus tugas khusus perbaikan jalan rusak, semacam Mandor Jalan. Jika ada kerusakan jalan, mandor segera bergerak, agar kerusakan tidak semakin parah.

Sedangkan untuk perangkat online, antara lain memuat peta jalan yang rusak, yang bagus, termasuk media yang mampu menjadi tempat mengadu bagi rakyat.

“Misalnya dengan hand phone, rakyat bisa memotret jalan rusak di kampungnya, lalu mengirim ke perangkat online itu. Nah, bupatinya kemudian melihat dan tinggal menegur Kadesnya, cepat diatasi. Kalau nggak ada cara seperti itu, mungkin Bupati nggak pernah tahu keadaan jalan desa seperti apa,” ujar Ipong, saat itu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here