Blok Migas Masela Terbesar Kedua di Dunia: AS Incar SDA Indonesia Timur?

0
184

Nusantara.news, Jakarta – Setelah berbagai pertimbangan yang matang, akhirnya Blok Masela diputuskan pembangungan kilang minyak dan gasnya di darat oleh Presiden Jokowi. Sebelumnya, terjadi silang pendapat, apakah di darat (on shore) atau di laut (offshore), terkait masalah besaran biaya juga soal multiplier effect terhadap kehidupan sosial masyarakat setempat. Banyak manfaat jika pembangunan kilang dilakukan di darat. Manfaat langsung yang diterima ialah besarnya pendapatan yang diterima ketimbang jika dibangun di laut.

Blok Masela merupakan kawasan kilang minyak dan gas yang terletak di lepas pantai Laut Arafuru, Maluku, sekitar 155 kilometer (km) arah barat daya Kota Saumlaki yang berbatasan langsung dengan Australia dan Timor Leste. Dari Pulau Selaru, jarak Blok Masela hanya 90 km, atau 120 km dari Pulau Masela, atau 150 km dari Kepulauan Taniban.

Beberapa pengamat mengatakan, merupakan hal yang tepat Jokowi mengambil keputusan untuk memilih pembangunan kilang Blok Masela di darat. Stereotype yang selama ini berkembang bahwa pengelolaan sumber daya alam lebih menguntungkan investor, terbantahkan sudah. Sebab, keputusan tersebut lebih mempertimbangkan kemakmuran rakyat di daerah Maluku. Inilah saatnya untuk mengubah stereotype itu.

Blok Masela merupakan sumur gas abadi terbesar di Asia dan nomor dua di dunia. Untuk itu, pemerintah bisa leluasa melakukan negosiasi dengan investor yang memiliki uang dan teknologi, tetapi sumber ladang gas Blok Masela merupakan milik negara dan rakyat di Maluku yang menjadi Blok Masela. Negosiasi dengan investor tambang juga dilakukan di negara lain seperti Malaysia, Amerika Latin serta Afrika dan di dalam melakukan negosiasi, pemerintah mengedepankan unsur nasionalisasi sumber daya alam.

Peran Blok Masela sangat strategis mengingat tantangan ekonomi dan energi nasional semakin berat dengan turunnya produksi minyak, naiknya impor minyak, kurangnya pemanfaatan gas untuk industri petrokimia sehingga membuat tingginya impor produk-produk petrokimia, defisit pasokan listrik khususnya di Indonesia bagian timur. Ketika harga minyak rendah, maka haga ekspor LNG menjadi rendah yang menyebabkan berkurangnya pendapatan negara dari sektor migas.

Kondisi ini, menurut Nono Sampono anggota DPD RO Dapil Maluku, membuat pemanfaatan gas bumi tidak hanya dijadikan sumber revenue tetapi juga berperan sebagai penggerak ekonomi nasional dan wilayah. Menurut Nono, di tahun 2007 seharusnya keputusan pengelolaan Blok Masela sudah bisa dilakukan, tetapi tertunda terus.

Waktu itu, yang menjadi permasalahan adalah terjadi dua opsi pengelolaan Blok Masela mealui pipa ke pulau (pipanisasi) atau floating (terapung) di laut. Menteri ESDM Sudirman Said dan SKK Migas menghendaki floating di laut, sedangkan sebagian besar masyarakat Maluku dan komponen masyarakat Maluku serta Menko Kemaritiman dan Sumber daya melihat lebih tepat pembangunan kilang LNG di darat.

Nono Sampono mengatakan, dari pengalaman, hingga saat ini belum ada kilang LNG floating yang sudah beroperasi di dunia. tingkat keberhasilan kilang LNG floating masih diragukan, dan seluruh dunia saat ini menggunakan pipa. Bentangan pipa untuk pembangunan kilang LNG Blok Masela di darat bisa ditempatkan di Pulau Selaru yang secara teknis asih lebih pendek dari yag ada di Aljazair, Rusia, UK dan USA. Jalur pipa gas melewati palung sedalam 1500 meter dengan pipa ukuran 24 inch sepanjang 120 km yang bisa menyalurkan gas sekitar 1.200 juta kaki kubik per hari.

Bandingkan dengan pipa gas bawah laut di Aljazair yang dibangun tahun 2010 dengan pipa 24 inchi sepanjang 210 km dan kedalaman laut 2.150 km yang bisa mengalirkan volumengas sebesar 774 juta kaki kubik per hari. Begitu pula jalur pipa gas bawah laut di Rusia yang dibangun pada 2005 dengan ukuran pipa 47 inch sepanjang 400 km di kedalaman 2.200 meter yang bisa menyalurkan gas 1.550 juta kaki kubik per hari.

Secara geoekonomi, Blok Masela dipandang sebagai kawasan cekungan migas yang strategis bagi negara-negara seperti Australia, Amerika, dan Inggris. Negara-negara tersebut memang sedang mengincar wilayah-wilayah Nusantara yang banyak mengandung migas dan mineral. Dan secara geopolitik, mereka giat sekali menancapkan pengaruhnya di Indonesia, di mana salah satu strateginya adalah memelihara para “komprador” yang bisa memengaruhi kebijakan dalam bentuk regulasi migas yang berpihak kepada asing.

Eranya saat ini, negara-negara Barat memokuskan dirinya ke wilayah Indonesia bagian timur setelah diketahui begitu banyak menyimpan cadangan migas, mineral, emas, perak dan tembaga, bahkan hingga uranium, yang diawali penemuan gunung Ertsberg dan Grasberg oleh Freeport di Papua.

Dugaan publik semakin kuat, dengan adanya pemusatan kekuatan di pangkalan militer AS di Darwin, bukan hanya soal sumber daya migas dan mineral yang ada di Papua, tetapi juga meliputi kawasan Blok Masela di Laut Arafuru, Maluku. Bisa jadi, Australia yang selama ini ‘ngebet’ dengan kawasan Blok Masela akan ‘disatpami’ AS yang keberadaannya selama ini juga untuk membekingi Freeport di Papua.

dalam sudut pandang geostrategis, itulah mengapa kita mengetahui bahwa AS mengalihkan kekuatan militer angkatan lautnya ke Asia Pasifik dan disusul pula oleh ‘genitnya’ Tiongkok menebar modal di Indonesia, serta memecah-belah ASEAN. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here